Kritik atas puisi dan sastra

Oleh: Muhlis H. Pasakai
puisi
Judul ini tentu saja tidak dapat disandingkan dengan buku “Kritik atas Puisi Puisi Indonesia” yang ditulis oleh seorang penyair dan juga novelis Sides Sudyarto DS dengan membedah 35 puisi karya-karya penyair Indonesia. Adapun tulisan ini hanya merupakan kekhawatiran penulis yang dapat terjadi pada karya sastra khususnya puisi. Sekaligus menjadi pertimbangan bagi para sastrawan pemula maupun yang kawakan, itupun jika merasa sepakat dengan ulasan singkat ini. Jika tidak, anggap saja tulisan ini adalah amatan orang awam yang tak paham sastra.

Puisi, cerpen, novel atau karya sastra dengan keindahan tutur bahasanya bukan sekedar untuk membuat pembacanya larut dalam lika-liku penggunaan bahasa literer. Setiap karya sastra yang dihasilkan selalu memiliki visi dibalik karya tersebut, mengajak, melarang, mencela, menggugat, dan seterusnya. Setiap tulisan selalu melakukan penetrasi terhadap pembacanya, mempengaruhi hingga membawa-bawa emosinya.

Para penikmat karya sastra memang memiliki populasi yang cukup besar. Beberapa novel sempat booming sekaligus merambah layar lebar seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Harry Potter, dan kawan-kawannya. Jajaran puisi pun tak mau kalah, bahkan merangsek ke zona politik, seperti “Negeri Para Bedebah” karya Adhie Massardi. Sederet cipratan berbagai karya sastra baik itu puisi, novel, atau syair-syair mudah ditemukan dengan berbagai tipologi diseluruh negara.

Karya-karya sastra memang terkadang sangat lembut membelai, halus menyentuh, kadang kasar menampar, tajam menyayat, dengan ragam keindahan kata dan perpaduan tekanan bahasa. Diantara karya-karya itu, terkadang menggunakan bahasa literer yang sangat indah dan diperhalus sehingga menjadi sulit untuk dapat disederhanakan oleh pembaca untuk dipahaminya. Orang yang menulis puisi atau karya sastra lainnya yang berlebih dalam menekankan keindahan bahasa dapat terperangkap pada permainan kosa kata itu, akhirnya pesan yang menjiwai tulisan itu dapat terabaikan. Penikmat sastra pun akan lebih dominan dalam menikmati keindahan lekuk-lekuk bahasa itu dibandingkan penetrasi idealisme penulis.

Karya-karya seperti ini juga dapat menjadi multi tafsir bagi pembaca yang belum memahami persis pesan-pesan khusus dalam sebuah karya sastra. Sebuah karya tulis seperti puisi dapat saja dijungkir balikkan pemakaian kosa kata dan keindahan bahasanya jika tulisan tersebut memang hanya ditujukan pada orang yang sudah tahu persis topik dan sasaran dalam tulisan tersebut. Namun jika karya itu akan disodorkan ke publik sebaiknya memiliki estetika keindahan kata, tapi sekaligus kemolekan inti pesan yang sepadan.

Selamat berkarya…!. Semoga karya itu memuat visi hidup Anda.

Sinjai, Safar 1434 H./ Januari 2013 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: