Jenggot dalam sebuah ulasan lepas

Oleh: Muhlis Pasakai

 

jenggotEntah apa yang melatar belakangi, akhir-akhir ini jenggot sering menjadi tema perdebatan khususnya dikalangan intelektual muslim. Dalam sepanjang catatan perdebatan yang pernah terjadi di negeri ini, tema ini baru mencuat beberapa waktu terakhir ini-setidaknya yang penulis ketahui-. Mulai dari perdebatan ringan di arus bawah, perang argumentasi via medsos (media sosial), polemik di media massa, hingga dialog resmi yang dibanjiri peserta.

Contoh yang terakhir ini adalah Dialog Ilmiyyah Syar’iyyah yang pernah digelar antara Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA (Direktur STIBA) dengan Dr. Mahmud Suyuti (Dosen Hadits Univ. Islam Makassar) pada tanggal 24 Dzulhijjah 1435 H. di Universitas Hasanuddin Makassar, sebuah dialog yang diinisiasi oleh Mahasiswa Pencinta Musholla (MPM) Unhas sebagai kelanjutan dari polemik panjang di kolom opini Tribun Timur antara Ilham Kadir (Peneliti LPPI) dengan Mahmud Suyuti.

Tanggapan dan penjelasan ilmiah secara khusus telah ditulis oleh Ust. Muhammad Yusran Anshar yang telah didistribusikan ke publik melalui internet dengan judul  “Jenggot dalam Pandangan Ulama Muktabar”.

Ust. Muhammad Yusran dalam tulisan tersebut sudah sangat lugas menjelaskan perkara jenggot dengan merujuk pada kitab-kitab muktabar ulama ahlussunnah wal jama’ah, terlepas dari masih adanya kalangan yang belum legowo dan memang alergi karena propaganda wahabi.

Perbincangan yang mengangkat topik ini memang terkadang menyedot perhatian. Tidak hanya dikalangan menengah ke atas, tapi juga masyarakat bawah. Penulis sering menjumpai kelakar masyarakat yang terkesan menyindir orang-orang yang memelihara jenggot.

Jika penjelasan dalam perspektif ilmu syar’i, dengan pendekatan referensi teks-teks ilmiah seperti tulisan Ust. Yusran kurang atau tidak digubris oleh sementara kalangan yang apatis, maka mari kita mencoba mengangkat persoalan ini sejenak ke sebuah ruang dengan dimensi yang berbeda.

Poin yang selalu menjadi perdebatan dalam masalah ini adalah apakah jenggot itu merupakan bagian dari agama, sunnah atau bukan.

Kekeliruan dalam menyikapi persoalan ini adalah jika menjadikan jenggot sebagai satu-satunya ukuran seseorang itu disebut taat beragama atau tidak. Sebagai contoh, jika melihat orang yang tidak berjenggot, maka yang pertama muncul dalam benaknya adalah orang tersebut bukan orang yang sholeh, lalu memandang sinis bahkan menunjukkan tabiat yang tidak respek. Pandangan semacam ini tentu sangat destruktif.

Mari kita sejenak tinggallkan seputar dalil dan keterangan teks-teks agama. Sekali lagi, bukan untuk melestarikan pendekatan sekular dalam memandang sebuah masalah.

Bagi yang sering mempersoalkan masalah jenggot, sebaiknya juga menyimak hal-hal berikut yang mungkin dianggap sepele.

Orang yang alergi dengan jenggot seharusnya tidak rela tinggal di negeri ini, menjadi Warga Negara Indonesia, karena negeri ini tidak hanya diperjuangkan oleh Soekarno dan Hatta yang tidak berjenggot, tapi juga oleh segenap pejuang yang memelihara jenggotnya. Orang yang selalu memojokkan orang-orang yang berjenggot dapat dianggap mencederai historitas negeri ini.

Masyarakat yang agak risih melihat orang yang memelihara jenggot, juga adalah bentuk penghinaan pada leluhur, karena mayoritas orang-orang tua dahulu senantiasa identik dengan jenggot lebatnya yang memutih. Begitu juga dengan orang-orang yang dituakan dalam sebuah komunitas masyarakat, jika kita tidak ingin mengambil contoh para ulama atau kiyai, maka cukup kita melihat para tokoh masyarakat, sebagian besar mereka memiliki raut muka yang dihiasi dengan jenggot.

Kesimpulan sederhananya, secara sosio kultural, face masyarakat sangat friendly dengan jenggot. Jadi, mengusik persoalan jenggot dapat berarti mengusik bagian dari properti budaya (walaupun budaya dalam hal ini masih dapat diperdebatkan). Bukankah potensi kekuatan sebuah bangsa, salah satunya adalah kekuatan budayanya, apalagi Indonesia, seperti yang pernah diucapkan oleh Anis Matta, bahwa kekuatan terbesar Indonesia kedepan adalah kekuatan budayanya.

Bagi seorang laki-laki yang memperhatikan ketampanannya, jenggot juga dapat memperindah tampang serta menambah kewibawaan. Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari misalnya mengatakan: jenggot dapat menambah ketampanan dan membuat wajah menjadi rupawan. (Asnal Mathalib)*

Dalam kehidupan rumah tangga, jenggot juga dapat menjadi nilai tambah keharmonisan, sebagaimana pengalaman pribadi penulis, jenggot memiliki daya tarik tersendiri bagi sang istri, bahkan terkadang menjadi mainannya tatkala bersantai atau bercengkerama, Subehanallah. Belum lagi Syekh Imran Hosein yang  menyebut salah satu tujuan dipeliharanya jenggot adalah agar anak-anak dapat bermain-main dengannya.

Dari semua alasan dan pendekatan yang digunakan bagi orang yang memelihara jenggotnya, tentu sebagai makhluk yang beragama, hendaknya didorong oleh niat dan semangat religiositas.

Meskipun demikian, yang harus dipahami, sebagaimana yang ditulis oleh Ust. Muhammad Yusran hafidzahullah dalam makalahnya bahwa hadits tentang memelihara jenggot menggunakan kata A’fuu al lihyah yang artinya membiarkan jenggot tumbuh sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Daqiq al Ied. Dengan demikian, dipahami bahwa yang dituntut bagi kita adalah jika jenggot tumbuh maka hendaknya dibiarkan, jangan dicabut atau jangan dicukur. Namun tidak ada perintah untuk memaksakan menumbuhkan jenggot.

Allahu A’lam

Sinjai, Safar 1436 H./ Desember 2014 M.

  

Footnote:

*Dikutip dari tulisan KH.Muhammad Idrus Ramli

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: