Bias-bias Gugur Bunga

bgOleh: Muhlis H. Pasakai

“Aku akan berhenti menulis, jika getar nadi di jariku berhenti berdetak. Jika tak sanggup kutinggalkan kemerdekaan, brigade huruf-huruf yang kurangkai akan menyerbu benteng-benteng penjajahan”: Uban Pamungkas

Belum tunai selangit cita mengobarkan teriakan takbir, namun jika langkah harus terhenti sampai disini, kalimat ini akan menjadi warisan terakhirku sebagai cendera mata pertarungan belum usai.

Kalimat ini bukan slogan propaganda zaman pergerakan 45. Ini adalah jiwa dari selongsong huruf-huruf yang telah kutumpahkan diatas permukaan putih. Beribu benteng didepan akan ditaklukkan, namun perjalanan tak kan pernah usai hingga kaki di peristirahatan abadi.

Laksana kobaran api menjilat seluruh tubuhku. Hampir punah membakar energiku. Dihadapan mengintai nostalgia buruk, kenangan pahit awal aku diserang penyakit tipes. Nafas terengah-engah seakan dipuncak penghabisan. Jika kuhitung-hitung, ini adalah yang keempat atau kelima kalinya tubuhku yang rapuh ini diterjang penyakit yang paling bersejarah dalam hidupku itu.

Sebulan belakangan ini, atau bahkan sebelum itu, aku merasa daya tahan tubuhku memang sedang meluncur drastis. Contohnya hampir sepekan sebelum ini, badanku memang tak pernah lagi dibersihkan (mandi) akibat demam yang tak kunjung mereda. Aku menganggap itu adalah gejala biasa, akibat cuaca, atau karena kelelahan. Pikirku, semua itu akan segera pulih dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Tapi puncaknya bercerita lain, aku terpaksa mendekam kesakitan dalam kamar paling ujung ini, setelah pasukan imun tubuhku takluk dibombardir oleh artileri virus-virus parasit.

Aku terkadang bersedih, tapi juga haru. Dahulu aku pernah ditangisi, rumahku sesak oleh suara tangis malam itu, karena aku dianggap akan pergi selamanya, akibat sakit yang berkepanjangan. Dahulu aku hampir putus sekolah, juga karena sakit. Setelah itu, aku juga tak dapat bekerja layaknya anak lelaki yang kuat, seperti putra yang dibanggakan di masyakarat agraris. Aku tak dapat mewujudkan mimpi indahku ke perguruan tinggi, juga karena pertimbangan itu, selain faktor ekonomi yang menjadi kemasan utama orang tuaku- yang pada dasarnya diakui belakangan hanya sedikit manipulasi, sebenarnya faktor kekhawatiran penyakit itulah yang primer-. Salah satu program beasiswa juga tak dapat kujalani, juga karena sakit. Banyak persoalan dalam hidup ini yang tertunda, bahkan gagal karena penyakit. Aku teringat dengan sosok Hamka (Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah) yang gagal meneruskan perjalanannya belajar ke Al-Azhar karena jatuh sakit(1), namun walaupun demikian, kita tahu bagaimana hal itu tidak menghambatnya dalam memberikan sumbangsih yang besar terhadap agama dan negeri ini. Aku juga respek kepada salah seorang tokoh muda NU, produk pesantren lokal alumni tingkat Aliyah yang justru tampil prima menkonter penyimpangan-penyimpangan pemikiran kontemporer di negeri ini. Ini semua adalah stok energi bagiku untuk tidak patah arang mengusung cita-cita yang selalu kandas dijurang penyakit.

Selama ini aku memang merasa seperti mayat berjalan, fisikku begitu rapuh diterpa angin. Aku kadang berfikir: aku tak sanggup memberikan yang banyak untuk keluargaku, agamaku, negeriku, layaknya orang-orang sehat-kuat, mungkin itulah kenapa dalam hadits dikatakan:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah”. Didalam Al Qur’an juga disebutkan: إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِينُ(“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”:QS. al-Qasas: 26). Alangkah bersedihnya aku sekiranya hadits diatas (“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah”) tidak dilanjutkan dengan: وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ ( “Namun masing-masing ada kebaikan”). Dan kalimat berikutnya lebih menegaskan lagi:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلا تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, “Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain.” Akan tetapi katakanlah, “Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.” Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim).

Iya, semua ini hanya bagian dari episode hidup yang harus kujalani:

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلو من قبلكم مستهم البأسآء والضرآء وزلىلوا حتى يقول الرسول والذين آمن معه متى نصر الله ألا إن نصر الله قريب

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (al Baqarah:214).

Meskipun demikian, berat, sungguh berat. Tapi aku tak kan pernah menyerah, karena jasadku bukanlah segala-galanya, bahkan ketika ia hancur bersama tanah, itu bukanlah akhir sebuah cerita. Aku memang bukan Sayyid Qutb, atau Ibnu Taimiyah, tapi aku tahu itu.

Aku tahu etape perjalanan hidup ini pasti akan berujung, كلّ نفسٍ ذآئقة الموت(Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati; Aali ‘Imraan:185, Al ‘Ankabuut:57, Al Anbiyaa:35).

Bukan soal mati itu, bukan. Tapi soal perjuangan kita. Mungkin, akulah unsur terkecil yang berkontribusi terkecil dalam perjuangan ini, tapi aku masih rindu untuk ada disana. Masih banyak warna-warni benang yang belum kupintal diatas pemidangan indah itu. Betapa aku ingin ikut sedikit saja, saraf otakku berdenyut kencang diatas meja-di ruang diskusi, dan diatas kertas-telediskusi, untuk para pencemooh kemapanan naqli.

Mungkin aku terlalu bersemangat, hingga kutemui tubuhku rebah tak berdaya. Membaca, menghafal, keindahan itu kini berat kurasakan. Akankah betul, ini sebuah kesempatan final bagiku. Belum, aku masih ingin hidup. Tapi yang pasti, kapan pun pasti akan berakhir. Sebentar, esok, atau beberapa puluh tahun lagi. وما كان لنفسٍ أن تموتَ إلّا بإذن اللّه كتبا مؤجّلا Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (Aali ‘Imraan:145).  

Sebelum semua menjadi kenangan, walau tak dapat kusaksikan mimpi-mimpiku, aku tak ingin pergi sebagai orang yang kalah, tapi aku ingin jadi pemenang.

Ada beragam jenis kemenangan di dunia ini. Memenangkan realitas dengan terwujudnya cita-cita ke dalam bentuk fakta sosial tanpa menggugurkan seluruh atau sebagian idealismenya, layaknya pemain sepak bola yang menggolkan lebih banyak ke gawang lawan dengan permainan yang fair dan sportif , tentu ini adalah kemenangan paripurna. Ada bentuk kemenangan yang mewujud nyatakan cita-citanya, tapi sayang mengantarkan kemenangannya itu dengan idealisme yang sudah tidak utuh bahkan runtuh, demi tujuan realistis idealisme dapat dikorbankan, layaknya pemain sepak bola yang menggolkan lebih banyak ke gawang lawannya tanpa menjunjung tinggi sportivitas, dan ini seburuk-buruk pengkhiatan karena mengkhianati idealismenya sendiri. Kemenangan lain adalah kegagalan mewujudkan idealismenya ke dalam bentuk realitas sosial, tapi berhasil mempertahankan idealismenya dengan kokoh hingga akhir, kegigihan ini adalah sebuah kemenangan telak atas kompromi yang dianggap non tolerir dari desakan fakta yang keras, inilah orang-orang yang memenangkan idealismenya, dan ini adalah kemenangan sejati (sejiwa sampai mati). Kemalangan akan jatuh ketangan orang-orang yang telah mengugurkan prinsip-prinsip idealismenya demi mengkompromikan dengan arus realitas sosial, tapi belum juga sanggup mewujudkan cita-citanya itu, sekalipun dengan mengkhianati idealismenya sendiri.

Sekiranya, dan memang iya, belum dapat terwujud semua kebesaran idealitas yang terukir dalam sanubari ini, setidaknya إنشاء اللهbendera kemenangan idealisme yang akan kukibarkan di penghujung hidup ini.

Akhirnya, sebuah perjalanan panjang yang pasti akan berakhir, walau medan pertempuran masih menanti. Karena itu, tepat melukiskan sajak Chairil Anwar menjelang akhir hayatnya, “derai-derai cemara”:

 

cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin terpendam

 

Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada satu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

 

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah (1949)

 

Ditulis di Asrama Haji Sudiang (Wisma 6, Kamar 11)-Makassar, 4 Rabi’ al Awwal 1435 H./ 6 Januari 2014 M. Disempurnakan diatas tikar pembaringan-Sinjai pada Rabi’ at-Tsaani 1435 H.

 Footnote:

1    Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi-Studi Kasus Alumni Al-Azhar, Hal.68, Mona Abaza, Terjemahan S. Harlinah, LP3ES, Jakarta, Cet.1,1999

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: