Kentut Bombastis

kenOleh: Muhlis H. Pasakai

Bukan TI-A (1) jika tak ramai, kacau, ribut, hura-hura bawaannya. Aku banyak belajar tentang sebuah kehidupan darinya. Disinilah aku hidup dengan orang-orang yang berbeda karakter, berlainan keyakinan, dan kecenderungan serta identitas yang rupa-rupa.

Hidup di sebuah komunitas berwarna seperti ini sangat berharga mengajarkan kepada kita arti sebuah toleransi, namun sekaligus menguji keandalan konsistensi kita terhadap warna kita sendiri. Suasana pelangi seperti ini adalah hal baru dalam hidupku, sebab masa SMA belum seheterogen ini. Dibalik kemilau warna yang silau itu, kami dapat mewarnai satu permukaan yang dapat merangkul kami dalam kehangatan.

Slogan kebersamaan betul-betul kami selami. Kekompakan kami tak jarang mengusik orang lain. Betapa tidak, bukan hanya di waktu istirahat, diruang kuliah pun kami mengobral kelakar yang menjadi-jadi. Kami banyak memupuk soliditas itu dengan ngumpul-ngumpul, entah bikin acara, atau sekedar ngobrol dan bercanda habis-habisan. Salah satu episode perjalanan yang kami tempuh adalah touring ke Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba Sul-Sel.

Perjalanan seperti ini adalah agenda yang selalu kami rencanakan pasca ujian semester. Sekalipun kali ini persiapan belum mapan, waktu yang telah tiba segera meringkuk kami dalam kemufakatan. Pokoknya berangkat, soal lain-lain tiba masa tiba akal. Senjata ampuh yang kami andalkan adalah si tuan rumah, salah seorang dari kami adalah warga Kabupaten Bulukumba, dan betul dirumahnyalah kami menginap saat tiba, keluarganya pulalah yang menanggung konsumsi kami, sebuah pengorbanan yang sulit kami lupakan.

Kami berangkat dihari para sopir angkot mogok untuk menjalankan aksi demonstrasi akibat kenaikan harga BBM. Karena kendaraan penumpang hari itu tak ada yang beroperasi, maka biaya angkot hari itu pun dibandrol setinggi-tingginya. Sekali nekat, tak boleh aral melintang, kami tak peduli pokoknya harus berangkat. Walaupun dengan kenaikan tarif angkot mendadak seenaknya, kendaraan yang kami tumpangi pun akhirnya tak dapat mengantarkan kami ke tujuan karena harus ditahan oleh para sopir angkot lainnya, untuk memaksa ikut bergabung dalam aksi mogok. Kami akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki sebelum akhirnya sampai di terminal Mallengkeri.

Setiba di Kabupaten Bulukumba, rasa haus kami segera disiram oleh suguhan es buah. Sambutan dari keluarga sahabat kami yang begitu berkesan. Kami pun mengantar matahari ke peraduannya sore itu dengan istirahat sambil bincang santai.

Saat malam tiba, kami menyusun rencana untuk keesokan harinya menuju lokasi pantai. Dengan bermodal dompet tipis, kami pun membuat perencanaan serampangan, kesimpulannya “pokoknya nanti besoklah kita kondisikan”. Malam yang tersisa dihabiskan dengan bermain game. Di sela-sela itulah malam yang pekat mulai melewati setengah perjalanannya tanpa terasa. Sebagian dari kami sudah membaringkan tubuh dengan bermacam gaya untuk saling mengganggu, sebagian lagi masih asyik dengan pertarungan winning eleven. Suasana dingin malam itu tiba-tiba beralih dari adu kelincahan memainkan stick ke pertandingan kentut. Mimpi yang mulai tersusun akhirnya bubar, gelak tawa yang tertahan akhirnya meledak. Semua hampir terlibat, kecuali aku seakan tak berdaya dipeluk dingin dan keletihan. Aku mencoba rileks tak menghiraukan kebisingan yang mengganggu malam itu. Ditengah-tengah perang mercon pantat itu, tiba-tiba perut kembungku mulai beraksi, aku akhirnya ikut ambil bagian dalam pertempuran itu. Sebuah bom atom menghantam Hiroshima malam itu, kentut bombastis yang kuluncurkan dari hulu ledak memusnahkan semua jenis kentut sebelumnya, memecahkan semua jenis aktivitas yang tersisa disambut tawa yang memporak porandakan. Kentut mega bass yang meruntuhkan keletihan malam itu sekaligus menggagalkan keinginan salah seorang sahabat kami meneguk segelas air putih yang sudah berada digenggamannya. Kentut yang fantastis itu sekaligus menjadi penutup acara malam itu.

Hajat menikmati keindahan Pantai Bira tak betah ingin kami tunaikan-penulis sendiri bukan untuk pertama kalinya kesini-, walaupun perjalanan dari rumah tempat kami menginap ke lokasi harus ditempuh dengan jarak yang jauh. Sebelum kami menemukan kendaraan, kami nekat untuk berjalan kaki menikmati suasana pagi disepanjang rute menuju lokasi, sebelum akhirnya kami diangkut oleh sebuah mobil pick up yang mengarah ke pantai.

Saat tiba di lokasi, materi pertama adalah diskusi, dimana kita akan menginap?, makan apa kita sebentar malam?, dan lain-lain. Sebagaimana prinsip awal kami, now is now, what next? Next time, akhirnya uang yang tersisa kami kumpulkan hampir seluruhnya untuk sewa penginapan, hanya menyisakan untuk transpor kembali ke Makassar. Setelah bernegosiasi dengan pemilik penginapan, rupanya kami harus menombok persiapan awal kami, sudahlah..sisa uang dikantong dikeluarkan lagi, soal nanti, nanti saja. Konsumsi sekali di siangnya kembali ditanggung keluarga sang tuan rumah, nasi dos yang dibekalkan dari rumah, entah dimana kami harus ngutang sekiranya semua konsumsi itu harus kami beli, untunglah keluarga sahabat kami rela berkorban. Keindahan pantai dan segala fasilitasnya akhirnya kami nikmati sepuasnya.

Malam kini berlabuh, kami menuju penginapan, walaupun sepi dan jauh tapi itulah yang dapat dijangkau dompet kami. Di penginapan sederhana inilah kami akan menanti pagi, menahan lapar dan dingin. Dikantongan tersisa sedikit makanan ringan, ada gula-gula, juga wafer, itulah yang kami cicipi berharap mampu menjanggal perut hingga tiba di Makassar keesokan harinya. Di penginapan ini pulalah mungkin untuk pertama kalinya aku mendirikan shalat menghadap ke timur, sebab malam yang tak dapat lagi kuperhatikan arah kiblat sejak aku berada diluar seharian.

Setelah menikmati suasana malam di pantai, saatnya kami terlelap, seorang dari kami sudah demam tinggi, sejak sore menggigil menahan sakit. Malam pun memeluk kami di penginapan yang mini itu. Sebelum menyatu dengan mimpi, tersisa mie instant di salah satu dos nasi, itulah yang kami bagi dan makan bersama, walau hanya sekedar satu dua kali suapan super irit. Untuk menahan dingin yang membalut malam itu, seprei kasur di tempat tidur kujadikan selimut. Sebutir vitamin C yang kukantongi kuberikan pada teman di tempat tidur sebelah untuk membantu daya tahan tubuhnya yang sedang menggigil demam.

Pagi-pagi kami bergegas, tak kuat lagi kami menahan lapar, fisik terasa sempoyongan, tak sabar ingin membuang badan di pembaringan. Kami pun akhirnya meninggalkan areal pantai, menuju Kota Daeng(2) yang sesak, selamat jalan Bulukumba, kentut bombastis menjadi cerita peninggalan sejarah yang sulit dilupakan.

Di terminal kami harus bernegosiasi, jumlah uang yang kami kumpulkan tak cukup untuk membayar biaya transpor. Sang sopir kami minta sabar menanti, sebagian dari kami meninggalkan terminal, mencari penutup biaya transpor yang tersisa. Selesai.

Kisah ini mungkin akan terkesan eceran, perjalanan hura-hura dan hanya pemborosan. Memang tidak berlebihan, jika ada orang yang anti keramaian menilai seperti itu. Tapi rasanya susah nilai-nilai kesatuan, solidaritas, kepedulian dan satu rasa seperti itu ditemukan dalam sebuah suasana ditengah-tengah aktifitas dan rutinitas normal, padahal vital adanya memperkokoh solidaritas sosial sebagai penopang dalam mewujudkan cita-cita, termasuk cita-cita perjuangan agama, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Khaldun dalam “Muqaddimah”nya bahwa gerakan keagamaan tidak akan berhasil tanpa solidaritas sosial(3), Allahu A’lam. Sementara itu, sepertinya hanya dalam suasana “genting” atau “susah”, kepedulian dapat diuji secara genuine, sebab dalam kebahagiaan dan keadaan senang, datar, tidak mencekam, “peduli” itu biasa-biasa saja dan bahkan kadar keseriusannya terkadang susah diukur, apalagi ketika krisis kepercayaan melanda sebuah bangsa.

Kisah ini tentu saja bukan bermaksud mengklaim legitimasi sebagai jalan satu-satunya atau paling manjur dalam mewujudkan solidarity. Oleh karena itu, siapa pun yang merasa keberatan dengan agenda-agenda seperti dalam kisah ini, ditantang untuk mencari formulasi serupa tapi tak persis sama, namun kualitas “saling peduli”nya setara.

Billahi taufiq.

Bulukumba, 2008 M., finishing di Makassar, diedit seperlunya di Sinjai.

1    Teknik Informatika STMIK Handayani Makassar Kelas A

2    Makassar

3    Muqaddimah Ibn Khaldun, Hal.194-197, ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadrami, terjemahan Ahmadie Thoha, Pustaka Firdaus, Jakarta, cet. Kesepuluh, 2011

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: