Opium Intelektual

suntik-silikon3Oleh: Muhlis Pasakai

Jalaluddin Rahmat, gembong syiah Indonesia dalam dialog sunni-syiah yang diselenggarakan di UIN Alauddin Makassar pada 24 Februari 2011 M./ 21 Rabi’ al Awwal 1432 H. mengutip perkataan salah seorang tokoh pendidikan Jerman yang mengatakan bahwa pendidikan adalah apa yang masih kita miliki setelah sebagian besar kita lupakan1.

Sebagaimana pernyataan yang masyhur dari Imam Malik :

كُلُّ كَلاَمٍ مِنْهُ مَقْبُوْلٌ وَ مَرْدُوْدٌ اِلاَّ كَلاَمَ صَاحِبِ هذَا اْلقَبْرِ “Semua perkataan orang itu boleh diterima dan boleh ditolak, kecuali perkataan penghuni qubur ini”. (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)” , kutipan Jalaluddin Rahmat diatas dan juga nukilan-nukilan yang disampaikan seseorang dapat dipercaya ataupun tidak. Kadar kebenarannya dapat dibuktikan melalui sumber aslinya, sebagaimana dalam qaidah ‘ilmiah: إن كنت ناقلا فالصحح وإن كنت مدعيا فالدليل (jika menukil, pastikan nukilan tersebut valid, dan jika menyampaikan argumentasi, datangkan dalilnya)2.

Penulis sendiri belum pernah mendapatkan rujukan asli dari kutipan Jalaluddin Rahmat tersebut, baik dalam bentuk buku, maupun referensi ilmiah lainnya. Penulis juga memohon perlindungan kepada Allah, mudah-mudahan mengutip perkataan tersebut tidak dikategorikan dalam hadits: وكره لكم قيل وقال (Dia-ALLAH- pun membenci kalian banyak menukil perkataan manusia)3.

Terlepas dari apakah pernyataan itu ada atau tidak, penulis menganggap relevan dengan tema tulisan ini.

*

Bermula dari proyek ARPAnet tahun 1969 untuk kepentingan militer di Amerika Serikat, internet mengawali sejarahnya4. Perkembangannya, internet mengalami pertumbuhan pesat setiap bulan. Hingga kini internet telah merajai dunia teknologi informasi dan komunikasi.

Google yang dirintis oleh dua orang bersahabat, Larry Page dan Sergey Brin5 berkembang menjadi search engine andalan yang tak terkalahkan hingga kini.

Walaupun yahoo berusaha membayang-bayangi, mesin pencari google telah menjadi branding yang mengungguli dunia search engine. Google tidak hanya menjadi mesin pencari yang handal dalam menemukan informasi, tetapi juga dapat menjadi mesin hacker yang powerfull6.

Didukung oleh perkembangan perangkat keras, googling kini telah menjadi culture baru dalam dunia intelektual, dimana sumber-sumber referensi seakan dalam genggaman. Bukan hanya sebagai sumber referensi, tetapi juga sebagai sumber berita/ informasi termutakhir dari berbagai belahan dunia.

Ditambah dengan paket aplikasi kitab-kitab muktabar, kebutuhan referensi ilmiah semakin dimanjakan.

Fitur-fitur modern inilah yang mungkin diidentifikasi oleh Presiden PKS, Anis Matta sebagai salah satu ciri manusia gelombang ketiga dalam narasinya.

Kehadiran mesin pencari google telah mewarnai peradaban intelektual masa kini, dimana hampir seluruh kebutuhan informasi dan referensi telah dijawab hanya dengan mengetikkan kata kunci, kapan saja dengan jangkauan networking yang semakin luas. Sebuah kemajuan dengan simplisitas di satu sisi, tetapi ketergantungan menanti di sisi lain. Ketergantungan itu dapat berdampak pada kemalasan membaca buku atau memperkaya wawasan dan maklumat dengan hafalan, karena mengandalkan “om google”  yang dapat menyajikan literatur dan informasi kapan saja pada saat dibutuhkan. Hal ini semakin disempurnakan dengan teknologi penyimpanan digital, dimana hampir semua buku-buku, kitab dan catatan-catatan telah di digitalisasi.

Dapat dibayangkan jika suatu saat jaringan internet mengalami crash yang berkepanjangan, atau bahkan hilang sama sekali, atau kerusakan menimpa media penyimpanan data digital, maka bergantung kepada siapa lagi sumber-sumber ilmu dapat diperoleh. Oleh karena itu, tradisi penuntut ilmu di zaman ulama salaf sebaiknya tidak ditinggalkan sama sekali, kendati perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin memanjakan. Mungkin berlebihan jika penulis mengkhawatirkan teknologi informasi ini sebagai salah satu mortir yang diluncurkan ke tengah peradaban ilmu kaum muslimin.

Jika betul kalimat yang dikutip oleh pentolan syiah pada paragraf pertama, maka sebaiknya dunia pendidikan kita tidak boleh mengandalkan “googling culture”.

Allahu A’lam Bishshowab

Sinjai, Rabi’ al Awwal 1436 H./ Januari 2015 M.

 

Footnote:

1Bersumber dari rekaman video yang penulis miliki

2Kaidah ilmiah yang sering dikutip oleh KH.Muhammad Idrus Ramli, Dewan Pakar Bahtsul Masail NU Jawa Timur

3Potongan hadits ketiga dalam Bab Berbuat Baik dan Silaturrahim – Kitaabul Jaami’ (Kitab Kelengkapan) Buluughul Maraam karya Al Hafiz Ibnu Hajar al Atsqalaani

4Merujuk pada buku pelajaran KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) yang penulis ajarkan di SMK Muhammadiyah Sinjai

5Merujuk pada buku pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang penulis ajarkan di MTs.Muhammadiyah Balangnipa

6Baca Buku “Seni Teknik Hacking I”

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: