Traditional Story: Dari Nonton Bareng Hingga Berburu Ayam

imagesOleh: Muhlis Pasakai

TV One pernah menyiarkan berita tentang seks dan remaja yang mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa sekitar 62% remaja di Indonesia tidak lagi perawan. Salah satu faktor penyebab pergaulan bebas remaja yang dimuat dalam berita tersebut adalah “masyarakat yang semakin individualistis”.

Individualisme belakangan ini memang semakin terasa. Ketidakpedulian, kehidupan yang semakin kompetitif, mungkin sebagai akibat dari pengaruh kapitalisme, perkembangan media sosial, dan liberalisasi diberbagai bidang kehidupan.

Sikap individualis atau egoisme masyarakat merupakan salah satu potensi besar pemicu konflik horisontal.

Masyarakat tradisional dahulu cenderung lebih tangguh dalam menghadapi persoalan individualisme. Selain karena media sosial dan teknologi informasi yang belum berkembang pesat pada saat itu, masyarakat memiliki serangkaian aktifitas perekat emosional diantara mereka. Salah satu contoh yang pernah saya tulis adalah nonton bareng bersama kerabat dan para tetangga di saat televisi masih terbatas, hitam putih pula, kebiasaan berkumpul seperti itu dapat mencairkan suasana ketegangan hidup, memupuk semangat kekeluargaan, dan meningkatkan gairah hidup melalui kebahagiaan-kebahagiaan berbagi dan tertawa.

Tradisi dan keyakinan “mabbaca” pun, yaitu memotong ayam lalu memanggil para keluarga dan tetangga untuk santap bersama sebagai bentuk persembahan kepada para penunggu ladang/ sawah, dan banyak lagi momen-momen sejenis ini, yang dikategorikan syirik dalam pandangan aqidah Islam, oleh masyarakat tidak semata-mata memuat aspek teologis, tetapi juga memiliki pendekatan sosiologis, karena melalui wadah seperti inilah mereka sering-sering berkumpul dan berbagi, sehingga apabila diantara mereka timbul perselisihan, tidak mudah menimbulkan kemarahan. Tentu saja, syirik tetaplah syirik, dan sesosial apapun kita, namun jika terjatuh dalam kesyirikan, maka لئن اشركت ليحبطن عملك  (“Sungguh jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu”- QS. Az Zumar: 65). Namun pendekatan sosiologis masyarakat dalam tradisi tersebut juga perlu diperhatikan. Agar tidak melahirkan antipati dan semangat serta tujuan sosialnya tetap tercapai, namun tidak terjatuh kedalam kesyirikan, membutuhkan rekonstruksi keyakinan sehingga menjadi wadah yang lebih syar’i.

Ketika kami berdomisili dikampung paling pinggir bagian selatan di kabupaten ini, salah satu aktifitas warga yang juga menjadi wadah pemersatu mereka adalah “rengngeng” atau berburu babi. Kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap hari ahad untuk memburu babi karena dianggap sebagai hama kelas wahid bagi para petani.

Soal perburuan, salah satu aktifitas yang dahulu sering kami lakoni adalah berburu ayam, namun tujuannya berbeda dengan perburuan babi. Apabila diantara tetangga ingin memotong ayamnya, maka berkumpullah para lelaki, tua-muda untuk mengejar beberapa ekor ayam hingga ngos-ngosan, maklum ayam-ayam pada saat itu liar-liar. Semangat berburu ayam dengan segenap bulir keringat yang menghiasi wajah semakin menumbuhkan ikatan emosional sesama warga. Hal semacam ini juga sering dijumpai pada saat digalakkannya kerja bakti, gotong-royong atau “Mappaolli”.

Tentu saja, hari ini kita berada pada zaman dan kondisi yang berbeda, namun kita merindukan serentetan aktifitas wadah pemersatu warga masyarakat yang kental dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong sebagaimana menjadi nilai sistem budaya yang diandalkan Indonesia. Hal semacam ini mungkin dapat dikonversi kedalam bentuk kekinian, seperti memprogramkan nonton bareng, rihlah, kerja bakti, atau buka puasa bersama, mabit, dan berbagai kreasi yang lebih canggih tapi tetap mengandung nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, gotong-royong dan kekeluargaan.

Inti dari konstruksi sosial yang dibangun masyarakat tradisional dalam membendung individualisme pada dasarnya terletak pada kualitas pertemuan. Persis seperti yang disebutkan dalam Hadits: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.”-Muttafaqun ‘alaihi-). Secara lebih khusus silaturrahim diterjemahkan dalam Hadits: لَيْسَ الوَاصِلُ بِالمُكَافِئِ وَلَكِنْ الوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا (“Orang yang menyambung silaturahmi itu bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” -Muttafaqun ‘alaihi-). Persis seperti yang terjadi pada tahun 60-an seiring bubarnya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan PPMI (Perserikatan Perhimpunan-Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) sebagai wadah berkumpulnya organisasi-organisasi mahasiswa. Untuk merajut kembali kebersamaan mahasiswa, maka HMI, GMKI, GMNI, dan PMKRI pada Januari 1972 melahirkan “Kelompok Cipayung”, sebuah kelompok studi bersama yang rajin mengadakan pertemuan, tanpa pengurus, tapi diatur dengan sistem arisan. Meskipun demikian, “Kelompok Cipayung” tersebut dapat bertahan sampai 9 tahun, dapat dikatakan sebagai gerakan mahasiswa yang relatif permanen dalam masa pasca KAMI1.

Kebersamaan, kekeluargaan, gotong-royong, solidaritas adalah modal besar dalam pembangunan sebuah bangsa dan ummat yang besar, terlebih lagi jika persaudaraan itu melompati batas-batas identitas kesukuan, etnis, warna kulit, dan teritorial kebangsaan, seperti persaudaraan diatas iman: انما المؤمنون اخوة (“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara –QS: Al-Hujurat: 10-), tidak seperti teori rasial Renan.

Billahi Taufiq…

Sinjai, Ramadhan 1435 H./ Juli 2014 M.

 

Footnote:

  1. Islam Pembangunan Politik dan Politik Pembangunan, Drs. H. Ridwan Saidi, Pustaka Panjimas, Jakarta, Cet.1, 1983

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: