TANGGAPAN TERHADAP PANDANGAN PROF. DR. H. MUHAMMAD GALIB M., M.A TENTANG SYIAH

11إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

OBJEKTIFITAS DAN KEBERIMBANGAN

Secara umum kami menilai bahwa objektifitas prof. ghalib kurang baik ketika menjelaskan permasalahan syiah ini. Hal ini disebabkan karena kunjungan prof ghalib ke Iran bukanlah murni perjalanan menelaah tentang ajaran ini untuk membandingkannya dengan ahlus sunnah. Perjalanan tersebut hanya sekedar memenuhi undangan organisasi di Iran yang tentu memiliki tujuan tersendiri. Setahu kami pula, seluruh biaya dan akomodasi dari keberangkatan hingga kembali ditanggung oleh organisasi di Iran tersebut ditambah ‘uang saku’ yang terbilang tidak sedikit. Hal ini minimal akan membuka pintu adanya ‘utang budi’ sang professor kepada pihak syiah di Iran. Hasilnya, dapat berupa keperpihakan terhadap ajaran ini, baik secara tegas ataupun tidak. Hal ini terlihat dari kekaguman beliau yang (kami anggap) berlebihan ketika membandingkan ulama ahlus sunnah dengan ulama syiah secara umum.

Sangat disayangkan pula, tidak ada lawatan sejenis ke ulama ahlus sunnah yang berkompeten (di timur tengah atau lainnya) sebagai pembanding dari ajaran dan pengakuan ulama syiah di Iran. Beliau hanya sekedar mengutip pendapat ‘ulama’ Irak dan Dubes Saudi Arabia tentang syiah. Pertanyaannya,  apakah statement (pernyataan) mereka berdua adalah representasi dari ulama ahlussunnah yang telah mengkaji syiah imamiyah secara mendalam. Jika ajaran ahlussunnah tidak memiliki perbedaan pokok dengan syiah, lalu mengapa terjadi pertumpahan darah yang ‘sia-sia’ di Pakistan (dan beberapa negeri timur tengah) karena polarisasi Sunni dan syiah di sana? Seandainya kita sama saja dengan syiah, Apakah perlu MUI mengeluarkan fatwa untuk mewaspadai aliran ini?

Jika kita berangkat dari hati yang jernih dan keinginan untuk melihat keutuhan Islam yang murni dalam hal akidah, pantaskah kita menggandengkan kesesatan dengan petunjuk? Ketidak berpihakan kita terhadap syiah tidaklah dikarenakan kita MERASA paling benar dan ingin mendominasi, tetapi karena kinginan kita menjaga kemurnian ajaran Islam ini.

MEMAHAMI FATWA MUI TENTANG SYIAH

Mengenai fatwa MUI pusat mengenai ajaran Syiah ini, kami menilai Prof. Galib kurang objektif dalam bersikap dan berpendapat. Fatwa MUI sebaiknya tidak hanya dipahami secara parsial. Memahami fatwa tentang ajaran syiah, sebaiknya dilakukan dengan melihat seluruh fatwa MUI serta keputusan-keputusan dari MUI yang lainnya. Hal ini, untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang bagaimana sebenarnya pendangan MUI tentang ajaran ini, bukan memahami bersadarkan pendapat pribadi, yang kemungkinan besar bisa kurang tepat.

Dalam kumpulan fatwa MUI sejak 1975 yang diterbitkan oleh penerbit erlangga bekerja sama dengan sekretariat MUI pusat, setidaknya ada 3 fatwa yang bersesuaian dengan permasalahan syiah. Pertama, fatwa tentang  Faham Syiah (hlm. 46); Kedua, fatwa tentang nikah mut’ah (hlm.375); Yang ketiga, keputusan ijtima’ ulama komisi fatwa se- Indonesia tahun 2006 tentang Masail Diniyyah Asasiyyah Wathaniyyah pada poin C mengenai Taswiyatl al Manhaj (penyamaan pola pikir dalam masalah-masalah keagamaan) pada hlm. 841. Sebagai tambahan pula kami akan mengutip 10 kriteria aliran sesat versi MUI pusat dan relevansinya terhadap aliran syiah serta fatwa MUI daerah seperti MUI Jawa Timur dan MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Aceh terkait tentang syiah.

Pertama, fatwa MUI tentang Paham Syiah (hlm. 46) disebutkan bahwa Paham Syiah adalah salah satu paham dalam dunia Islam yang mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (ahlus sunnah wal jamaah) kemudian di paparkan 5 perbedaan pokok tersebut dan ditutup dengan menghimbau agar uamt Islam yang berfaham ahlus sunnah wal jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran syiah.

Kedua, tentang nikah mutah (hlm. 375) pada fatwa tersebut setelah memperhatikan 4 hal, menimbang 4 hal serta mengingat dalil dallil yang dikemukakan oleh jumhur ulama tentang keharaman nikah mutah serta meninjau hadis Nabi saw maka MUI memutuskan dan menetapkan 3 hal; pertama, nikah mutah hukkumnya haram; kedua, pelaku nikah mutah harus dihadapkan ke pengadilan sesuai peraturan yang perundang-undangan yang berlaku. Dan ketiga, keputusan ini berlaku sejak ditetapkannya dan bila terdapat kekeliruan dikemudian hari akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.

Dua hal penting yang menjadi pertimbangan dari fatwa keharaman nikah mutah tersebut kami kutip langsung ialah:

“bahwa praktek nikah muta’ah tersebut telah menimbulkan keprihatinan, kekahawatiran, dan keresahan bagi para orangtua, ulama, pendidik, tokoh masyarakat, dan uat islam Indonesia pada umumnya, serta dipandang sebagai alat propaganda paham syiah di Indonesia

“bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (ahlus sunnah wal jamaah) yang tidak mengakui dan menolak paham syiah secara umum dan ajarannya tentang nikah mutah secara khusus”

Selanjutnya pada Masail Diniyyah Asasiyyah Wathaniyyah poin C tentang Taswiyatul al Manhaj (penyamaan pola piker dalam masalah keagamaan) pada hlm. 841 disebutkan:

“perbedaan yang dapat ditoleransi adalah perbedaan yang berada dalam majal al ikhtilaf (wilayah perbedaan). Sedangkan perbedaan yang berada diluar majal al ikhtilaf tidak dikategorikan sebagai perbedaan melainkan sebagai penyimpangan; seperti munculnya perbedaan terhadap masalah yang sudah jelas pasti (ma’lum min al din bi al al dlarurah).”

“Majal al ikhtilaf afalah suatu wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana alaihi wa ashhabiy, yaitu faham keagamaan ahlus sunnah wal jamaah dalam pengertian yang luas”

(Huruf tebal pada kutipan diatas adalah penekanan dari kami)

KRITERIA ALIRAN SESAT MENURUT MUI

Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2007 menetapkan 10 kriteria aliran sesat, yaitu sebagai berikut:

 

  1. Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
  2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Sunnah)
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an
  4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an
  5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam
  7. Melecehkan / mendustakan Nabi dan Rasul
  8. Meningkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir
  9. Mengurangi / menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan syari’ah
  10. Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya

 

Menurut MUI dan pernyataan Bapak Sekretaris Umum MUI Pusat, Drs. H.M. Ichwan Sam bahwa masyarakat dapat menggunakan kriteria tersebut untuk menilai sebuah aliran itu sesat atau tidak, keluar dari ajaran Islam atau tidak. Jika satu saja kriteria yang muncul dari suatu paham atau aliran dari sepuluh kriteria di atas maka paham atau aliran tersebut sudah dapat divonis SESAT dan menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

 

13 Kriteria Aliran Sesat Versi Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (Fatwa MPU NAD NO. 4 Tahun 2007)

  1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6 (enam), yaitu beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya, kepada hari akhirat dan kepada Qadha dan Qadar-Nya.
  2. Mengingkari salah satu dari rukun Islam yang 5 (lima), yaitu Mengucap dua kalimat syahadat, menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji.
  3. Meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan I’tiqad Ahlus-Sunnah waljama’ah.
  4. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an
  5. Mengingkari kemurnian dan atau kebenaran Al-Qur’an
  6. Melakukan penafsiran Al-Qur’an tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
  7. Mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
  8. Melakukan pensyarahan terhadap hadits tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu mushthalah hadits.
  9. Menghina dan atau melecehkan pada Nabi dan Rasul Allah.

10.Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

11.Menghina dan atau melecehkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.

12.Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’at, seperti berhaji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu dan sebagainya.

13.Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’ie yang sah, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan anggota kelompoknya.

 

Sebagai tambahan bahwa MUI propinsi Jawa Timur  tertanggal 27 Shafar 1433 H/ 21 Januari 2012 M telah mengeluarkan fatwa tentang KESESATAN SYIAH. Ini adalah hasil dari pengkajian dan penelitian dan fenomena syiah di Jawa Timur. Berikut adalah kutipan hasil keputusan fatwa tersebut .

  1. Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI – MUI daerah yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Mazhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.
  2. Menyatakan bahwa penggunaan Istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adalah bentuk pembajakan kepada ahlul bait Rasulullah Saw.

Selain itu, pada kumpulan fatwa MUI halaman 8 pada BAB Penutup dari pedoman dan prosedur penetapan fatwa MAJELIS ULAMA INDONESIA terdapat UNGKAPAN:

“Fatwa MUI maupun MUI Daerah yang berdasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan dalam Surat Keputusan ini mempunyai kedudukan sederajat dan tidak saling membatalkan”

Dengan merujuk kepada pandangan MUI Pusat dan MUI Daerah diatas maka Fatwa MUI Pusat untuk mewaspadai Syiah dan Fatwa MUI Jatim yang menyesatkan syiah tidak saling bertentangan bahkan saling melengkapi.

HADIS GHADIR KHUUM

Syiah menjadikan hadits ghadiir khum (Sungai Khum) sebagai dalil bahwa yang seharusnya menjadi khalifah setelah Rasulullah Saw. Adalah Ali bin Abu Thalib r.a., berdasrkan sabda beliau:

“Man kuntu maulahhu fa ‘aliyyun maulahu”

Barangsiapa yang (menjadikan) aku sebagai penolongnya, maka Ali (juga) sebagai penolongnya

Mereka memaknai hadis ghadir khum ini dengan hak kekhalifaan Ali r.a. sebagai pengganti beliau saw. Menurut mereka kata al maulaa disini berarti al waali, yaitu pemimpin yang harus ditaati. Demikianlah argument mereka terhadap hadis ghadir khum itu. Pada riwayat lain dalam as silsilatuh  shahiihah (no. 1750) diceritakan bahwa Ali r.a.ketika berada di Rahbah (Kufah) bertanya kepada sahabat tentang ucapan Nabi saw tersebut dan sahabatpun bersaksi bahwa mereka benar-benar mendengarnya.

Untuk memahami hadis ini dengan baik, kita perlu melihat dari dua sisi yang pertama adalah peristiwa yang mendahului (penyebab) hadis tersebut serta makna dari kata-kata Rasulullah saw. Didalamnya. Pertama, sebab sebenarnya terkait sabda Nabi saw tersebut ialah untuk mengembalikan nama baik Ali dengan memuji dan mengingatkan keutamaannya. Tujuannya untuk menghilangkan kesan negative yang melekat dihati banyak orang. Yaitu, karena pada sahabat sempat mempersoalkan kebijakan Ali r.a. diantaranya yaitu riwayat dari Buraidah bin al Hashib r.a. yang menceritakan bahwa Ali r.a. diutus oleh Rasulullah untuk mengambil ghanimah di Yaman yang telah ditalukkan oleh Khalid bin al Walid r.a. Ali kemudian datang, lalu mengambil seorang gadis dari khumus tersebut dan menggaulinya, tetapi Rasulullah melarang Buraidah untuk membenci Ali dengan bersabda: “janganlah kamu membencinya. Karena, bagian khumus-nya lebih dari itu” (lihat Shahiihul Bukhari, Kitab “al Maghaazi”, Bab “Ba’tsu Ali wa Khalid, radhiyallahu anhum ilal Yaman”) dan persoalan ini hanya berkaitan dengan orang-orang Madinah yang bersama Ali sehingga Beliau saw. Menunda tanggapan terhadap isu miring tersebut hingga dalam perjalanan pulang, yaitu saat di ghadir khum.

Kedua, pada pemaknaan hadis diatas perlu kita cermati dari hadis-hadis yang sejenis. Misalnya terdapat hadis: “Ya, Allah cintailah orang yang mencintainya (Ali) dan musuhilah orang yang memusuhinya” hadis ini dipandang sebagia penjelas sabda beliau di ghadir khum “fa Aliyyun maulahu” yang dimakssudkan agar kaum muslimin mencintai Ali bin Abi Thalib r.a. selain itu ibnu atsir menerangkan bahwa makna kata ‘maulahu’ bagi orang arab bisa sangat beragam. Dalm hadis ghadir khum tersebut tidak ada yang menunjukkan bahwa maksud Nabi saw. Adalah kepemimpinan. Karena, seandainya yang dimaksud adalah Khilafah (kepemimpinan), niscaya beliau tidak akan menggunakan kata yang multi tafsir sebagaimana yang diterangkan Ibnul Atsir. Seandainya Rasulullah menginginkan al waali (pimpinan), niscaya beliau tidak akan mengatakan maulaa, tetapi waali. Karena maulaa berbeda dengan kata waali. Al waali terambil dari kata al wilaayah yang bermakna hukum (kekuasaan), sedangkan kata al maulaa terambil dari kata al walaayah yang bermakna kecintaan dan pertolongan. Sebagaimana kata maulaa pada QS. At Tahrim: 4 dan Ali Imran: 68 serta QS. Muhammad: 11

Dari uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa hadis al ghadir tidak menunjukkan secara jelas bahwa Ali r.a. adalah khalifah terpilih setelah Rasulullah saw. Hadis ini menunjukkan bahwa Ali r.a. adalah seorang wali Allah swt. Kita wajib ber-muwaaalaat kepada Ali r.a. dalam arti mencintai, menolong, dan mendukungnya.

KESIMPULAN

Dari kesemua hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Prof. Ghalib keliru secara pribadi dalam BERPENDAPAT dan menialai ajaran syi’ah Imamiyah yang bersumber dari Negeri Iran. Hal ini, menurut kami dikarenakan kepekaan terhadap ajaran ini mulai berkurang terhadap beliau karena kurangnya penelitian yang mendalam dan berimbang serta karena kurangnya objektifitas beliau dalam menialai ajaran ini.

Mengenai persoalan sunni syiah adalah pekerjaan orang diluar Islam yang ingin mengadu domba. Adalah kurang tepat, dan akan timbul pertanyaannya apakah ada data yang jelas mengenai hal tersebut?  Atau hanya didasari persangkaan bahwa negeri Iran bersikap kontra terhadap Amerika. Jangan sampai, pernyataan ini hanyalah untuk melegitimasi penyebaran Syi’ah di negeri kita?. Seruan untuk bersatu tentu dengan tangan terbuka akan kita terima jika kedua pihak JUJUR dalam mewujudkan hal tersebut.  Apa yang kita lakukan adalah untuk melindungi akidah dari penyimpangan.

Cukup sulit untuk menerima tawaran ukhuwah sunnah Syiah, jika salah satu kelompok tidak jujur untuk merealisasikannya. Acara seperti aysuro adalah tusukan dari belakang nan mendalam, bagi kaum muslimin. Sementara dihadapan khalayak, kelompok syiah mengobral ‘gombal’ ukhuwah dan persatuan. Dimana ukhuwah dan persatuan, sementara genderang pelecehan selalu terdengar dalam ceramah dan tertulis di buku-buletin mereka. Siapakah sebenarnya yang melestarikan perpecahan dan menolak persatuan? Ketidak jujuran dalam berkata dan berbuat menjadi titik penolakan terhadap kelompok Syiah Imamiyah. Hingga akhirnya dipahami, Syiah Imamiyah memiliki konsep unik dalam prinsip perjuangan yang terselubung dan tersembunyi. Konsep itu disebut, konsep “Taqiyyah”. Secara ringkas Taqiyah adalah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk mengelabui manusia (lihat al kaafi fil ushul Juz II hal 217).

Cita-cita untuk menyatukan keduanya mungkin hanya akan menjadi ilusi. Jika pun terjadi mungkin hanya bisa ‘dipaksakan’ dan berada dalam kepura-puraan. Terlebih ada doktrin Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan sesungguhnya) kepada ‘lawan’ oleh pihak syiah. Perlu ada rumusan ukuwah yang konkret, karenanya menurut Prof. Mohammad Baharun, belum pernah ada contoh persatuan atau ukhuwah seungguhan antara ahlus sunnah dan Syiah. Perlu ditekankan, ukhuwah memang penting tetapi pendidikan dan keimanan lebih penting, tegas Prof. Baharun. Umat mayoritas di negeri (Sunni) seperti Indonesia ini terluka karena pelecehan dan penistaan yang diakibatkan oleh buku-buku dan ceramah orang syiah, bahkan secara terang-terangan melaknat/ mengkafirkan pemuka sahabat Nabi (Amirul Mukminin) dan Istri Nabi (Ummul Mukminin) serta sering juga mendekonstruksi hadis-hadis Sunni dengan mencela Bukhari dan Muslim.

Terlebih tujuan akhir dalam perjuangan kaum syiah dapat kita baca dan prediksi melalui literatur dan sejarah mereka. Tujuan menegakkan imamah sebagaimana revolusi Iran yang diusung oleh Khomeini hingga  menelan korban jiwa dan diskriminasi terhadap kaum Sunnah di Iran adalah nyata. Lihatlah dalam fakta sejarah tidak ditemukan satupun masjid Ahlussunnah di Iran yang dapat digunakan oleh kaum sunni untuk shalat jumat, hingga menurut duta besar Indonesia untuk Iran, kita hanya bisa shalat Jumat di kedutaan besar saja. Apakah ini yang namanya persatuan? Sementara rumah ibadah kaum yahudi dan Nasrani dapat berdiri dengan megah nan aman.  Bahkan tidak sedikit ulama dan da’i ahlussunnah yang ‘dibersihkan’ (dibantai) di iran oleh Khomeini dalam revolusi mereka. Penyelamatan akidah dan kaum muslimin ahlus sunnah, kewajiban kita semua. Sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.  Jangan sampai, ketika pergolakan telah mereka lakukan baru kita sadar akan pentingnya melakukan upaya preventif. Jangan sampai saudari atau putri kita telah di mut’ah baru kita sadar akan perlunya membendung ajaran ini. Jangan sampai…

Wallahu a’lam.

Tulisan ini adalah tanggapan dari tulisan : https://waetuo.wordpress.com/2015/01/28/pandangan-prof-dr-h-muhammad-galib-m-m-a-tentang-syiah/

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: