Selera Makan Ayam

aymOleh: Muhlis H. Pasakai

Untuk yang kedua kalinya, sebuah tulisan diangkat dari potret kehidupan sosial bangsa ternak, ayam. Bukan sebuah profesi, tapi hidup ditengah-tengah populasi ayam menjadi sebuah kegemaran. Berinteraksi dengan ayam yang beragam watak dan fisiknya memiliki daya hibur tersendiri.

Sejak dahulu, memelihara ayam kampung sudah menjadi aktivitas tak terpisahkan. Bangsa ternak ini sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Banyak hal yang telah kami elaborasi dari kehidupan mereka. Kali ini, ada watak sosial yang menarik untuk ditengok dari pergumulan “chicken society”, yaitu soal selera makan.

Setiap orang yang memelihara ternak selalu menginginkan agar ternaknya itu tumbuh dengan cepat. Pertumbuhan itu tentu saja sangat dipengaruhi oleh kualitas makannya. Setelah sekian lama  memperhatikan seputar gairah makan itu, ternyata selera makan ayam tidak hanya ditentukan oleh jenis pakannya. Ada suasana yang dapat merangsang selera makan ayam hingga dapat mengalami kekenyangan dalam tempo yang cepat, yaitu ketika mereka berebutan pakan di atas nampan pakan atau sejenisnya.

Poin yang ingin diutarakan dalam tulisan ini adalah soal “rebutan” itu. Sekelompok ayam nampaknya sangat berselera mengkonsumsi pakan yang sedang menjadi rebutan. Seekor ayam dengan cepat mematuk secara terburu-buru agar tidak diganggu atau diambil alih oleh rekannya yang lain. Dengan berebutan ternyata sanggup mengenyangkannya lebih cepat, entah mereka sadar atau tidak bahwa apa yang berserakan disana adalah juga sama dengan yang mereka perebutkan itu.

Atau jangan-jangan memang benar, bahwa apa saja yang menjadi rebutan, maka disitulah selera lebih tinggi. Sesuatu yang banyak orang menghendakinya, maka itulah yang orang sangat berhasrat untuk  mendapatkannya pula.

Jika betul, nampaknya apa yang berlaku dalam kehidupan manusia dapat menyerupai kehidupan komunitas para ternak itu. Jika memang demikian, maka dalam soal ini, sepertinya kehidupan manusia tak jauh berbeda dengan kehidupan bangsa ayam.

Sekumpulan tulisan yang diangkat dari kisah-kisah binatang sudah selayaknya memberikan banyak pelajaran, bukankah dalam Al Qur’an sendiri terdapat kisah-kisah tentang binatang, seperti lebah. Bagaimana Allah menggunakan burung gagak untuk memperlihatkan Qabil cara mengubur mayat (al Maidah: 31). Bahkan secara khusus Allah menyebut pada binatang ternak terdapat pelajaran (an Nahl: 66, al Mu’minun: 21). Selain itu, dalam Al Qur’an sendiri Allah bahkan mengabadikan nama surah dengan nama binatang, seperti An Naml: Semut, dan Al Baqarah: Sapi.

Allahu A’lam

 

Sinjai, Syawwal 1434 H./ Agustus 2013 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: