Ponder dan Jargon-jargonnya

PONDEROleh: Uban Pamungkas

Jargon atau slogan merupakan sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sebuah kelompok organisme atau individu. Slogan-slogan itu merupakan bahasa yang dapat mencerminkan pemiliknya. Bahkan, dapat menjadi artileri dalam sebuah pergerakan. Semboyan-semboyan dapat menjadi rantai sejarah dalam sebuah fase kehidupan, entah itu namanya akronim, peribahasa, pepatah, adagium atau berbagai tirisan kosa kata yang mengandung makna, kendati sampai hari ini penulis belum pernah menemukan buku yang secara khusus menyajikan hal tersebut. Oleh karena itu, menarik sekiranya ada yang berminat melakukan studi sejarah tentang sebuah bangsa, organisasi, atau paguyuban bersama slogan-slogan trademarknya itu. Sebagai contoh: ing madya mangun karsa, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, ubi societas ibi justicia, mali siparappe rebba sipatokkong hingga istilah-istilah ofensif seperti Manikebu dan sebagainya. Adakah hasil studi yang mengurai asal muasal, maksud dan semangat yang dibawa rentetan kata-kata itu serta kaitannya dengan kondisi sosial dan geo-politik.?

Tulisan ini tentu saja bukan untuk menjawab pertanyaan diatas. Tulisan ini tak lebih dari sebuah obat kerinduan, kerinduan penulis pada masa lalu bersama para sahabat mahasiswa di sebuah pondok tua, Ponder, sebagaimana judulnya. Terlebih, setiap kali komunikasi terjalin dengan para sahabat lama itu, istilah-istilah populer itu selalu dihidup-hidupkan, bahkan perang SMS terkadang isinya hanya slogan-slogan itu, yang satunya mengirim istilah itu saja tanpa ada kata-kata selainnya yang dibalas dengan istilah lainnya lagi tanpa tambahan kata-kata pula.

Tulisan ini juga tidak menyajikan sebuah jargon historis yang sarat dengan politik dan isu pergerakan sebagaimana yang dimaksud pada paragraf pertama. Istilah-istilah kecil yang ada dalam tulisan ini hanyalah sebuah motif kelakar, tapi sebenarnya memiliki arti yang besar setidaknya menjadi pelumas dalam memelihara persahabatan agar senantiasa lancar dan berestetika.

Apa saja slogan atau istilah-istilah itu?

“Tusuk-tusuk”. Nah, jangan pigmen1 dulu, kata berulang “tusuk-tusuk” ini dialamatkan pada bakso tusuk. Entah siapa yang memulai, istilah ini lalu sangat populer. Biasanya tukang bakso tusuk keliling ini mengayuh sepedanya pada sore hari. Setiap mendengarkan kedatangannya, para Ponderer sontak menyahut, “tusuk-tusuk”. Walaupun istilah ini tidak disubtitusi untuk menyebut sesuatu diluar bakso tusuk itu, tapi paling populer, setidaknya setiap Ponderer lapar, ia akan menyebut “tusuk-tusuk”. Penulis terkadang menerima atau mengirim pesan singkat dari sahabat-sahabat di Ponder itu yang hanya berisi “tusuk-tusuk” hehehee……Walaupun sesingkat itu, sapaan akrab itu terasa memeluk jantung. Hahahaa….

“Turun berok”. Kalau yang ini dari namanya saja sudah jelas, nama penyakit, tapi tidak ada yang turun berok di Ponder. Entah kenapa istilah yang dipopulerkan oleh Jemba-jemba2 ini tiba-tiba diterima secara konsensus, hahaaa….akhirnya menjadi istilah harian. Biasanya diperuntukkan bagi siapa saja yang sakit, kecapean, atau kalah main game atau dialamatkan kepada siapa saja yang hendak dimaki-maki.

 “Nakira kapang”. Istilah ini biasanya ditujukan pada siapa saja atau apa saja yang dianggap memandang enteng. Setelah berhasil memecahkan sebuah masalah, perkataan ini biasanya dilontarkan sebagai bentuk kemenangan telak.

 “Sampai hang”. Istilah komputer ini biasanya digunakan pada orang yang makan, tidur, atau berbagai macam aktifitas yang akan mencapai puncaknya, termasuk pada komputer itu sendiri. Misalnya ketika ada makanan yang banyak, maka biasanya orang dipersilakan makan sampai hang, hahaaa…

“Mauko lari kemana?”. Ini adalah istilah andalan penulis sendiri. Ucapan ini dimaksudkan untuk tidak berputus asa dan optimis untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan yang terasa berat atau susah. Mauko lari kemana biasanya ditujukan pada siapa saja atau apa saja sebagai sebuah ucapan penaklukan bahwa tak ada yang tak dapat dikejar dan dituntaskan.

 “Tidak konek DMSIPnya”. Lagi lagi, istilah ini tidak terlepas dari peran Jemba-jemba, namun penulis tidak ingat persis siapa yang mempopulerkan. Lahirnya istilah ini berawal dari sebuah pelatihan pemrograman visual Delphi khusus untuk kalangan Ponder. Jemba-jemba dalam hal ini sebagai orang yang piawai dalam bahasa pemrograman bertindak sebagai instruktur. Dalam kesempatan itu muncul sebuah masalah, yaitu program tidak dapat dieksekusi, setelah diperiksa dengan teliti ternyata databasenya yang diberi nama DMSIP belum disetting koneksinya. Dari sinilah ketika ada sebuah problem sehari-hari yang belum terpecahkan selalu dikatakan “belum konek DMSIPnya”, walaupun masalah itu sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia komputer.

 “Turun derajatnya”. Kali ini istilah yang terkesan kastais. Sekali lagi, istilah yang lahir dari Jemba-jemba, hahahaa… Di Ponder, setelah proses perkuliahan selesai, rasa haus selalu diobati dengan sebongkah es batu yang dicairkan bersama air galon. Es batu itu dibeli di salah satu toko yang tidak jauh dari Ponder, tugas ini sudah dimandataris secara de fakto kepadaNugi3. Suatu hari, si Nugi ini belum tiba di Ponder, sementara yang lain semua dalam kehausan, akhirnya sang instrukturlah yang dimintai tolong untuk membeli es batu itu, soalnya dia yang paling dekat dengan tangga, hahaha…., akhirnya ia pun patuh, namun dengan bahasa “turun derajatku”, wajar saja karena selama ini ia sebagai instruktur yang mengajari para anak-anak Ponder dan dihormati ilmunya, Hahaha…….Selanjutnya, setiap ada perintah yang ditujukan kepada siapa saja, selalu dibalas dengan “turun derajatku”. Orang yang diperintah melakukan sesuatu pun selalu dialamatkan kepadanya bahasa “turun derajatnya”.

 “Jagomikah?”. Kalimat tanya ini berawal dari arena stick, permainan winning eleven. Sering dilontarkan pada saat seseorang menantang. Digunakan sebagai bentuk pertanyaan yang agak meremehkan, seakan-akan rugi untuk meladeni jika belum jago. Akhirnya, semua aktifitas yang mengandung kontestasi selalu diawali pertanyaan “jagomikah?”, khususnya ketika permainan futsal direncanakan.

 “Latihan-latihan saja dulu”. Istilah ini sekandung dengan istilah sebelumnya, arena kelahirannya adalah permainan game. Jemba-jemba kembali sebagai pencetusnya. Orang-orang senang menantang sang instruktur itu ketika sedang sibuk mengerjakan atau dalam sebuah urusan. Sebagai bentuk perlawanan agar tidak disebut menyerah, ialah dengan memandang enteng dengan perkataan itu, seakan-akan percuma saja melayani karena belum hebat, oleh karena itu ia meminta agar sang penantang itu latihan terlebih dahulu, hahahaaa….. Seperti saudara kandung istilah ini, semua bentuk kontestatif berikutnya selalu memandang enteng orang dengan mengatakan, “latihan-latihan saja dulu”.

 “Martabak Holland”. Malam itu penulis baru saja membeli sendal galang eiger ditemani salah seorang sahabat di Ponder. Biasa, di Ponder tidak pernah sepi, rasanya nikmat jika ada makanan yang diborongi, sayang malam itu salah seorang sahabat pulang lebih awal, untungnya bertemu di jalan. Sebagai bentuk keakraban di Ponder, di jalan pun tak masalah martabak itu dibagi, walaupun dengan mulut berasap dan minyak gorengnya yang masih bisa bikin tangan melepuh hahaaa…. Hari-hari berikutnya ketika kosa kata makanan direncanakan atau berkaitan dengan aktifitas makan, misalnya enaknya makan apa ya?, selalu dimunculkan nama “Martabak Holland”, walaupun sampai hari ini belum pernah kedua kalinya menikmati martabak itu di Ponder, namanya juga cuma istilah, hehehe….. mahal juga sih soalnya. Hehehe…

 Selain daftar diatas, masih banyak kosa kata lain yang sering dipelesetkan di Ponder, seperti sepatu pemotong rumput, kanker rahim, booking, compile, success, hitam manis, sakit pantatnya, puo-puo, bordir, pisang kipas dan lain-lain.

Rasanya susah memisahkan hidup ini dari istilah-istilah yang muncul dari hasil interaksi. Peranannya pun terkadang tak kalah menariknya, sebab bisa menjadi bahasa provokasi. Mungkin itulah kenapa partai-partai di negeri ini pun sarat dengan jargon-jargon. Terlepas dari itu semua, sebuah peristilahan dapat disalah artikan jika tidak merujuk pada sumber atau mainstreem kelahiran istilah-istilah itu. Begitu pula dengan sumber ajaran sebuah agama, penafsiran terhadap pesan-pesan leksikalnya dapat kesasar ketika tidak merujuk pada otoritas sumbernya. Contoh kalau ada, Al Qur’an kok ditafsir pake cara orientalis, yang bener ajee…!!

Semoga tulisan ini menyegarkan kembali dan memantapkan persaudaraan para ponderer, serta bermanfaat bagi para pembaca secara umum. الله أعلم

 

Sinjai, Jumada at-Tsani 1435 H./ April 2014 M.

 

1    Pigmen: Pikiran Negatif Mendominasi

2    Di Ponder semua nama asli dirombak, Jemba-jemba itu nama aslinya Indra Hadi Pratama

3    Nugi, nama yang paling beruntung tidak diganti secara diametral. Walaupun sering juga dipanggil Budi Anduk

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: