Tikus Naas dan Senapan Frustasi

tikusOleh: Muhlis Pasakai

Entah sudah yang keberapa kalinya senapan angin itu kucerca. Sudah berkali-kali aku dikecewakan olehnya, terkadang bidikanku hampir 100% mengenai target, tapi eh tiba-tiba pelurunya nyangkut, dan akhirnya meloloskan sasaran.

Walaupun senapan itu telah banyak melumpuhkan binatang pemangsa ternak, sudah tak terhitung binatang sejenis biawak, tikus dan pemangsa ternak lainnya yang berakhir di ujung senapan ini, tapi akhir-akhir ini tembakan seringkali mengalami kegagalan.

Senapan ini mungkin sudah frustasi mendengar keluhan yang berkali-kali dialamatkan padanya. Hingga suatu siang, seekor tikus yang sedang masuk ke semak belukar membuat para anak ayam terbirit-birit ketakutan, senapan itu meskipun banyak dicaci, setiap mendengarkan bunyi ayam yang sedang diintai pemangsa, senapan itu pun tetap satu-satunya jadi andalan. Itulah yang terjadi pada seekor tikus itu, sayang ia terlanjur masuk pada rerumputan dan tak dapat lagi dilihat dengan jelas, senapan itu terlanjur telah berisi dengan peluru, dan seperti biasa tak dapat dipastikan apakah akan lancar meluncurkan pelurunya atau justru akan tersumbat. Agar tak sia-sia, senapan angin itu pun kuarahkan ke sembarang tempat sekitar tempat pelarian tikus itu. Sebuah peluru akhirnya berhasil melesat, namun entah sedang mengenai apa disana. Tak lama kemudian terlihat ujung rerumputan yang bergoyang, dan kupastikan itu adalah jejak sang tikus yang sedang berlari, setelah keluar ke areal yang lebih terang, tikus itu tampak telah berusaha keras mengayuhkan kakinya tapi sudah tak berdaya, sebutir peluru ternyata menembus perutnya. Tikus naas itu pun akhirnya tewas.

Sang senapan yang sering menjadi sasaran kejengkelan, kini dapat menjelaskan banyak hal. Membenci sesuatu sebaiknya jangan berlebih dan memfinalisasi statusnya sebagai tak terperbaiki lagi, sebab segala sesuatunya dapat saja melakukan sebuah prestasi diluar dugaan. Tidak satupun postulat yang dapat menjelaskan peristiwa ini secara presisi. Tak pernah terduga sebelumnya, apakah kasus ini termasuk rasional atau tidak?, apakah ada disiplin ilmu yang dapat membuktikan peristiwa ini secara empirik? Bahwa sekian derajat arah bidikan dari target yang tak diketahui, akan mengenai target. Atau bagaimana?. Apakah ini yang termasuk dalam kategori “kebetulan”?, lalu terminologi “kebetulan” itu sendiri apa?.

Tentu saja orang yang memiliki kepercayaan pada sesuatu yang tak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh empirisme teknologi dan ilmu pengetahuan alam, sangat mudah memahami kejadian ini.

Betul, bahwa keunggulan peradaban manusia dapat dikonstruksi melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kejadian kecil ini dapat mengunggat kecanggihan rumus-rumusnya. Ilmu yang sering dinamai “ilmu pasti” akan dibuat bertekuk lutut oleh kisah eceran ini. Lalu, untuk apa manusia sepenuhnya bergantung pada empirisme ilmu pengetahuan yang terkadang belum dapat menjelaskan semua gejala yang ada. Dibalik keunggulan pembuktian sains, masih terdapat penjelasan yang tidak dapat dijamah secara pasti. Jika hanya ingin menyakini sesuatu yang dapat disaksikan secara statistik, maka kisah ini tidak akan sanggup dicernanya dengan baik. Tetapi inilah faktanya…!

Sinjai, Sya’ban 1435 H./ Juni 2014 M.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: