PERJUANGANMU YANG TAK BERGEMING

Oleh: Muhlis Patunru

ust.said

Tergagap, hasad, terpojok, dipermalukan, tokoh takfiri. Seperti itulah diantara tulisan-tulisan orang syiah yang sering dialamatkan kepadanya. Dahulu kami sering mendengarkan materi-materi ceramah yang disampaikan beliau yang berkisar seputar kesabaran atau tazkiyatun nufus, namun entah kenapa setelah gelombang syiah mulai menampakkan “agresinya” di kota Makassar, tiba-tiba putar haluan menghabiskan hampir seluruh energinya untuk menghalau gelombang syiah yang dikomandoi oleh Jalaluddin Rakhmat seorang sosok yang berpamor di negeri ini, terlebih lagi setelah terbentuknya LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) perwakilan Indonesia Timur dimana beliau diamanahkan menahkodai lembaga yang konsen dalam masalah aliran sesat itu.

Kami mengenal beliau melalui pengajian-pengajian yang biasa diselenggarakan oleh mahasiswa sejak kami masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Kota Makassar. Dari situlah kami banyak mengikuti perkembangan khususnya setelah polemiknya dengan gerbong syiah bergulir.

Cukup lama setelah kami meninggalkan kota Makassar, mungkin 2 atau 3 tahunan, komunikasi kami terjalin dalam sebuah keperluan menjawab argumentasi salah seorang guru besar perguruan tinggi Islam yang terkesan pro syiah.

Dalam beberapa kesempatan berikutnya, kami sering menanyai kabar dan bertukar informasi seputar perkembangan aliran sesat.

*

Malam itu tiba-tiba hpku berdering, saat menemani sang istri memperkaya referensi tugas kuliahnya di laboratorium komputer tempatku mengajar. Melihat namanya di panggilan masuk aku jadi bertanya-tanya, “Tak biasanya beliau menghubungiku di malam seperti ini”, gumamku sembari menjawab panggilan tersebut. Ternyata beliau berniat untuk menghadiri undangan walimatul ‘ursy di salah satu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Sinjai keesokan harinya. Beliau menawarkan untuk menggunakan kesempatannya itu untuk mengisi ceramah di masjid yang memungkinkan. Sempat kuanggap rencana itu agak nekat, sebab orang seusia beliau tentu agak berisiko melakukan perjalanan malam ke daerah yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, apalagi menggunakan angkutan umum. Mungkin karena itulah beliau membutuhkan saran dan informasi dariku.

Karena beliau kedengarannya sangat serius untuk safar malam itu juga, bahkan bermaksud menemukan sendiri kendaraan di terminal, akhirnya kusarankan untuk menunggu sejenak. Aku mencari nama-nama sopir yang ada dalam daftar kontak hp-ku, kuhubungi lalu kutanyai posisinya malam itu. Salah seorang sopir yang kukenal sedang menuju ke Sinjai, namun sayang telah melaju meninggalkan pusat kota Makassar, akhirnya menyarankan aku agar menghubungi salah seorang sopir yang diperkirakannya masih berada dalam kota.

Alhamdulillah. Singkat cerita, sang sopir yang terakhir kuhubungi akhirnya dapat menjemput beliau. Sang sopir kuminta untuk mengantarkannya ke alamat rumah mertuaku, tempatku menginap malam itu. Kuperkirakan akan tiba sekitar pukul 2 dini hari.

Malam itu kedua mertuaku sedang berada di Kota Makassar, karena itulah aku bersama sang istri menginap di kota untuk menemani adik-adik ipar dan menangani perniagaan.

*

Sebelum alarm hp yang telah ku set berbunyi, aku telah terjaga dari tidurku beberapa menit sebelum panggilan sang sopir berdering. Tak jauh meleset dari perkiraanku, sekitar jam 2 malam itu, beliau telah tiba di Kabupaten Sinjai. Ahlan wa sahlan, selamat datang di “ Wanua Panrita Kitta”.

Wajah yang sudah menua itu tersenyum sambil memuji Allah, kesejukan dan keteguhan tertanam kuat di raut mukanya. Cukup lama rasanya kami tak bertemu muka. Meskipun dingin, pelukan dan kerinduan sanggup menghangatkan pertemuan malam itu.

Tak banyak waktu untuk bercerita, jam sudah hampir menunjukkan pukul 3. Beliau hanya menanyakan 2 hal; arah kiblat dan toilet.

Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.

*

Berselang 2 atau 3 jam, waktu shalat subuh segera membangunkan kami. Seperti rencana sebelumnya, beliau kami agendakan untuk menyampaikan ta’lim subuh di Masjid Samiih Muhammad Al Almaii, markas DPD Wahdah Islamiyah Sinjai. Beliau menyampaikan seputar perkembangan aliran sesat, khusunya syi’ah yang menjadi ancaman besar bagi NKRI dan tatatan sosial masyarakat.

Senin, 28 September 2015 M.

Sejak pagi, kami bersama 2 orang asatidzah diminta oleh beliau untuk menemaninya berkunjung ke beberapa tokoh Islam di Kabupaten Sinjai dan sekitarnya.

Kunjungan pertama adalah kediaman ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Sinjai yang ternyata mereka adalah sahabat lama. Salah satu hasil pembicaraan ditempat itu, beliau diagendakan untuk menyampaikan ceramah setelah sholat dhuhur di Masjid Agung Nujumul Ittihad Kab. Sinjai, berhubung ketua MUI Sinjai sendiri termasuk salah satu pengurus di masjid tersebut.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sinjai yang juga mantan Sekretaris Daerah Kab. Sinjai, Drs. H. Zainuddin Fatbang. Dalam perjalanan, kami juga menyempatkan diri bersilaturrahim di Pondok Pesantren Darul Istiqomah (Darul Ihsan) Sinjai untuk bertemu dengan pimpinannya yaitu H. Najamuddin Marsuki yang juga adalah sahabat lamanya. Kami pun disajikan menu sarapan ditempat itu.

Di rumah Ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Sinjai, karena beliau juga adalah pengurus PDM Makassar, maka beberapa hal dibicarakan dengan hangat mengenai ormas besar ini.

Pesantren Darul Abrar asuhan Ust. Anwar Harun dan Ust. Muttaqin Said adalah tujuan selanjutnya. Ust. Anwar Harun, pembina pondok pesantren yang berlokasi di Palattae Kab. Bone ini ternyata sedang berada di Yogyakarta. Karena itu, kami langsung menemui pimpinan pondok yakni Ust. Muttaqin Said yang juga putra ulama besar pendiri Pondok Pesantren Darul Huffadz Tuju-tuju, Lanre Said rahimahullah. Beberapa persoalan yang dihadapi dunia Islam seperti perkembangan syiah menjadi topik pembicaraan.

Waktu menjelang pukul 11.00 Wita. Waktu yang telah beliau jadwalkan untuk menghadiri undangan walimah hampir tiba. Kami pun kembali ke rumah untuk bergegas, selanjutnya mengantarkan beliau ke lokasi pernikahan. Beliau disambut sangat ramah oleh keluarga besar pesantren Al Markaz Al Islamy, tempat dilangsungkannya walimatul ‘ursy.

Baru saja dua tiga tegukan menelan air setelah santap siang di acara walimah, waktu pun berjalan terasa cepat. Beliau tak dapat berlama-lama dilokasi karena akan segera kami antar ke Masjid Agung Sinjai sebagaimana rencana sebelumnya. Setelah shalat dhuhur ditunaikan, beliau pun dipersilakan untuk menyampaikan nasehat dihadapan para jama’ah. Serupa dengan materi ta’lim subuh, seputar perkembangan aliran sesat (syi’ah) yang disampaikan cukup menarik perhatian, bahkan beberapa jama’ah menyambut dan menyalaminya setelah nasehat-nasehatnya usai.

Selanjutnya beliau ingin segera melawat ke Pondok Pesantren Darul Huffadz Kab. Bone. Bersama seorang ustadz beliau diantar menuju ke pesantren yang peminatnya cukup berjibun itu.

Puluhan menit dari pukul 2 siang telah berlalu, beliau sudah berada di penghujung agenda selama berada di Kab. Sinjai. Kami merencanakan keberangkatannya kembali ke Kota Makassar menjelang maghrib, selain jadwal keberangkatan mobil yang yang telah kami hubungi, juga agar beliau memiliki waktu sejenak untuk beristirahat. Namun beliau menginginkan untuk tidak terlalu lama manunda keberangkatannya, akhirnya kami putuskan untuk mencari kendaraan lain yang berangkat lebih dini.

Mungkin beliau sempat memejamkan mata beberapa menit, sampai akhirnya kami menemukan kendaraan di terminal.

Waktu menjelang pukul 3 sore, beliau pun akhirnya meninggalkan Kabupaten Sinjai. Ma’assalaamah…

*

Dimalam hari kami mendapat pesan singkat, beliau mengabarkan telah tiba dengan selamat. Mungkin agar kami tak menghiraukannya, karena selama perjalanan kami sering menghubunginya, untuk memastikan posisi dan kondisi beliau.

Keesokan harinya, melalui pesan singkat, beliau kembali menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyambutnya dengan baik selama berada di Kab. Sinjai.

*

Salah satu puncak perjuangannya adalah gugatan pelanggaran etik terhadap pentolan syiah JR pada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI. Meskipun dengan hasil yang nihil, sidang paripurna DPR RI pada Jumat 3 Juli 2015 menyatakan JR dan seorang anggota dewan lainnya tidak melanggar etik, namun beliau tak pernah berputus asa.

Mungkin beliau tak sehebat para pahlawan, tapi keberanian mengambil risiko itulah yang tidak banyak orang sanggup melakukannya. Meninggalkan pekerjaan pada institusi pendidikan yang tak “welcome” atas prinsipnya adalah salah satunya. Mungkin hari ini orang rela menggadaikan idealismenya demi “zona nyaman” profesinya, tapi tidak baginya.

Dimana-mana orang hari ini sibuk memikirkan jenjang karirnya, masa depan dan status sosial politiknya. Namun ternyata masih ada segelintir orang yang rela mempertaruhkan semua itu demi sebuah jati diri (keyakinan).

Kami banyak mengenal aktivis da’wah, tapi tak banyak yang memiliki kerendahan seperti beliau, yang sangat jauh dari kesan eksklusif. Contohnya saja ketika kami mengantarnya kemana-mana dengan kendaraan roda dua (motor), begitu pula dengan perjalanan dan jamuan yang kami berikan, yang sangat jauh dari pelayanan istimewa.

Pernah juga diceritakan oleh seorang da’i, bahwa pada suatu waktu beliau diantar untuk menyampaikan sebuah ceramah, dalam perjalanan tersebut melewati sepasang muda-mudi, beliau pun berhenti dan menanyakan kepada mereka, bahwa apakah mereka pasangan suami istri, dan ternyata dijawab bukan, beliau pun menyempatkan diri untuk memberikan nasehat kepada mereka. Sebuah pemandangan yang mungkin hari ini kita rindukan dari seorang tua yang layaknya menasehati anak cucunya sendiri.

Dalam kesempatan yang lain kami juga pernah mendengar, beliau dalam sebuah silaturrahim menyaksikan seorang anak yang berbaring telungkup, beliau pun menasehati anak tersebut dengan menyampaikan sebuah hadits tentang larangan tidur tengkurap/ telungkup.

Catatan lain yang tak dapat dilupakan, bahwa beliau termasuk guru/ murabbi di awal-awal, sebelum kita menyaksikan gerakan da’wah yang merumput di Kota Makassar saat ini. Hingga kini, meskipun diusia yang sudah sepuh, sepak terjangnya dalam dunia da’wah tak pernah bergeming menghadapi risiko pilihan hidupnya.

Sebelum mengakhiri kisah ini, ada pesan berharga yang beliau titip, yaitu memperbanyak silaturrahim. Banyak hal yang terkadang rumit untuk diputuskan dalam forum, tapi teduh dicairkan dalam suasana kekeluargaan, begitu katanya.

Itulah sepenggal kisah bersama salah seorang hamba Allah, Muhammad Said Abd. Shamad, semoga Allah menguatkan dan menjaganya, serta mewafatkannya sebagai syahid fi sabiilillah.

Melalui kesempatan ini kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada beliau jika menuliskan kisah-kisah kebaikannya sebelum beliau meninggal dunia. Kami yakin beliau tahu persis bagaimana para salaf kita melarang mengumbar kebaikan-kebaikannya selama masih hidup. Ibnul Mubarak misalnya, setelah berduel dengan orang kafir sampai membunuhnya hingga enam orang, begitu juga ketika melunasi hutang seseorang yang ditahan untuk dibebaskan, semua itu dilarang untuk diceritakan selama masih hidup*. Adapun kami menulis, selain karena khawatir akan melupakan kisah ini jika ditunda terlalu lama, juga merasa momentumnya telah tiba. Harapan kami, mudah-mudahan dapat menginspirasi generasi muda khususnya agar tidak larut dan terlena oleh mainstream pragmatisme hedonis. Akhirnya, hanya kepada Allah lah kami memohon rahmat dan ampunan.

Semoga bermanfaat.

Allahu A’la wa A’lam

 

Sinjai, Dzulhijjah 1436 H./ September 2015 M.

 

Footnote:

* Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz B. Nashir Al Jalil.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: