Untukmu Sang Bidadari

mtOleh: Muhlis H. Pasakai

Dalam salah satu surat Kartini yang ditujukan kepada Nyonya R.M. Abendanon atau Mandri pada agustus 1900 dibuka dengan kalimat: Bahasa apakah yang dapat kita kuasai untuk mengungkapkan perasaan? Sepertinya bahasa semacam itu tidak ada1.

Mungkin seperti itulah beratnya menggunakan kosa kata yang tepat untuk menjelaskan keputusanku dahulu, hingga redaksi apapun yang kugunakan dalam pesan singkat itu tak sanggup menjelaskan perasaanku yang sesungguhnya.

Masa lalu tak kan sirna ditelan waktu. Walau ditutupi serapat-rapatnya, ia tetap milik kita. Tapi aku bangga di masa itu, kita tak ikut latah cara orang memaknai perasaan. Masa lalu kita bertabur dengan estetika yang sangat rapi, elok, dan sangat etis. Tiba-tiba saja kuputuskan untuk mengakhiri semua itu. Mungkin ada luka, sedih, atau bahkan marah.

Bukan…bukan seperti yang engkau bayangkan. Jahat…iya, mungkin aku jahat. Aku tahu: sekali pilihan menjadi keputusan, konsekuensi menjadi sebuah keharusan, kalimat ini tertanam begitu kuat dibenakku, melalui seorang sahabat aktivis HMI dan Ketua BEM Fakultas Hukum UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) saat itu. Aku siap menelan semua pil pahit yang dialamatkan padaku. Semua alamat itu benar, karena telah kudesain sedemikian rupa, agar aku hancur. Dengan kehancuran kredibilitasku itulah yang memuluskan langkahku untuk sampai pada puncak keputusan.

Untuk apa?, untuk mengakhiri teka-teki yang tak pernah terpecahkan. Agar kelopak bunga yang telah kau rawat selama ini tetap indah dan terjaga kesucian dan aroma wanginya.

Ada lagi. Berat..memang berat, aku tak tega melihat setangkai kembang lebat bersama kumbang tak bersayap lebar. Ia terlalu berharga. Aku salah menaklukkan mimpi, mimpi yang tak rela kusaksikan terwujud. Aku tahu, idealismemu memberontak. Bukan aku tak percaya pada idealisme itu, itu mengingatkanku pada pengantar yang ditulis Franz Magnis Suseno pada buku Catatan Pinggir 5 Gonawan Mohammad, tentang perbedaan tempat letak kebajikan: tubuh atau pikiran? Menurut mazhab Yhu Xi, salah satu mazhab dalam tradisi Khong Hu cu, kebajikan ditemukan dalam pikiran. Berbeda dengan Ito Jinsai, seorang tokoh pemikiran Khong Hu cu abad ke 17 M. di Jepang, ia berpendapat bahwa justru pikiran membutuhkan tubuh untuk menjadi titik persentuhan dengan dunia dan orang lain2. Aku tak ingin berpolemik pada perbedaan itu, karena menurutku: memang pikiran harus diwujudkan melalui fisik, tapi pikiran itu pun dapat hidup meskipun tubuh pemiliknya telah tiada. Relevansi dari penjelasan ini adalah tubuhmu mungkin tak sekuat pikiranmu. Aku takut, tubuhmu tak cukup kuat menopang layar ditengah ombak besar yang kuarungi, hingga idealismemu pun akan takluk dibawah kerasnya realita.

Demi kebahagiaanmu…! Selamat tinggal…!

Sinjai, 2013 M.

 

Footnote:

1 ”Habis Gelap Terbitlah Terang”, R.A.Kartini, Penerbit Narasi, cet.pertama, 2011, Yogyakarta, hal. 57

2 ”Catatan Pinggir 5”, Gonawan Mohammad, grafiti, cet.pertama, 2002, Jakarta, hal. v

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: