Topi

topiOleh: Uban Pamungkas

Topi itu sudah kusam, disekitarnya ditutupi sejumlah kotoran dan sejenis sarang laba-laba. Ia sedang tergantung disalah satu sisi rumahku bersama barang-barang setengah rongsokan lainnya. Topi itu telah lama tak kulihat, ternyata ia sedang menyendiri menunggu kerusakan totalnya atau dibuang bersama sampah.

Melihat itu, aku menjadi iba, aku segera membersihkannya, lalu mencucinya untuk kuabadikan gambarnya di depan kamera. Topi itu mungkin kualitasnya sudah tidak tinggi lagi, tapi ia sangat berharga bagiku karena dapat bercerita tentang sebuah kisah. Kisah sekitar tujuh tahun yang lalu, saat aku memulai hidup di kota metropolitan guna menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Kemegahan dan serba komplit di kota besar tidak selamanya dinikmati sebesar itu pula oleh semua penghuninya. Termasuk aku. Walaupun kepadatan kendaraan terkadang menghebat seperti akan menyamai kemacetan Jakarta, tapi jarak tetap jalan panjang bagiku. Iya, karena untuk menjangkau kampusku aku harus menempuhnya dengan berjalan kaki hingga satu kilometer. Jika kuliah itu pagi, bagus, karena sambil berolah raga dan bisa menyaksikan hiruk pikuk di pasar “Terong”. Tapi jika kuliah itu siang, kepala dan kulitku harus siap-siap menahan panasnya terik yang membakar.

Menjalani hari seperti ini tak masalah bagiku, walau pakaian harus basah menyerap keringat setiap perjalanan, atau sandal jepit menjadi tipis bahkan putus, hidup kunikmati seindah-indahnya melalui pengindahan caraku sendiri.

Ada jumlah hari yang kadang berkumpul dalam pekan, atau bahkan bulan dan tahun, yang sengat matahari disitu sangat tajam. Dan hari-hari itu juga kujumpai.

Pada saat hari-hari itu sedang mengiringi irama langkah kakiku, sekujur tubuh harus kuat menahan sorotan bola gas raksasa -yang dinamai indera penglihatannya hari (mata hari)- itu, karena aku tahu itu mungkin tak lama, karena setelahnya akan berganti musim.

Sebelum musim itu berakhir, ia sempat menyaksikan sebuah kisah kecil. Kisah yang mungkin sebagian orang tidak bernilai lebih, tapi tidak bagiku, karena ia adalah kisah kecil yang dapat mengandung daya ledak yang dahsyat. Tentang empati, kepedulian, atau tindakan nyata, karena semua itu tidak harus diwujudkan dalam konstruksi yang megah agar dikagumi semua orang.

Dikeningku mungkin tetes keringat itu yang selalu berbicara, atau nafasku yang cepat, tanda orang kelelahan. Atau muka dan kulitku yang menghitam bekas sengatan sinar matahari. Entahlah, yang pasti ternyata ada sahabatku yang peduli tentang perjalananku itu. Kepedulian itu ditunjukkan lewat sebuah topi. Spontan ia melepas topi itu lalu menyerahkan padaku setelah ia menyaksikan sendiri perjalananku suatu hari. Bukan topi baru, tapi topi yang sedang dipakainya sendiri, dan menurutku, justru itulah nilainya. Bukan soal topi baru atau bekas, tapi refleks terhadap perasaannya.

Jika seniman atau sastrawan selalu diidentikkan dengan jiwa yang halus atau lembut, mungkin sahabatku itu cepat-cepat bersimpati padaku karena namanya adalah nama seorang penyair tersohor dalam sejarah, dengan sajak terkenalnya Diponegoro. Tetapi mungkin semangat nama yang diberikan orang tuanya kurang bekerja, karena kesusasteraannya kurang nampak pada sahabatku itu.

Terlepas dari semua itu, yang pasti bahwa kepedulian itu tidaklah selalu mesti ditunjukkan dalam hal-hal yang besar, atau diartikulasikan panjang kali lebar, tapi sikap yang dapat memberi nilai yang sangat berharga bagi seseorang, walaupun dengan atau tanpa materi yang sangat sederhana.

Sahabat, mungkin engkau sudah lupa, tapi aku tidak.! Sebagai bentuk kenangan, kutulis beberapa bait paragraf ini dalam tempo sesingkat-singkatnya, beberapa menit menjelang tidurku.

Sinjai, Sya’ban 1435 H./ Juni 2014 M.

Ini dia topi itu, dan gambar kanan adalah salah satu foto kita saat mengikuti sebuah pengkaderan di Malino tahun 2007 (Aku yang berswiter belang-belang dibarisan paling kanan no.2 dari depan, sementara engkau yang berkaos merah dibarisan kedua no.2 dari depan).

DSCN1685

 100_4099

 

 

 

 

 

 

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: