Jauh Mimpiku

manfaat-mimpi-saat-tidurOleh: Muhlis H. Pasakai

Memang dahulu aku tak pernah bercita-cita mengenyam pendidikan hingga setinggi ini. Menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar saja terasa sangat melelahkan. Pendidikan menengah pertama selesai dengan terlunta-lunta, bahkan nyaris tak tersentuh. Entah apa yang menggerogoti pikiranku saat itu hingga tak secuil pun yang mendorongku untuk mencintai kosa kata “terpelajar”. Bisa jadi lingkungan, atau memang kesadaran orang tuaku tentang pendidikan yang belum memadai.

Keseriusanku baru timbul ketika akan memasuki jenjang SMA. Hal itu berawal menjelang akhir perjalananku di sekolah lanjutan tingkat pertama. Itu terbukti dengan inisiatifku sendiri untuk mendaftarkan diri di SMA dan mengikuti masa orientasi hingga selesai, hampir tidak melibatkan orang tuaku lagi. Hari-hari sekolah kulalui dengan segenap pernak-pernik putih abu-abu. Walaupun kenakalan-kenakalanku di masa lalu masih beresonansi, tapi aku sudah mulai sadar betul akan pentingnya pendidikan.

Kenapa?

Karena aku sudah memiliki cita-cita. Tahukah cita-cita apa itu?. Dahulu aku pernah bercita-cita menjadi penjual es krim (kami menyebutnya es tontong), tapi itu dulu di masa kanak-kanak, yang cita-cita itu hanya terdorong oleh hal-hal yang tak terkalkulasi dengan baik, kecuali euforia kekanak-kanakan karena waktu itu kami anak-anak kampung doyan mencicipi es krim. Cita-cita yang kumaksud kini adalah cita-cita sebagaimana orang tua menginginkan anaknya memiliki cita-cita itu, atau dorongan para guru kepada murid-muridnya, atau para karib kerabat kepada keluarga anak sekolahannya, yaitu menjadi diantara deretan orang-orang sukses, punya titel, punya pangkat atau jabatan, status sosial yang dihormati, ekonomi yang mapan, hingga dapat dibanggakan dikalangan para tetangga dan masyarakat.

Aku juga terseret ke dalam harapan-harapan semacam itu, tapi sumber primernya bukan dari orang tua, guru, atau kerabatku. Pondasi cita-cita yang akan kuusung dalam etape perjalanan itu berasal dari media, buku bacaan dan tontonan. Ada segelintir pemicu dari guruku, sebut saja Pak Ilham, guru SMPku yang pertama kali membuatku tertarik dengan retorika. Pak Zuhri, guru Tata Negaraku di SMA sekaligus wali kelasku di kelas III IPS 1 yang terus memotivasi bahkan merekomendasikan agar aku melanjutkan studi Fakultas Hukum di UNHAS, beliau sendiri bersedia membantu. Ibu Nurhayati, guru sosiologiku yang terus membanjiri semangatku dengan pujian, betapa bahagianya aku saat itu, energi intelektualku seakan mendidih untuk tak mengecewakannya. Semua pujian dan harapan itu tidak datang dengan sim salabim, semua berawal dari diskusi-diskusi kelas yang menyeleksi bintangnya.

Kaya raya, punya jabatan elit, membanggakan keluarga. Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi sepertinya semua itu tidak menjadi sentral yang mendorong cita-citaku, lokomotifnya lebih diilhami oleh semangat aktivisme. Jujur saja, kasus Munir banyak mewarnai jiwaku hari-hari itu. Peristiwa tragis yang mengakhiri perjuangan Munir dengan racun arsenik tidak lalu menghasilkan ketakutan bagiku, malah menyulut daya kritisku dan pesona heroisme.

Pendakian yang akan kujalani akan kumulai dari sana, dari aktivisme mahasiswa di fakultas yang kugadang-gadang akan mengantarkanku melesat dikancah nasional; Fakultas Hukum, sesuai saran guruku, dan memang kuminati. Selanjutnya, dari sana aku akan menyusun derap langkah, hingga akan menanjaki karir politik, tak tanggung-tanggung aku bermimpi menjadi seorang jubir seperti Andi Mallarangeng yang kuidolakan saat itu. Hahaha…mungkin sekarang aku sebut itu mengkhayal, tapi dulu itu tidak, dulu aku serius, kalau perlu duarius.

Semua itu menjadi seakan mimpi di tahun-tahun terakhirku di sekolah. Orang tuaku tak memberi izin untuk kuliah, alasan kesehatan karena fisikku menjadi tak seprima dulu lagi setelah diterjang tipes beberapa bulan dan beberapa kali, juga alasan ekonomi dan seribu macam alasan yang lain. Terlebih lagi saat kuutarakan keinginanku untuk menjadi aktivis layaknya Munir, ibundaku sangat menentang rencana itu, mungkin tak ingin anaknya jadi korban berikutnya. Aku merasa tak kuat menghadapi semua alasan itu, akhirnya aku pun takluk.

Tahun-tahun sebelumnya sebenarnya orang tuaku ingin agar aku mendaftar menjadi prajurit bintara di institusi Kepolisian, aku pun sebenarnya tertarik. Masyarakat waktu itu sangat mengelu-elukan orang yang anaknya dinyatakan lulus. Bagiku, hal seperti itu cukup untuk membanggakan orang tuaku yang selama ini juga sering direndahkan. Belakangan, setelah aku banyak menemukan keburukan moral dan kesewenang-wenangan personel kepolisian, begitu pula proses perekrutannya, daya kritis dan sikap antipatiku terhadap satuan tribrata itu pun muncul. Kutolak!

Dua ribu lima. Tahun itu aku angkat kaki dari jenjang sekolah menengah atas. Sebuah tembok nestapa bersedia memenjaraku seakan sepanjang hayat.

Memang terasa berat olehku, tak sekuat orang-orang nekat yang ngotot kuliah tanpa mempedulikan apa pun. Terus terang aku sangat iri dengan sahabat-sahabatku yang lain, yang mendapat dukungan sepenuhnya hampir dari segala sisi. Betapa beruntungnya orang seperti itu, gumamku dalam hati.

Untuk mengatasi kelesuan hidupku, orang tuaku mengizinkan aku mengikuti sebuah kursus profesi satu tahun di daerahku. Hari-hari yang kujalani di lembaga itu sanggup mengobati kerinduanku pada suasana mahasiswa, walaupun terasa seukuran atomik dan bersifat sementara karena itu hanya lembaga kursus, lagipula gerakan aktivis intelektual yang menjadi “nafsu makan”ku tak terjamah, karena yang ditekankan dilembaga itu adalah keterampilan komputer dan kecakapan berbahasa asing (Inggris).

Pemagangan selama kurang lebih tiga bulan di instansi pemerintah mengenalkanku sedikit pada dunia kerja. Kalau tidak salah ingat waktu itu sedang berlangsung SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), disitulah saya terlibat.

Oleh ayah bundaku, boleh dikata aku anak kesayangan, hampir semua kebutuhanku dahulu dipenuhi orang tuaku, kecuali setelah gelombang kehidupan menghantam, hingga kami harus hijrah meninggalkan tanah kelahiranku, dan disanalah episode kehidupanku yang serba pelik dimulai.

Waktu terus berlalu…

Setelah melalui proses yang sulit kujelaskan persisnya, tahun 2007, sekitar dua tahun setammatku dari SMA, aku menginjakkan kaki di Makassar. Sebenarnya aku kurang bergairah lagi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, terlanjur semangatku yang besar dulu tiba-tiba padam, apalagi rentang waktu yang mengantarainya juga sudah terbilang lama. Walaupun bukan untuk pertama kalinya, setidaknya kedatanganku kali itu selain untuk mendaftarkan diri ke perguruan tinggi, juga untuk melihat-lihat suasana kota. Setelah berpikir-pikir dan mengunjungi beberapa perguruan tinggi, aku pun akhirnya mendaftarkan diri pada sebuah perguruan tinggi swasta yang tidak terlalu bergengsi, karena menurut orang-orang dan juga orang tuaku jurusan itu sangat prospektif. Aku seperti mengalir saja apa kata orang. Semuanya kujadikan hanya sejenis pengobat rindu pada suasana kampus dan meringankan tekanan psikologisku.

Hari-hari dengan status mahasiswa itu pun kujalani. Mungkin nanti aku tak kan seperti yang diharapkan lagi oleh guru-guruku. Aku juga seperti bukan lagi pada rel cita-cita yang kuusung dahulu. Tawar!. Entahlah, aku berproses saja. Ada catatan besar bagiku, walaupun kampusku terbilang kecil, tapi disana terdapat nama-nama aktivis mahasiswa HMI yang mentereng hingga dikagumi di seluruh kampus ternama. Walau baru, dan aku tak memutuskan untuk bergabung di hijau hitam, berinteraksi intensif dengan mereka telah membentuk sebagian pribadiku, setidaknya perlahan kegemaranku pada buku dan bacaan-bacaan pergerakan dan aktivisme, filsafat, juga yang lain-lain. Aku juga tertarik pada beberapa tokoh besar, contohnya Mahatma Gandhi. Selain dengan mereka, aku juga mencoba berinteraksi dengan aktivis mahasiswa dari gerbong yang lain, dan itu warna tersendiri dalam perjalananku.

Setelah aku mulai bersentuhan dengan gaya intelektual para aktivis, ada perasaan tak betah di kampus, karena sama sekali berbanding terbalik dengan jurusanku. Aku berpikir sebaiknya aku pindah saja, dikampus sana ada sepupuku yang juga seorang aktivis bersedia mengurusku, tapi orang tuaku terlanjur tak bergeming, kata orang; disini aku bakal sukses, keluaran perguruan tinggi seperti tempatku sekarang ini kelak sangat dibutuhkan. Kataku iya sih, tapi tubuhku memang sedang didepan layar, tapi idealismeku seakan berada ditempat lain. Walaupun begitu, prestasiku selama ini terasa cukup bagus.

Jubir Presiden…???

Hari ini, cita-cita itu hanya terabadikan dalam tulisan. Ia jauh melambaikan tangannya, seakan merindukan aku yang dahulu disisinya, aku pun begitu. Jauuh terasa mimpiku.

Bukankah diriku yang sekarang?

Ah, biarlah aku mengalir laksana air sungai “Fangngisoreng” yang dahulu aku pernah terseret dan tenggelam disana, hingga topiku yang ditelan air tak terselamatkan. Air itu akan melewati cekungan, permukaan sungai yang beragam tekstur, menderas, melambat, menghantam keras bebatuan, membawa limbah, dan bermain bersama ikan-ikan pinggiran, biarlah riak-riak yang dihasilkan akan menghasilkan seni dan estetikanya sendiri, menjadi panorama yang dapat menyejukkan hati, hingga ia berakhir di muaranya. Salah satu estetika itu berbuah tulisan kecil ini.

Makassar-Kota Daeng, 2008 M.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: