Umar

Oleh: Muhlis Pasakai

images5Bukan Umar bin Khattab, bukan pula Umar bin Abdul Aziz, dua tokoh monumental yang dikenang dalam sepanjang sejarah kaum Muslimin.

Buku itu berjudul “Himpunan Hadist Teladan Sohih Muslim”. Aku membuka lembaran-lembaran tua itu untuk memperkaya literaturku. Di halaman terakhir kutemukan sebaris tulisan pena, “Buku ini pemberian Ust. Umar”. Memoriku segera meluncur pada sosok Imam Masjid Al Munawwarah yang menghadiahkan buku itu padaku belasan tahun yang lalu, sang Umar yang kukenal dengan keteguhan dan kesabarannya. Kenangan lain juga segera menyusul, sebuah buku tebal terjemahan “Nailul Authar” yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan tahun 1979 dan beberapa lembar majalah, peninggalan buku-buku yang sempat kudapatkan di rumah beliau seizin istrinya, sayang aku terlambat, beberapa kitab-kitab kontemporer yang dimilikinya telah habis dibagi oleh anak cucu dan keluarganya.

Saat kosa kata kematian melintas dibenakku, ada kerinduan pada sosok sang imam sebagaimana ia telah menyelesaikan perjalanannya hingga etape yang terakhir. Betapa tidak, ada jenis kematian yang rasanya menakutkan. Orang yang dahulunya taat beragama, karena imannya tidak memiliki daya tahan1, dapat berakhir menyedihkan, wana’uzubillah. Sakit yang berkepanjangan menjelang kematian, juga terkadang menyusahkan banyak orang, apalagi di usia lanjut. Begitu pun meninggalkan dunia secara normal, tua, sakit, lalu berakhir, atau masih energik tiba-tiba telah tiada, jadi korban kriminal atau laka lantas, pergi sebelum mengukir prestasi yang menggembirakan, persembahan terbaik seorang hamba kepada Tuhannya, minimal lukisan indah di kanvas niatnya.

Jika syahid di medan pertempuran sebagai dzarwatu sanami2 (puncaknya Islam) belum dapat ditunaikan, rasanya layak merindukan kepergian seperti yang telah dilalui oleh sang Umar, kendati tak seorang pun di dunia ini yang menggaransi syurga padanya, tapi setidaknya menghukumi zhahirnya.

Menurut ceritera yang mutawatir, ia tidaklah dilahirkan dari keluarga ulama, taat beragama, atau dari kalangan santri, bahkan ayahnya dikenal sebagai pemabuk, tukang judi dan sebagainya. Sekalipun lahir dari seorang bapak seperti itu, ia sendiri tidak pernah meninggalkan cerita yang serupa. Ia telah menempuh jalan hidupnya dengan menjadi seorang guru agama.

Dalam daftar orang-orang yang kukenal, sosok Umar hadir sekitar tahun 2000an. Seorang yang dikenal taat beribadah yang baru berdomisili dikampungku, belum sebagai imam masjid pada saat itu.

Dari cemoohan, kata-kata kasar, hingga keterasingan telah didapatkannya. Seorang imam yang tahu persis tentang tuntunan sifat-sifat shalat Nabi, tentu sangat tuma’ninah dan bacaan yang ditartil, menjadikan shalat terasa lama oleh sebagian orang. Puncaknya jika bulan ramadhan tiba, kecenderungan orang untuk tidak kuat berlama-lama dalam shalat tarwih dan tak betah mendengar ceramah karena rasa kantuk, mengundang banyak keluhan. Dalam momentum bulan ramadhan pula, sebuah peristiwa yang semakin menunjukkan kesabaran seorang Umar, tatkala ucapan tak pantas diucapkan seorang tokoh di dalam Masjid saat ia sedang diatas mimbar, tapi ia tak pernah menanggapinya dengan emosional. Ceramah yang materinya sering berulang juga menjadi bahan celaan baginya. Bacaan ayat-ayat Al Qur’an yang dilupakannya dalam shalat, juga menjadi bahan olokan. Kisah-kisah yang terkesan hiperbolis yang diangkatnya sering menjadi bahan tertawaan. Terkadang pelesetan yang menyinggung pun tak urung dilayangkan padanya.

Terhitung hingga hari ini, sang Umar telah bertahun-tahun mensyiarkan Islam ditengah-tengah kebanyakan masyarakat yang kontra dengan seruan-seruan itu. Pahit madunya menjadi seorang imam tentu telah dikecapnya. Yang pasti, masjid yang kini ditinggalkannya terbilang lebih makmur dengan jamaah dibandingkan sebelum kehadirannya. Hari ini, dan hari-hari sebelum ia pergi, ada kegembiraan melihat masjid kecil yang bertahun-tahun dipimpinnya, gairah masyarakat untuk berjamaah mulai bangkit, begitupula remaja dan anak-anak.

Banyak hal yang kukenang darinya, terutama sikapnya yang terbuka untuk berdiskusi secara ilmiah, sering dalam beberapa hal aku harus berdiskusi singkat selepas shalat berjamaah, setelah jamaah yang lain meninggalkan masjid. Begitupula setelah aku menyelesaikan pendidikan, saat aku kembali mengabdi di kampung halaman, beliaulah yang pertama kali memberikan amanah kepadaku untuk membawakan khutbah jum’at di masjid itu, sekaligus menjadi momen pertamaku berdiri di mimbar jumat.

Beberapa hari sebelum ia meninggal dunia, setiap mengimami shalat subuh, terkadang ia harus berhenti ditengah-tengah bacaan ayat-ayat Al Qur’an yang dibacanya, disebabkan oleh tangisan yang tak kuat ditahannya, mengingatkan pada seorang yang juga bernama Umar, sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab dan tangisannya, radiyallahu ‘anhu.

Sore itu, sosok Umar bin Khattab semakin teringat olehnya, para makmum yang akan ikut shalat berjamaah dirapikan dengan tegas, namun ternyata itulah kesempatan terakhirnya mengimami shalat kami. Ketika kabar kematiannya sampai kepadaku, aku mengira telah terjadi kecelakaan padanya, sebab baru beberapa menit yang lalu berpisah dengannya, ia sehat dan berlagak seperti biasa, tapi tidak, ia memang telah pergi, tanpa sakit dan tanpa benturan apapun. Memang, baru saja, sebab sarung yang melilit dipinggangnya pun adalah yang masih dipakai shalat bersama kami baru saja. Innaa Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun, selamat jalan sang imam, semoga Allah membalas kesabaran dan perjuanganmu.

Saat generasi hari ini berlomba-lomba mewujudkan angan-angan dan cita-citanya, pernahkah mereka bertanya, ingin menghentikan langkahnya sebagai apa dipenghujung hidupnya?. Banyak harapan dan pencapaian yang digarap saat usia sedang mendaki, tapi ujung-ujungnya akan melandai, dan akhirnya berhenti sama sekali. Lalu, hanya sampai disitu?. Memang tidak semua orang dapat menjadi Soekarno, Jenderal Sudirman, Natsir dan lain-lain yang bisa meninggalkan nama yang besar, tapi semua orang dapat meninggalkan karya dan kenangan.

Jika orang berlomba-lomba untuk mencatatkan namanya di parlemen sebagai bagian dari agenda sejarah dirinya untuk ikut berkontribusi memberikan perubahan, lalu adakah yang bercita-cita menjadi bagian dari lokomotif perjuangan di negeri ini melalui saf terdepan dalam shalat (Imam Masjid)?.

Mungkin tidak semua orang seperti Umar, yang awal dan perjalanan hidup dan karirnya dimedan yang korelatif dengan karya akhirnya sebagai imam masjid. Masa lalu tidak semua cemerlang, tapi masa depan tidak boleh disandara oleh masa lalu yang kelam, tepat jika kita sering mendengarkan kutipan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah العبرة بكمال النهاية وليس بنقص البداية(Yang menjadi pelajaran adalah kesempurnaan pada bagian akhirnya, bukan kekurangan pada bagian awalnya-terjemahan bebas).

Menjadi imam masjid memang sepertinya kurang bergengsi bagi generasi di zaman ini, selain tidak menjanjikan kemapanan finansial sebagaimana pensiunan PNS, juga kurang power dalam kancah intelektual dan sosio-politik. Karena itulah, dalam momentum tulisan singkat ini, perjuangan ummat harus dikembalikan ke hulu ledaknya, yaitu Masjid. Para Imam Masjid di negeri ini, bahkan di pentas internasional dapat memiliki pengaruh dan kekuatan yang besar jika diorganisir dengan cerdas. Oleh karena itu, generasi muda hari ini harus mencita-citakan untuk mengukir prestasi yang gemilang untuk menancapkan agenda pergerakan lewat menara masjid, menjadi calon-calon imam masjid yang dapat memberikan citra dan realitas yang cerdas dan berwibawa, sehingga generasi berikutnya tidak inferior untuk mencita-citakan menjadi seorang imam masjid.

Disanalah masyarakat berkumpul, minimal sekali sepekan. Disanalah mobilisasi gerakan dapat dilancarkan, pembakaran energi dan enlightenment. Melalui kerja yang rapi, di masjid itulah akan dipabrik keturunan-keturunan ideologis Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel dan Salahuddin al Ayyubi sang perebut Al Aqsa.

Jika masjid harus dibebaskan dari areal politik, itu hanya upaya terorganisir yang dibungkus embel-embel reformasi agar Islam tidak memiliki kekuatan integrasi. Yang harus disterilkan dari masjid adalah akses politik praktis yang pragmatis. Tapi peran visioner, bahkan dalam menggulingkan sistem yang rusak dapat digerakkan oleh civitas masjid yang terorganisir integral.

Generasi hari ini harus mengunci target yang besar, sebuah cita-cita menjadikan masjid sebagai center of change movement. Aamiin yaa Rabb.

Semoga menginspirasi, الله أعلم

 

Lapik peristirahatan-Sinjai, Jumada at-Tsani 1435 H./ April 2014 Miladiyah.

 

1    Setiap yang mengaku beriman akan mendapatkan ujian, أحسب الناس أنيتركوا أن يقولوا ءامنا وهم لايفتنونApakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? (al Ankabuut:2)

2    Hadits: (رأس اﻷمر اﻹسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد (رواه الترمذي(Pokok amal adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad)

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: