Menghidupkan Tradisi Debat

debatOleh: Muhlis Pasakai

Situs inilah.com pernah memuat artikel berseri Wakil Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar yang bertemakan pentingnya dialog dengan judul Allah Menyukai Dialog. Sub-sub judul artikel itu adalah: The Power of Dialog, Berdialog dengan Manusia, Berdialog dengan Iblis, dan Berdialog dengan Malaikat. (www.inilah.com, diakses pada Minggu, 16 Februari 2014-12:23 WIB).

Ada beberapa kata yang similar dengan kata dialog, seperti diskusi, polemik dan debat. Dalam kamus-kamus Bahasa Indonesia, dialog sendiri sederhananya adalah sebuah percakapan atau dalam Bahasa Arab dikenal dengan hiwar. Diskusi merupakan sebuah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran memecahkan suatu masalah. Debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Sementara polemik sering diartikan sebagai perdebatan mengenai suatu masalah yang dikemukakan secara terbuka dalam media massa atau biasa juga disebut telediskusi.

Meskipun memiliki arti yang berbeda, penggunaan kata-kata tersebut sering digunakan pada tempat yang sama. Untuk mengkonfrontir sudut pandang yang berbeda terkadang juga disebut dialog atau diskusi. Pada kenyataannya memang demikian, dalam beberapa dialog atau diskusi yang diselenggarakan yang dimaksudkan sesuai makna katanya, debat pun terkadang tak terelakkan.

Penggunaan kata dialog atau diskusi hanya untuk memperhalus kata debat, karena pada dasarnya dialog atau diskusi-diskusi yang diselenggarakan memuat unsur perdebatan, sementara kata debat sering dikonotasikan negatif sebagai sesuatu yang kurang layak, menimbulkan kebencian, egoisme, dan sangat emosional.

Dialog, diskusi, polemik, atau apapun namanya, bentuk-bentuk perdebatan merupakan sebuah instrumen yang dibutuhkan dalam bangunan sosial manusia sebagai salah satu wujud dari naluri manusia yang selalu mencari dan menghendaki kebenaran. Persoalannya hanya pada bagaimana membangun budaya debat menjadi sebuah peradaban intelektual yang tidak menimbulkan anarkisme dan sentimentil berantai.

Tradisi debat ini perlu dihidupkan dan dilestarikan serta diformat menjadi konsumsi publik, sehingga menjadi salah satu wadah pertanggung jawaban ilmiah. Konstelasi yang berkembang saat ini dikhawatirkan mendistribusikan kebenaran hasil settingan. Hal tersebut terjadi apabila kebenaran didepan hukum dipenuhi praktek KKN, panggung politik yang sarat dengan kepentingan partai dan kekuasaan semata, keberpihakan media pada kelas elit, serta pengungkungan kualitas intelektual dibawah titel dan jabatan.

Siapapun yang merasa dirinya benar tentang sebuah persoalan, ia harus gagah berani dan gentle tampil ke gelanggang perdebatan atau lembar-lembar polemik. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan ruang debat atau polemik yang luas kepada siapa saja yang memang memiliki kompetensi dalam bidangnya. Kompetensi itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikan, organisasi, profesi, dan unsur-unsur lain yang memiliki pertalian kuat dengan topik yang dipolemikkan. Penyempitan akses  terhadap ruang polemik itu dapat mematikan budaya debat yang elegan, sehingga yang berkembang adalah pemaksaan klaim kebenaran oleh sekelompok elit.

Debat yang harus dibudayakan adalah debat yang argumentatif dan mengedepankan nilai-nilai kedewasaan yang berjiwa besar. Nilai-nilai perdebatan yang harus dipahami itu adalah: menghindari menyerang pribadi dan latar belakang seseorang karena yang menjadi fokus perdebatan adalah content materi. Latar belakang dan pribadi seseorang dapat dikaitkan dengan materi apabila sangat bertalian erat dan pengaruh pribadi dan latar belakang itu lebih dominan terhadap materinya dibanding dari rujukan ilmiah. Ketegangan yang terjadi pada sebuah topik tidak dibawa-bawa pada topik atau arena lain yang tidak berkaitan langsung. Apabila kita diserang dengan dengan pemikiran dan argumentasi, maka hadapi dengan pemikiran dan argumentasi pula, tidak dibalas dengan serangan fisik. Kita harus memberikan pemahaman kepada peserta debat dan semua audiens bahwa bentuk pedebatan bukan wujud kebencian, tapi wujud cintanya seseorang sehingga menginginkan berada pada sudut pandang yang sama. Apabila terpaksa terjadi serangan-serangan psikologis, gunakan gaya komunikasi yang santai. Dalam sebuah ruang, dapat saja terjadi debat kusir yang mengakibatkan tensi emosi melambung, tetapi harus segera diproporsionalkan jika telah selesai dan beralih pada bentuk interaksi yang berbeda. Benturan gagasan dan perspektif yang tajam jika terpaksa melahirkan saling “membenci”, biarlah itu  terjadi diatas meja atau ditengah forum, tetapi harus segera berubah setelah momennya berakhir, sehingga bagaimanapun kerasnya perdebatan dalam ruangan, lawan debat ketika diluar jika membutuhkan pertolongan tetap diberikan pertolongan sesuai porsinya. Inilah diantara nilai-nilai perdebatan estetis yang harus diedukasikan jika budaya debat dalam gelanggang intelektual hendak dijadikan sebagai salah satu pilar.

Perdebatan dengan menerapkan nilai-nilai yang estetis itu juga akan mendorong perkembangan intelektual, ilmu pengetahuan, bahasa, komunikasi, dan kepribadian, serta masyarakat yang kuat. Penulis tidak tahu persis, tetapi esensi gagasan ini kemungkinan dapat menjadi kontributor arus besar dunia dalam tatanan sebuah bangsa.

Perjalanan bangsa ini pun tidak dapat dilepaskan dari perdebatan-perdebatan panjang.

Budayawan Ridwan Saidi misalnya dalam ILC Tv One dengan topik “FPI Versus Lady Gaga” mengatakan bahwa debat perlu dihidupkan lagi sebagaimana para tokoh dahulu berdebat. Beliau  menyebutkan beberapa perdebatan yang pernah terjadi, antara lain:  perdebatan antara Suryadarmaharmanto, penyair dari Yogya melawan A. Hassan. Perdebatan H. Agus Salim dengan sebuah majalah yang terbit di Yogya seputar tuduhan terhadap dirinya sebagai spion Belanda yang  digelar di alun-alun dan dihadiri ribuan peserta.

Sebelumnya Ridwan Saidi telah menulis serentetan perdebatan yang pernah terjadi dalam bukunya “Islam Pembangunan Politik dan Politik Pembangunan”. Perdebatan-perdebatan itu antara lain: perdebatan yang paling bersejarah dikalangan Islam terjadi pada hari Senin tanggal 25 Juli 1932 di Kawedanan Cileduk, Cirebon antara pendiri NU KH.Wahab Hasbullah dengan Al Ustadz Ahmad Hassan, guru agama M. Natsir dan Bung Karno. Perdebatan itu berkisar pada masalah talqin. Selanjutnya perdebatan yang terjadi di gedung “Adhuc Statt”, tanggal 26 -27 April 1952 dengan tema “Kesulitan-kesulitan dalam masa peralihan ditilik dari berbagai sudut”. Perdebatan itu melibatkan St. Syahrir, Dr. J. Ismael, Prof. Slamet Iman Santoso. Moh.Said, Drs. Tan Goan Po, Mr. Syafruddin Prawiranegara, dan lain-lain. Perdebatan yang lain seputar eksistensi Tuhan, antara Al Ustadz Ahmad Hassan dengan Muh. Ahsan, penulis pada surat kabar Suara Rakyat, Surabaya. Perdebatan berlangsung selama 2 hari, tanggal 2 dan 3 September 1955 di gedung Al Irsyad Surabaya. Ust. Hassan mengakui adanya Tuhan, sedang Muh. Ahsan mengingkarinya. Diakhir perdebatan, Muh.Ahsan mengakui adanya Tuhan. Pada dasawarsa 60-an, terjadi polemik antara B.M. Diah (Harian Merdeka) dengan Nyoto (Harian Rakyat). B.M. Diah beranggapan bahwa revolusi yang tengah berjalan pada masa itu perlu diistirahatkan sebentar (istilah yang digunakan dalam polemik itu adalah adem pauze, sedang Nyoto menentang pendapat tersebut1.

Contoh lain polemik panjang yang pernah terjadi antara DR. Daud Rasyid dengan Nurcholis Madjid yang berawal dari ceramah keagamaan Nurcholis atau Cak Nur di TIM (Taman Ismail Marzuki) pada Oktober 1992 yang dikritik Daud Rasyid melalui harian Terbit. Polemik tersebut berlanjut dalam sebuah pengajian akhir tahun yang diselenggarakan LMPI (Lembaga Manajemen Pengembangan Infak) pada bulan Desember 1992 dengan tema “Telaah Kritis Atas Kelompok Pembaruan Keagamaan” yang dibanjiri oleh 4.000 pengunjung (Rekaman pembicaraan dalam kegiatan tersebut dapat didownload dengan mudah diberbagai situs internet dengan format mp3, penulis sendiri memilikinya sejak awal kuliah tahun 2007/2008. Terdengar dalam rekaman itu dialog panas antara Ridwan Saidi dan DR.Daud Rasyid di satu pihak dengan Nurcholis Madjid di pihak lain. Pada bagian akhir terdengar juga kritik terhadap Nurcholis Madjid oleh KH.Cholil Ridwan). Setelah acara tersebut, terjadilah polemik yang lebih luas, hingga akhir Agustus 1993 polemik itu belum dapat dikatan berhenti. DR. Daud Rasyid bahkan menuangkan polemiknya itu dalam sebuah buku “Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan”2.

Pada tahun 1990 juga terjadi polemik antara beberapa tokoh di halaman opini Jawa Pos dengan nama “Polemik Agama-agama Pascaideologi”. Polemik itu melibatkan Dr. Arief Budiman (saat itu staf pascasarjana Univ. Kristen Satyawicana Salatiga), Dr.Kuntowijoyo (saat itu staf pengajar Fak. Sastra UGM), Y.B. Mangunwijaya (pastor dan budayawan), Dr. Amien Rais (waktu itu dikenal sebagai ahli kajian Timur Tengah), Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (budayawan dan penyair), serta Maksum (wartawan dan redaktur opini Jawa Pos saat itu).  Polemik ini muncul pasca keruntuhan rezim partai komunis di Eropa Timur dan Pergolakan besar di Rusia. Sosialisme dan Kapitalisme pada saat itu dianggap sama-sama palsu dan menderitakan ummat manusia, sehingga menusia perlu mencari ideologi alternatif, dan salah satu alternatif yang dilirik adalah agama3.

Betapapun pentingnya sebuah perdebatan, tentu saja sebelum di blow up dan menjadi komoditas  publik, alangkah baiknya dilakukan pendekatan personal, seperti etika yang masyhur diajarkan oleh ‘ulama.

Ide tulisan ini pun pada dasarnya telah ada sejak beberapa tahun yang lalu, setelah melihat terkadang susahnya terjadi pendekatan personal dan adanya keangkuhan orang-orang “besar” atau elit dalam memaksakan kebenaran versinya dengan menggunakan segala fasilitas dan otoritas ke“besar”annya itu. Untuk menghindari kesewenang-wenangan itu, maka gagasan debat seperti yang dimaksud dalam tulisan ini harus dihidupkan dan dilestarikan.

Billahi Taufiq.

Sinjai, Syawwal 1435 H./ Agustus 2014 M.

 

Footnote:

1Islam Pembangunan Politik dan Politik Pembangunan, Drs. H. Ridwan Saidi, Pustaka Panjimas, Jakarta, cet.1, 1983, hal. 28-32

2Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, Daud Rasyid, Akbar Media Eka Sarana, cet. Pertama, 2002

3MENCARI IDEOLOGI ALTERNATIF Polemik Agama Pascaideologi Menjelang Abad 21, Ed: Maksum, Penerbit Mizan, cet.II, 1995

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: