Mengapa Saya Berpoligami?

poligami-2Oleh: Muhlis Pasakai

Anita, mahasiswi tingkat akhir yang dikenalkan padaku menjelang rencana pernikahanku tahun itu. Orang yang dikenal baik orang tuanya di keluargaku. Orang berada yang hidup dalam lingkungan keluarga yang serba mewah.

Jujur, aku belum sepenuhnya siap untuk menikah saat itu. Apalagi, sesungguhnya dia bukanlah kriteria perempuan yang kuidamkan. Sebagai seorang aktivis di salah satu NGO, tentu saya mendambakan pendamping hidup yang berjiwa aktivis pula, cerdas, paham agama, dan bisa memahami kondisi keluargaku.

Hal itu sudah kuutarakan pada ayah-ibuku, tapi simpati orang tuaku pada ayahnya yang dermawan mengalahkan alasanku.

Keluargaku memang sudah lama menjalin hubungan dengan orang tuanya. Meskipun tergolong orang kaya, mereka sangat berbaur dengan keluargaku. Kami sudah banyak terbantu oleh ayahnya selama ini. Entah itu ongkos sekolah, biaya pengobatan hingga urusan dapur. Meskipun orang tuaku sangat bersimpati atas keramahan mereka, kesenjangan ekonomi membuatnya enggan untuk mengajak mereka besanan.

Sebenarnya ide pernikahanku ini tidaklah muncul dari orang tuaku. Tentu mereka malu untuk menyampaikan hal itu, kendati pun mereka sangat menghendakinya. Dalam obrolan-obrolan ringanlah tersirat pesan persetujuan dari ayahnya, itulah yang memberanikan orang tuaku menyampaikan niat baiknya, dan betul disambut hangat oleh keluarganya.

Ayahnya memang acapkali memujiku. Atas prestasiku di kampus, kegigihanku, sampai keterlibatanku mengadvokasi korban-korban ketidakadilan hukum. Mungkin karena itulah ayahnya menaruh hati padaku. Sang putri yang terbilang muda itu pun turut pada kehendak ayahnya. Meskipun aku menduga waktu itu ia pun tertarik padaku. Dan betul, ia mengakuinya di kemudian hari, karena itulah ia turut pada kemauan ayahnya.

*

Proses pelamaran berjalan lancar. Pesta pernikahan pun berlangsung meriah, dihadiri keluarga besar kedua mempelai. Teman-teman alumni, seperjuangan dikampus, hingga kenalan baru turut menghadiri dan merasakan kebahagiaan keluarga kami.

*

Anita adalah perempuan yang berparas cantik, dermawan seperti ayahnya. Saya pun merasa beruntung dapat menikahi gadis sepertinya. Kami mengawali rumah tangga kami dari sebuah rumah kontrakan sederhana yang terletak di pinggir kota. Meskipun mertua kami ingin membelikan hunian mewah di salah satu kompleks di pusat kota, tapi saya selalu tegak diatas pendirianku, ingin hidup mandiri, seperti yang telah dilalui para tokoh yang banyak menginspirasiku.

*

Sebagai orang yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga pengusaha yang serba ada, hampir semua kebutuhan Anita dipenuhi dengan mudah, sehingga ia tumbuh dengan penuh kemanjaan. Berbeda dengan keluargaku, yang hidupnya ditempa dengan perjuangan. Mental “manja” yang dimiliki itulah yang tidak mudah diadaptasikan dalam kehidupanku. Itu pulalah yang harus membuatku sabar dalam membimbingnya.

Meskipun Anita selalu mengeluhkan pilihan hidup saya, tapi hampir setiap saat saya meyakinkannya bahwa kehidupan yang nikmat itu adalah kehidupan yang diperoleh melalui perjuangan.

*

Tahun pertama telah kami lalui. Gaya hidup Anita belum banyak berubah. Gaya hidup boros, serba instan, dan bermalas-malasan masih mewarnai kesehariannya. Aku selalu menyalahkan diriku, sebagai seorang suami yang gagal membinanya. Tapi aku tidak pernah putus asa. Semua kulalui penuh harap dan ketegaran. Jika menu makanan belum tersajikan di waktu makan, aku mencoba berprasangka baik, mungkin Anita lelah, atau ada urusan penting. Begitu juga ketika cucian yang menumpuk, atau pakaian kering yang tak terurus. Aku tak pernah berpikir panjang untuk mengambil alih semua tugas-tugas itu.

Sampai akhirnya kami dikarunia seorang putri. Anak pertama yang dilahirkan melalui operasi/ cesar. Kehadiran bayi di tengah-tengah kami semakin menambah alasan Anita untuk tidak terlalu mengurus kebutuhanku. Tempat tidur pun selalu tampak lusuh. Kebutuhan bayi dan seribu satu kebutuhan lainnya semakin bertambah, sementara penghasilanku tidak menentu. Inilah konsekuensi seorang aktivis, yang selalu ingin hidup diatas idealismenya. Di atas meja dan rak bukuku masih bertumpuk perkara hukum yang kutangani, hampir semua tanpa bayaran. Kasus salah tangkap, penculikan aktivis, perampasan lahan petani, sampai kecerobohan pasukan anti teror. Bukannya menambah penghasilan, semakin dalam kasus yang ingin kuungkap, semakin besar intimidasi yang mengancam keluargaku. Ada sih, terkadang amplop tebal untuk tutup mulut, tapi idealismeku belum sanggup diluluhkannya.

Suatu hari, sahabat lamaku di hijau hitam datang mengajakku untuk bergabung di partainya. Dia mengajakku untuk migrasi jalur perjuangan, berjuang lewat partai skalanya bisa lebih besar, lebih kuat, dan profesi di dewan lebih bergengsi, begitu katanya. Namun aku sama sekali tidak tertarik. Aku lebih tertarik untuk melanjutkan studi ke luar negeri, begitu jawabku.

*

Hingga kini aku belum merasa memiliki rumah tangga sendiri, Anita terus dibawah bayang-bayang ibundanya. Hampir seluruh kehidupan kami sejak semula selalu ingin diatur oleh ibu mertua kami. Padahal menurutku sendiri, salah satu kunci rumah tangga yang sukses adalah rumah tangga yang mandiri dari intervensi keluarga.

*

Anita kini jarang berada dirumah kontrakan kami. Ia lebih sering menginap di rumah orang tuanya bersama putri kecil kami, berjalan-jalan dan shoping bersama saudara-saudaranya. Memang aku selalu diajaknya, tapi aku sama sekali tidak bisa mengikuti gaya hidup mereka. Disana kebutuhan Anita lebih terpenuhi, mendapat perhatian besar dari orang tua dan saudara-saudaranya. Mungkin karena itulah, Anita lebih cenderung loyal dan perhatian pada mereka dibandingkan padaku sendiri. Contoh kecilnya saja, ia sering membuat makanan istimewa untuk saudara-saudaranya, dan meluangkan waktu yang banyak untuk mereka, sementara aku sendiri tidak mendapat perhatian sebesar itu. Aku sudah menjelaskan bagaimana posisi istri terhadap suaminya, sesulit apa pun kehidupan itu, seorang istri yang baik akan senantiasa betah dirumah mendampingi suaminya.

*

Aku sadar, semua ini adalah konsekuensi. Aku tahu, selama ini kualitasku sendiri tak pernah kubenahi sebaik mungkin, lalu menuntut untuk mendapatkan pasangan yang ideal. Mungkin inilah yang dimaksud dalam salah satu ayat Al Qur’an: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur: 26).

Meskipun demikian, fase perjalanan ini kami lalui sebagai sebuah pelajaran berharga. Kujadikan sebuah momentum untuk mengoreksi kehidupan spiritualku selama ini.

*

Jarak semakin terasa. Kultur keluarga tempatku dibesarkan, meskipun mereka tergolong miskin tapi sangat menjunjung tinggi adab dan sopan santun. Sementara Anita dan saudara-saudaranya yang dibesarkan dengan kecintaan yang berlebih membuatnya kurang menghargai etika sopan santun. Karena itulah mereka sering menjadi sorotan di keluargaku.

Hubungan ranjang pun semakin renggang. Anita kurang perhatian terhadap kesehatan dan kecantikan organ genitalnya, begitu juga dengan sensualitas fisiknya, sehingga aku menjadi tak berselera berhubungan badan dengannya.

*

Tahun-tahun berikutnya kehidupanku sudah lebih baik. Disamping bisnis kecil-kecilan yang kujalankan, tulisan-tulisanku juga sudah mulai dimuat di media. Selain itu, aku juga sudah banyak menjadi narasumber di berbagai kegiatan.

Sampai saatnya saya merindukan menjadi seorang suami yang sesungguhnya. Suami yang dilayani seorang istri dengan baik. Rumah yang rapi dan bersih. Busana rapi yang siap pakai. Pulang kerja disambut anak istri. Suami yang dijaga kewibawaan dan kehormatannya. Orang tuanya dihargai sang istri. Serta seorang ayah yang dikagumi anak-anaknya. Aku menyampaikan semua itu kepada Anita saat aku ikut menginap di rumah mertuaku malam itu, karena aku rindu pada putriku.

Aku membujuk Anita untuk lebih betah di rumah kontrakan kami, atau sekali-kali menginap di rumah orang tuaku, apalagi ayahku beberapa hari ini sedang jatuh sakit.

Meskipun sekali-kali Anita menuruti keinginanku, ia terlanjur lebih nyaman dengan gaya hidupnya disana. Perhatiannya lebih condong ke orang tua dan saudara-saudaranya. Hal itu semakin nyata ketika suatu saat aku mengalami kelelahan setelah menempuh perjalanan ke beberapa provinsi untuk investigasi kasus-kasus pelanggaran HAM, tapi Anita lebih memilih untuk menghadiri sebuah acara keluarga saudaranya.

Kini hidupku terasa semakin tak menentu. Jika aku memilih untuk menginap sendiri di rumah kontrakan, teringat putri dan istriku. Jika ikut menginap bersama mereka di rumah mertua, teringat pekerjaan yang kutinggalkan.

*

Untuk mengobati kejenuhanku terhadap naskah-naskah hukum, aku mencoba membuka lembaran-lembaran tua, hasil-hasil karya tulisku di bangku kuliah dahulu. Sejenak aku dapat terhibur membaca tulisan-tulisan lama itu. Meskipun terasa sepi tanpa kehadiran anak istri di rumah, akhirnya aku menjadi terbiasa.

Membaca tulisan-tulisan lama itu, aku seperti menemukan kembali potensiku. Puisi, cerpen, esai dan karya sastra lainnya ternyata mewarnai hidupku di masa lalu. Dorongan itulah yang akhirnya membawaku bergabung di sebuah komunitas sastra. Meskipun namanya keren, tapi komunitas ini lokomotifnya adalah para aktivis da’wah. Disini pulalah cikal bakal bergabungnya aku dalam sebuah lembaga bantuan hukum Muslim.

Ketekunanku di komunitas sastra berbuah manis. Setahun lebih aku mempersiapkan sebuah novel yang bergenre pemikiran dan kritik. Setelah 2 naskah yang lalu ditolak, akhirnya kali ini diterima penerbit. Tak kusangka, novel ini disambut antusias oleh pembaca. Semangatku semakin menggebu-gebu melahirkan tulisan-tulisan baru. Aku berharap pundi-pundi dari tulisan ini kelak dapat mewujudkan mimpiku kuliah ke luar negeri.

*

Advokasi kasus hukum dan HAM yang membelit para aktivis da’wah membuat hidupku terasa semakin sesak. Aku diintimidasi dan ditekan dari berbagai kalangan, mulai dari preman sampai petinggi negara. Saat itulah aku merindukan cinta dan kasih sayang dari seorang istri.

Di sela-sela perjuangan yang hebat itulah namaku melejit. Di Koran, Tv, radio sampai media sosial namaku mulai hangat jadi pemberitaan.

Semakin aku mendalami sebuah kasus, semakin aku menemukan betapa bobroknya penegakan hukum yang mengintai para aktivis di negeri ini. Keinginanku untuk melanjutkan studi semakin kuat.

*

Hampir satu dekade aku bergulat dengan permasalahan hukum dan HAM. Mewujudkan kerinduanku mengenyam pendidikan di luar negeri pun sudah di depan mata. Melihat progres aktivisme yang kujalani, akhirnya dilirik para punggawa oposisi. Perkenalanku dengan mereka membuka luas jaringanku. Singkat cerita, dari sinilah akhirnya aku dapat mengenyam pendidikan di Universitas Utrecht, Amsterdam.

Selama berada di negeri kincir angin, kesibukanku dengan naskah-naskah akademis membuat komunikasiku dengan Anita sangat terbatas. Apalagi saat itu Anita sibuk dengan lahan bisnis yang baru dibukanya. Meskipun demikian, aku selalu menanyakan kabar putriku.

*

Melewati perjuangan yang panjang akhirnya mengantarkanku menyandang titel pendidikan pada strata magister.

Kepulanganku di tanah air seperti sebuah babak baru. Keputusanku untuk bergabung di jajaran pengurus pusat salah satu ormas Islam membawaku migrasi ke ibu kota negara. Meskipun berjauhan, aku selalu mengunjungi Anita untuk mengobati kerinduanku pada putriku. Selain membidangi masalah hukum, kini beban mengajar di beberapa perguruan tinggi pun semakin menambah kesibukanku. Belum lagi tugas-tugas kuliah di program doktor yang sementara kutempuh. Aku semakin rindu dengan kehadiran seorang istri yang setia mendampingiku. Karena itulah aku memutuskan untuk menikahi wisudawati terbaik salah satu perguruan tinggi ternama di ibu kota, tempatku mengajar.

Khadijah adalah sosok perempuan bersahaja, cerdas dan seorang hafizhah. Meskipun dari keluarga berada, ia dibesarkan penuh semangat juang dan kental dengan nilai-nilai religius.

Putri kiyai yang berparas menawan ini mulai menarik perhatianku ketika saya menjadi pembicara di salah satu seminar yang diselenggarakan di auditorium kampus. Sosoknya sangat memikat saat itu, argumentasinya menarik dan lugas. Saat itulah kehadirannya dibenakku mulai menguras perhatianku padanya.

Meskipun aku tak mengajar di program studinya, tapi karena tugas akhirnya banyak merujuk pada buku-buku yang telah kutulis, ia sering berdialog langsung denganku. Untuk menjaga timbulnya fitnah diantara kami, setiap ingin menemuiku, ia selalu mengajak mahasiswi lain untuk menemaninya. Berawal dari interaksi itulah yang akhirnya perlahan menumbuhkan cinta kami.

Hubungan kami meskipun awalnya sebatas kebutuhan penulisan skripsi, Khadijah akhirnya mengakui kalau dia adalah penikmat tulisan-tulisanku sejak dari dulu.

Setelah kuutarakan latar belakang keluargaku, kami akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan. Proses pelamaran secara resmi pun digelar. Pesta pernikahan/ walimatul ‘ursy berlangsung khidmat.

*

Khadijah bukanlah perempuan yang sempurna, yang sanggup mengisi semua kekurangan Anita, namun ia tahu persis memposisikan dirinya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Itulah yang sanggup merawat keutuhan rumah tangga kami.

Meskipun besar dari pesantren, Khadijah bukanlah wanita yang kaku seperti yang selama ini kuduga. Ia sangat pandai menjaga kesehatan dan kecantikannya, mulai dari makanan, olah raga, hingga dandan dan busananya. Ia sangat perhatian terhadap urusan ranjang, pendidikan anak-anak, gizi keluarga, dan kerapian, keindahan serta kebersihan rumah kami. Aku betul-betul meraskan rumahku seperti syurgaku.

Tanpa meninggalkan baktinya pada aba dan umminya, saya sangat merasa mendapat prioritas disisi Khadijah. Aku baru merasakan menjadi seorang suami yang sesungguhnya.

*

Dari rahim seorang ibu yang sholihah dan cerdas itulah akhirnya lahir anak-anak keturunanku yang menyejukkan mata, berpretasi dan berbakti, seperti yang selalu kuucapkan dalam doaku: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al Furqan: 74).

TAMAT

Semoga Bermanfaat.!

Sinjai, 1436 H.

 

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: