Kucing Sakit dan Seuntai Belas Kasih

Oleh: Muhlis H. Pasakai kucing Kucing itu mewarnai keindahan tekstur kehidupan di tengah-tengah keluargaku, ia terkadang menggemaskan dengan segenap tingkah yang dimilikinya. Sayang ia menderita sakit sejak beberapa hari ini. Entah penyakit apa yang diderita kucing berbulu halus hitam putih itu, tapi yang pasti ia susah bernafas karena dahak memenuhi kerongkongannya, hidungnya pun berdarah akibat dahak yang mengering di ujung indera penciumnya itu. Ia kini kurus, bulunya yang dulu lembut dan cantik kini tak dapat lagi dibersihkannya, makanan yang disajikan pun tak lagi sanggup dicicipi akibat luka-luka di ujung moncongnya. Singkat kata, kucing itu sepertinya tinggal menanti waktu untuk meninggalkan kenangan lucu bersama kami. Sakit!. Aku orang yang selalu disebut ‘hari baik jika tak sakit’, sebab memang semenjak setelah tipes menggerogoti kesehatanku selama berkali-kali, kini sakit itu telah menjadi parner setiaku. Sakit memang terasa berat, tapi banyak cara yang positif untuk menyikapinya. Hidup dalam penyakit yang serba beresiko itu, mungkin aku masih sanggup menahan penderitaan yang kualami sendiri, tapi rasanya tak sekuat itu ketika menyaksikan penderitaan ‘diluar’ diri saya, dalam hal ini termasuk nasib yang menimpa seekor kucing itu.

Kami pasti merasa sangat kehilangan jika kucing jantan pemberani itu meninggal dunia. Bukan soal meninggal dunia itu saja, aku tak kuat lagi melihat penderitaan yang menyiksanya setiap hari, bayangan kehilangan seekor kucing kesayangan pun menghantui. Akhirnya kuputuskan untuk menghilangkan dahak dari dalam tenggorokannya melalui sebatang kayu yang kuliliti padanya kain berbahan kaos, walaupun dengan mengerang, kucing itu kuringkuk hingga tak dapat bergerak, lalu kumasukkan batang kayu berlapis kaos itu untuk mengorek gumpalan dahak yang pekat, 2 butir tablet obat kimia pun kupaksa untuk menelannya walaupun tak berhasil sepenuhnya. BiizniLLah, beberapa hari setelah itu, kucing itu memperlihatkan tanda-tanda kemajuan dalam kesehatannya, dahak yang menggumpal ditenggorokannya tak lagi terdengar menyesakkan, moncong sensitifnya pun mulai bersih dari luka-luka kering, dan yang paling menggembirakan: selera makannya pun pulih kembali.

Akhirnya makhluk berfamili Felidae itu pun sehat seperti semula. Ia kembali mengisi hari-hari keluargaku dengan kelucuan dan ketangkasannya.

Tak lama menikmati kebersamaan itu, tiba-tiba ia pun akhirnya pergi setelah menelan ikan berkandungan racun tikus, perangkap yang dipasang oleh salah satu tetangga kami. Ia memang akan pergi, tapi mungkin Tuhan tak ingin kami menderita menyaksikan kematiannya secara menyengsarakan dengan penyakit, hingga ia harus mati secara tiba-tiba setelah kesehatannya pulih.

Ada hal lain yang kuingat soal kucing ini: hewan penghuni rumah ini sering kujadikan contoh ketika ada orang yang terlalu bersemangat berKB, mengkhawatirkan produksi anak yang subur berakibat tak dapat memenuhi asupan nutrisinya, maka tak jarang kusebut bahwa memelihara seekor kucing pun memiliki rizqi, apalagi memelihara seorang anak manusia.

Selain soal diatas, poin utama yang mendorong saya menulis kisah kecil ini adalah: mungkin, ada orang yang cukup kuat mengalami penderitaan yang menderanya, tapi tak sanggup melihat penderitaan yang terjadi diluar dirinya, itulah mungkin mengapa ada orang yang cukup kuat disiksa, tapi tak cukup kuat jika yang disiksa itu adalah sanak keluarganya, mungkin itu pulalah mengapa terkadang untuk membuat orang menyerah, yang disiksa adalah anak atau istrinya, karena orang dianggap lebih menderita ketika orang-orang yang disayanginya yang disiksa dibanding dirinya sendiri yang disiksa.

Hal ini mungkin tidak aneh, tapi yang aneh jika: ada orang yang sudah tidak kuat mengalami penderitaan yang menimpa dirinya, tapi bukan hanya kuat melihat penderitaan yang dialami orang lain, bahkan senang melihat orang lain menderita. Nas’aluLLAHA Ta’ala al ‘Aafiah

Sinjai, Jumada at-Tsaani 1435 H./ April 2014 M.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: