TANGGAPAN TERHADAP PANDANGAN PROF. DR. H. MUHAMMAD GALIB M., M.A TENTANG SYIAH

11إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

OBJEKTIFITAS DAN KEBERIMBANGAN

Secara umum kami menilai bahwa objektifitas prof. ghalib kurang baik ketika menjelaskan permasalahan syiah ini. Hal ini disebabkan karena kunjungan prof ghalib ke Iran bukanlah murni perjalanan menelaah tentang ajaran ini untuk membandingkannya dengan ahlus sunnah. Perjalanan tersebut hanya sekedar memenuhi undangan organisasi di Iran yang tentu memiliki tujuan tersendiri. Setahu kami pula, seluruh biaya dan akomodasi dari keberangkatan hingga kembali ditanggung oleh organisasi di Iran tersebut ditambah ‘uang saku’ yang terbilang tidak sedikit. Hal ini minimal akan membuka pintu adanya ‘utang budi’ sang professor kepada pihak syiah di Iran. Hasilnya, dapat berupa keperpihakan terhadap ajaran ini, baik secara tegas ataupun tidak. Hal ini terlihat dari kekaguman beliau yang (kami anggap) berlebihan ketika membandingkan ulama ahlus sunnah dengan ulama syiah secara umum.

Read more of this post

Kemenangan Jokowi dan Babak Baru Politik Identitas

jkwOleh: Muhlis H. Pasakai

KPU secara resmi menetapkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang pilpres 2014 pada tanggal 22 Juli 2014. Berdasarkan Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor: 535/Kpts/KPU/Tahun 2014 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014, pasangan Jokowi-JK unggul dengan perolehan suara 53,15 % dari pasangan Prabowo-Hatta yang mengumpulkan suara 46,85% dari suara sah nasional. “Perang dingin” di media dan jejaring sosial yang selama ini menggelinding panas pun mencapai klimaksnya dengan kemenangan di gerbong Jokowi-JK.

Read more of this post

Mendamaikan Budaya dengan Syariat

DamaiOleh: Muhlis H. Pasakai

Dalam sebuah perbincangan singkat, kami menyinggung sekilas tentang tradisi dan kebudayaan rakyat. Hal itu karena bertepatan dengan kehadiran saya di salah satu lembaga pemerintahan tingkat Desa untuk sebuah urusan administrasi, juga diperbincangkan adanya surat masuk yang ditujukan kepada Kepala Desa, berisi permohonan izin untuk menggali informasi salah satu budaya setempat yang dianggap diambang kepunahan. Surat itu bersumber dari sebuah sekolah menengah atas yang meminta kepada salah seorang warga di desa tersebut yang dianggap kapabel sebagai narasumber untuk menjadi informan bagi siswa-siswinya seputar tradisi dan ritual budaya masyarakat yang dimaksud dalam surat tersebut.

***

Read more of this post

Kritik atas puisi dan sastra

Oleh: Muhlis H. Pasakai
puisi
Judul ini tentu saja tidak dapat disandingkan dengan buku “Kritik atas Puisi Puisi Indonesia” yang ditulis oleh seorang penyair dan juga novelis Sides Sudyarto DS dengan membedah 35 puisi karya-karya penyair Indonesia. Adapun tulisan ini hanya merupakan kekhawatiran penulis yang dapat terjadi pada karya sastra khususnya puisi. Sekaligus menjadi pertimbangan bagi para sastrawan pemula maupun yang kawakan, itupun jika merasa sepakat dengan ulasan singkat ini. Jika tidak, anggap saja tulisan ini adalah amatan orang awam yang tak paham sastra.
Read more of this post

Kucing Sakit dan Seuntai Belas Kasih

Oleh: Muhlis H. Pasakai kucing Kucing itu mewarnai keindahan tekstur kehidupan di tengah-tengah keluargaku, ia terkadang menggemaskan dengan segenap tingkah yang dimilikinya. Sayang ia menderita sakit sejak beberapa hari ini. Entah penyakit apa yang diderita kucing berbulu halus hitam putih itu, tapi yang pasti ia susah bernafas karena dahak memenuhi kerongkongannya, hidungnya pun berdarah akibat dahak yang mengering di ujung indera penciumnya itu. Ia kini kurus, bulunya yang dulu lembut dan cantik kini tak dapat lagi dibersihkannya, makanan yang disajikan pun tak lagi sanggup dicicipi akibat luka-luka di ujung moncongnya. Singkat kata, kucing itu sepertinya tinggal menanti waktu untuk meninggalkan kenangan lucu bersama kami. Read more of this post

MUTIARA HARGA CAKAR; Potret Murahnya Harga Sebuah Kecantikan

financial_stressOleh: Muhlis H. Pasakai

Cepetan…ikut gak.?

Iya entar, tunggu..tunggu..

Lama banget sih dandannya.!”

Iya dong, biar cowo-cowo pada naksir”

Hemm..jeans baru ya.?, singset banget”

Iya iyalah, hari gini pake rok, mau dilirik siapa?”

Inilah petikan percakapan fiksi yang merefleksikan gejala sosial keremajaan yang sedang meluncur menuju lembah kegelapan.

Gairah di usia remaja memang sedang mendidih untuk meluapkan perasaannya. Semua bentuk keindahannya akan dieksploitasi untuk memperkokoh identitas femininnya. Mereka yang enggan dibatasi oleh norma agama akan membengkak menumpahkan ekpresinya. Disambut oleh modernisasi yang melesat cepat mengendalikan corak aktualisasinya. Hak Asasi Manusia membentuk payung tempat mereka bernaung. Nilai-nilai sosial yang permisif meningkatkan imunitasnya dari sorotan spiritual. Nilai-nilai agama menjadi ompong tak bernyali, ditinggalkan dan dicampakkan bak rongsokan sampah.

Gayung bersambut. Langgam sosial yang alergi terhadap kaidah-kaidah agama akan menumbuh suburkan kebebasan. Otomatis, kehidupan yang serba bebas menjadi rentan terhadap penetrasi heterogenitas budaya asing. Nilai-nilai lokal yang kontra terhadap arus kebebasan ini terus ditekan untuk disingkirkan dari gelanggang interaksi sosial. Kebebasan serta-merta menjamur menjangkiti seluruh klaster kehidupan masyarakat. Dalih kebebasan semakin menguat seiring distorsi intelektual, seakan kebebasan berpikir menjadi ciri tradisi ‘ilmiah.

Read more of this post

Untuk Sahabatku di Ponder (Versi Esai)

Ponder

Oleh: Uban Pamungkas al Muhlis

Masih terngiang kenangan di Pondok itu. Beberapa tahun yang lalu. Dari gelak tawa hingga tangis sedu. Dari belas kasih hingga baku hantam. Ada teh sisri, yang bikin tenggorokan manis hingga keesokan harinya. Nutri sari yang menjadi andalan Djemba-djemba, teh gelas, atau extra joss susu. Langganan ‘tusuk-tusuk‘/bakso tusuk tiap sore. Mas pendek jadi pelarian jika Keso tak datang, atau pangsit diseberang jalan pada malam hari, atau nasi kuning jika malam hampir subuh, atau nasi bungkus versi 5000 di sore hari. Mas Her sang ketua Ponder, yang rajin bereksperimen dengan anti virus, kerjanya online, dan tak menghiraukan keributan. Nugi tukang beli es batu dan memasak, berambut geribo dan body gempal, kerjanya tidur melulu sampai tubuhnya selalu dikhawatirkan akan meledak. Djemba-djemba instruktur program, alergi makanan pedas, sekali-kali turun derajatnya jika mengganti tugas Nugi membeli es batu, dan sangat waspada terhadap penyakit turun berok, sehingga selalu sedia jaket besarnya bersablon PERSIPARE. Sangkala, Anelkanya Ponder, sang pengkhianat (sekedar gelar), dikenang dengan pisang kipasnya, dan si tukang booking lapangan. Burung, si jangkung yang mengandalkan Drogba, sayang tak lihai memakai stick, penghuni sekaligus pengurus HIPMI cabang Kulo yang bermotto dari dulu sampai kiamat. Molonk, sang komando HMTI, kerjanya download film dan bikin situs unduh film. Kotak Amal yang makannya sangat lambat, tukang servis laptop, dan hobi badminton. Uban, musuh besarnya Kotak Amal, tukang demo yang mengandalkan sepatu pemotong rumputnya. Asrul, pakarnya sality, punya konsep ‘system’, dan biasa dipanggil Baddu atau Langgo. Bondeng, si nahkoda Jupiter merah, putra asli Makassar yang jadi tempat bertanya tempat-tempat di Kota Makassar. Andi, paling pendek dan paling kecil, tapi paling cepat mengakhiri masa lajangnya. Mas Bur, punggawa nautika bertaraf internasional, sang penantang yang tak pernah jawara. Iccung, anak pesantren yang takut pada hantu. Terkadang juga datang Mustaming, dewa tidur yang menderita kanker rahim, Hahahaaa……..

-Selengkapnya->

Seputar Istilah Sekolah dan Madrasah.

ImageDalam istilah kita di Indonesia, sekolah biasanya dipakai untuk pendidikan yang menginduk ke Kemendiknas dan Madrasah untuk pendidikan yang menginduk ke Kemenag. Tapi benarkah hanya sebuah nama? Ataukah ada sesuatu di baliknya?

DR. Abdul Haq Zaryuh menulis sebuah artikel di Majalah at Turats al ‘Arabi tahun 1425 H./ 2004 M. yang diterbitkan di Damaskus dengan judul : Madrasah dan kuttab, akar bahasa dan sejarahnya.

Kata sekolah lebih dikenal berasal dari Bahasa Inggris: School. Kata School berasal dari Bahasa Perancis:Ecole. Akar kata School/Ecole adalah Bahasa Yunani: Schole (tempat bersenang-senang).

DR. Abdul Haq menyatakan bahwa kata School juga sudah dikenal di literatur Arab. Berikut ini dinukilkan biografi seorang nasrani yang dikenal di lingkungan kekhalifahan zaman Ar Radhi Billah(322 H.-329 H./934 M.-940 M.) dari Dinasti Abbasiyah. Dia adalah Matta bin Yunus.

Dia berada di Baghdad zaman kekhalifahan Ar Radhi, setelah tahun 320 H. dan sebelum tahun 330 H. Matta bin Yunus adalah seorang ahli manthiq nasrani. Dia berasal dari Dirqani dan belajar di Uskul Mar Mary. Belajar ilmu dari Rofil dan Bunyamin; dua orang pendeta Ya’qubiyyin.

-Selanjutnya..->

GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA

Penulis : Muh. Ikhsan & DR. Muhammad Lutfi Zuhdi, MA

Pengantar
Indonesianampaknya memang akan selalu menjadi lahan subur lahir dan tumbuhnya berbagai gerakan Islam dengan berbagai ragamnya; baik yang “hanya sekedar” perpanjangan tangan dari gerakan yang sebelumnya telah ada, ataupun yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang benar-benar baru. Dan sejarah pergerakan Islam Indonesia benar-benar telah menjadi saksi mata terhadap kenyataan itu selama beberapa kurun waktu lamanya.

Dan kini, di era modern ini, mata sejarah semakin “dimanjakan” oleh kenyataan itu dengan tumbuhnya aneka gerakan Islam modern yang masing-masing menyimpan keunikannya tersendiri. Jagat pergerakan Islam Indonesia modern tidak hanya diramaikan oleh organisasi semacam Muhammadiyah dan NU, tapi disana ada pemain-pemain baru yang juga secara perlahan –namun pasti- mulai menanamkan pengaruhnya. Mulai dari yang mengandalkan perjuangan politis hingga yang lebih memilih jalur gerakan sosial-kemasyarakatan.

Salah satu gerakan Islam tersebut adalah yang menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Salafiyah. Salah satu peristiwa fenomenal gerakan ini yang sempat “menghebohkan” adalah kelahiran Laskar Jihad yang dimotori oleh Ja’far Umar Thalib pada 6 April 2000 pasca meletusnya konflik bernuansa SARA di Ambon dan Poso.[1]
Read more of this post

Jangan (Mau) Terpedaya Ayatullah Iran

Oleh: KH M Said AbdShamad(Ketua LPPI Makassar, Anggota Komisi Dakwah Muhammadiyah Makassar)

Bolehkan kita berkata, “Ketika Republik Indonesia (RI) dan Republik Maluku Selatan (RMS) mengakui tanah air yang sama, bahasa yang sama, negara yang sama, dan bangsa yang sama, mengapa perbedaan dibesar-besarkan?” Tentunya tidak boleh! Ini tanggapan penulis terhadap ungkapan Prof Dr Kamaruddin Amin yang berbunyi, “Ketika Sunni dan Syiah mengakui Tuhan yang sama, Nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?” (Fajar, Selasa, 28/2/2012).

Kamaruddin adalah penulis kedua kesan-kesan perjalanan ke Iran oleh pengurus MUI Pusat dan Daerah baru-baru ini, setelah Prof Dr Hamdan Juhannis. Menurut Hamdan seperti dimuat koran ini pada edisi 15,16, dan 17 Februari 2012, perjalanan akademik ke Iran adalah kerja sama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Mushtafa International University (MIU). Dalam rombongan yang diinisiasi Prof Dr H Umar Shihab itulah beberapa Guru Besar serta Doktor UIN Alauddin Makassar mewakili MUI Sulsel ikut bergabung.
Read more of this post

Menggugat Ajaran Tasawuf, Sebuah Wacana Mencari Kebenaran

TASAWUF DALAM AJARAN ISLAM*

Oleh: KH. Muh. Said Abd. Shamad, Lc.**

“Ilmu kita harus selalu disesuaikan dengan al Qur’an dan sunnah. Maka barang siapa yang tidak menghafal al Qur’an dan tidak menulis Hadis, maka ia dianggap belum paham tentang agama dan tidak layak dijadikan qadhi (hakim).” (Junaid Al-Bagdadi)[1]

A.Pendahuluan

Surah yang paling mulia dalam al Qur’an adalah surah al Fatihah, maka dapat dikatakan bahwa do’a yang paling penting ialah do’a yang terdapat dalam al Fatihah Tunjukilahk kami jalan yang lurus. (QS. [1]: 6). Kenapa kita harus memohon ash Shiraath al Mustaqiim ? pentingkah? Karena ash Shiraath al Mustaqiim adalah jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala. “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. [1]: 7).
Read more of this post

“Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama”

Oleh: Dr. Adian Husaini

BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama.

Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”.

Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Di bagian awalnya, Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana.”
Read more of this post

Irshad Manji: Kebebasan Akademik dan “Salam Pantat”

Oleh: Dr. Adian Husaini

ACARA diskusi Irshad Manji, yang bertema “Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral”, di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM), 9 Mei 2012 dibatalkan pimpinan Universitas. Situs http://www.merdeka.com (9/5/2012) memberitakan bahwa dalam akun twiternya, Irshad Manji menyebut, Rektor UGM-lah yang membatalkan diskusi yang diselenggarakan di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) –pasca sarjana UGM tersebut.

Berbagai pihak kemudian menyesalkan dan memberikan kecaman terhadap keputusan pembatalan diskusi Irshad Manji tersebut. Direktur CRCS, Dr. Zainal Abidin Bagir, seperti dikutip situs yang sama menyatakan, “Terlalu cepat tunduk pada ancaman berarti hidup dalam dan menghidupi atmosfer kekerasan itu. Apakah kita (UGM) sudah hidup dan bernafas dari menghirup udara di atmosfer itu?”

Situs http://indonesiabuku.com, (10/5/2012) menulis judul berita “Rektor UGM Tolak Pemikiran Irshad Manji”. Dikabarkan, ada pihak sangat kecewa karena Rektor UGM, Prof. Ir. Soedjarwadi, M.Eng., Ph.D. telah membunuh demokrasi. Beberapa media melaporkan pernyataan M. Syafii Maarif yang meminta diskusi bersama Irshad Manji harus tetap diadakan. “Saya rasa kampus harus tetap bebas dan punya nyali. Kenapa kampus harus takut dengan ancaman?” kata Syafii, Rabu (9/5/2012), seperti dikutip metrotvnews.com.
Read more of this post

Said Aqil Siradj Menjilat Ludah: Dulu Peneliti Sunnah, Kini Pejuang Syi’ah

Dr. Muhammad Arifin Badri*

PERJALANAN hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah).

Karena itu, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rekaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran

Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj di berbagai media. Said Aqil mengatakan bahwa ajaran Syi’ah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.

Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya, Universitas Ummul-Quro di Arab Saudi. “Wahabi yang keras saja menggolongkan Syi’ah bukan sesat,” demikian klaim Said Aqil.

Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 Said Aqil semasa kuliah di Universitas Ummul-Quro, hal: tha’ (ط), ia menyatakan: “Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial dan ideologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal Syi’ah, Qadiyaniyah (Ahmadiyah), Bahaiyah dan selanjutnya tasawuf.”

Pernyataan Said Aqil pada awal dan akhir desertasi S3-nya ini menggambarkan bagaimana pemahaman yang dianut oleh Universitas Ummul-Quro. Bukan hanya Syi’ah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam.

Karena itu, pada akhir dari disertasinya, Said Aqil menyatakan: “Sejatinya ajaran tasawuf dalam hal “al-hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syi’ah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syi’ah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan idiologi ini sampai ke pada para pengikut Sekte Syi’ah berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” (Silatullah Bil-Kaun Fit-Tassawuf Al-Falsafy oleh Said Aqil Siradj 2/605-606)

Karena menyadari kesesatan dan mengetahui gencarnya penyebaran Syi’ah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.

Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali ludah dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syi’ah. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam Umat Islam di negeri tercinta ini?

*Alumnus Universitas Islam Madinah, dosen tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).

Dikutip dari syiahindonesia.com pada 9 Jumadil ‘Ula 1433 H.

“Dari Cak Nur ke Gus Hamid”

Oleh: Dr. Adian Husaini

TAHUN 1973, Cak Nur (Dr. Nucholish Madjid) menggebrak dunia pemikiran Islam Indonesia dengan gagasan yang menggoncang nalar umat: Islam perlu disekularisasi. Saat itu, 3 Januari 1973, Cak Nur memaparkan makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.”

Dalam disertasinya di Monash University Australia – yang diterbitkan oleh Paramadina dengan judul “Gagasan Islam Liberal di Indonesia” (1999) – Dr. Greg Barton menyebutkan, bahwa melalui makalahnya tersebut, Nurcholish dihadapkan pada satu dilema dalam tubuh umat. Di satu sisi, menurut Nurcholish, masyarakat Muslim harus menempuh arah baru, namun di sisi lain, arah baru tersebut berarti menimbulkan perpecahan dan mengorbankan keutuhan umat. Kata Cak Nur dalam makalahnya: “… pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses liberalisasi. Proses itu dikenakan terhadap “ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam” yang ada sekarang ini…”

Menurut Nurcholish Madjid, ada tiga proses yang harus dilakukan dan saling kait-mengait: (1) sekularisasi, (2) kebebasan intelektual, dan (3) ‘Gagasan mengenai kemajuan’ dan ‘Sikap Terbuka’. Jadi, Nurcholish Madjid sendiri pada tahun 1970 sudah menggunakan istilah ”liberalisasi” untuk proyek Pembaruan Islam-nya. Karena itu, bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia, secara sistematis di mulai pada awal tahun 1970-an.
Read more of this post