Traditional Story: Dari Nonton Bareng Hingga Berburu Ayam

imagesOleh: Muhlis Pasakai

TV One pernah menyiarkan berita tentang seks dan remaja yang mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa sekitar 62% remaja di Indonesia tidak lagi perawan. Salah satu faktor penyebab pergaulan bebas remaja yang dimuat dalam berita tersebut adalah “masyarakat yang semakin individualistis”.

Individualisme belakangan ini memang semakin terasa. Ketidakpedulian, kehidupan yang semakin kompetitif, mungkin sebagai akibat dari pengaruh kapitalisme, perkembangan media sosial, dan liberalisasi diberbagai bidang kehidupan.

Sikap individualis atau egoisme masyarakat merupakan salah satu potensi besar pemicu konflik horisontal.

Read more of this post

Advertisements

Topi

topiOleh: Uban Pamungkas

Topi itu sudah kusam, disekitarnya ditutupi sejumlah kotoran dan sejenis sarang laba-laba. Ia sedang tergantung disalah satu sisi rumahku bersama barang-barang setengah rongsokan lainnya. Topi itu telah lama tak kulihat, ternyata ia sedang menyendiri menunggu kerusakan totalnya atau dibuang bersama sampah.

Melihat itu, aku menjadi iba, aku segera membersihkannya, lalu mencucinya untuk kuabadikan gambarnya di depan kamera. Topi itu mungkin kualitasnya sudah tidak tinggi lagi, tapi ia sangat berharga bagiku karena dapat bercerita tentang sebuah kisah. Kisah sekitar tujuh tahun yang lalu, saat aku memulai hidup di kota metropolitan guna menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Read more of this post

Bias-bias Gugur Bunga

bgOleh: Muhlis H. Pasakai

“Aku akan berhenti menulis, jika getar nadi di jariku berhenti berdetak. Jika tak sanggup kutinggalkan kemerdekaan, brigade huruf-huruf yang kurangkai akan menyerbu benteng-benteng penjajahan”: Uban Pamungkas

Belum tunai selangit cita mengobarkan teriakan takbir, namun jika langkah harus terhenti sampai disini, kalimat ini akan menjadi warisan terakhirku sebagai cendera mata pertarungan belum usai.

Kalimat ini bukan slogan propaganda zaman pergerakan 45. Ini adalah jiwa dari selongsong huruf-huruf yang telah kutumpahkan diatas permukaan putih. Beribu benteng didepan akan ditaklukkan, namun perjalanan tak kan pernah usai hingga kaki di peristirahatan abadi.

Read more of this post

Kentut Bombastis

kenOleh: Muhlis H. Pasakai

Bukan TI-A (1) jika tak ramai, kacau, ribut, hura-hura bawaannya. Aku banyak belajar tentang sebuah kehidupan darinya. Disinilah aku hidup dengan orang-orang yang berbeda karakter, berlainan keyakinan, dan kecenderungan serta identitas yang rupa-rupa.

Hidup di sebuah komunitas berwarna seperti ini sangat berharga mengajarkan kepada kita arti sebuah toleransi, namun sekaligus menguji keandalan konsistensi kita terhadap warna kita sendiri. Suasana pelangi seperti ini adalah hal baru dalam hidupku, sebab masa SMA belum seheterogen ini. Dibalik kemilau warna yang silau itu, kami dapat mewarnai satu permukaan yang dapat merangkul kami dalam kehangatan.

Read more of this post

Ponder dan Jargon-jargonnya

PONDEROleh: Uban Pamungkas

Jargon atau slogan merupakan sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sebuah kelompok organisme atau individu. Slogan-slogan itu merupakan bahasa yang dapat mencerminkan pemiliknya. Bahkan, dapat menjadi artileri dalam sebuah pergerakan. Semboyan-semboyan dapat menjadi rantai sejarah dalam sebuah fase kehidupan, entah itu namanya akronim, peribahasa, pepatah, adagium atau berbagai tirisan kosa kata yang mengandung makna, kendati sampai hari ini penulis belum pernah menemukan buku yang secara khusus menyajikan hal tersebut. Oleh karena itu, menarik sekiranya ada yang berminat melakukan studi sejarah tentang sebuah bangsa, organisasi, atau paguyuban bersama slogan-slogan trademarknya itu. Sebagai contoh: ing madya mangun karsa, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, ubi societas ibi justicia, mali siparappe rebba sipatokkong hingga istilah-istilah ofensif seperti Manikebu dan sebagainya. Adakah hasil studi yang mengurai asal muasal, maksud dan semangat yang dibawa rentetan kata-kata itu serta kaitannya dengan kondisi sosial dan geo-politik.?

Read more of this post

Dua Pallipa

imagesOleh: Muhlis H. Pasakai

Mungkin judul ini agak unik, tapi ini adalah sejarah yang sulit untuk dilupakan. Iya, kisah perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan studinya.

Dahulu aku sering membaca, tentang orang-orang yang tidur beralaskan koran. Seperti dalam dongeng, walaupun dimuat dalam berita. Sekarang bukan lagi, sebab itu kualami.

Kuliah, meninggalkan kampung halaman, orang tua dan keluarga. Ada yang memilih untuk menumpang dirumah keluarga, ada juga yang tinggal di asrama, namun lebih banyak yang memutuskan untuk ngontrak atau kost. Tinggal dirumah kost memang terkadang lebih simpel, bebas dan tidak merepotkan. Meskipun demikian, sisi negatifnya cukup dipertimbangkan kebanyakan orang tua, apalagi dirumah kontrakan yang tidak memiliki aturan bertamu, bapak/ibu kost yang tidak tegas dan disiplin. Untuk itu, banyak pengelola rumah kontrakan mengkhususkan pondok untuk putri begitupula putra, sehingga mereka mudah dikontrol dalam pergaulan. Bagaimanapun modelnya, yang penting pada saat tinggal dirumah kost adalah duit. Semakin mahal tarifnya, semakin mewah tempat dan fasilitasnya. Semua ini, bagi mahasiswa yang orang tuanya serba berkecukupan. Untuk seukuran keluargaku, sangat berhitung untuk mengeluarkan biaya kamar kontrakan sebab biaya kuliah saja sangat berhemat. Oleh karena itu, menumpang pada keluarga adalah solusinya. Meskipun awalnya terasa berat, pilihan itu terpaksa kutempuh. Selain terasa terbebani untuk terus menumpang, jarak yang cukup jauh dari kampus menjadi kendala tersendiri bagi saya. Biaya transportasi jika dihitung-hitung terus membengkak. Akhirnya aku harus berjalan kaki setiap hari dengan jarak tempuh satu kilometer lebih. Read more of this post

Tirai-tirai hikmah berburu nilai PTK

1Oleh: Muhlis H. Pasakai

Kabar pelik yang telah kudengar sejak awal perkuliahan telah tiba masanya. Urusan yang paling menyulitkan mahasiswa diakhir perkuliahan, tugas proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang diampuh dosen paling dihindari berurusan dengannya, DR. Amaluddin. Sang Doktor yang menjadi momok mengerikan seantero kampus.

Sebelum semua kesukaran mengaramkan energiku, optimisme akan meluluhkan sang Doktor telah kuidam menjelang masa-masa yang menyulitkan ini. Percaya diri yang kubangun dari kesuksesan pada peristiwa-peristiwa preseden akan kembali diuji. Sudah terlalu banyak urusan-urusan yang menggentarkan telah kutaklukkan dengan modal paling wahid, yaitu Iman.

Banyak yang membincangkan berbagai upaya untuk memuluskan tugas PTK ini, pendekatan keluarga, ikatan emosional kedaerahan, dan berbagai ide-ide yang dianggap manjur. Sejenak risauku muncul mendengar kerumitannya, apalagi tak punya hubungan apapun dengan sang doktor wakil rektor satu itu, tapi aku ditegarkan dengan gagah berani oleh keyakinan yang dimiliki seorang yang beriman, segala urusan disandarkan pada Allah Subehanahu Wa Ta’ala. Sebuah keyakinan yang telah kubuktikan berkali-kali, semakin membentengi keyakinanku, kerumitan kali ini pun akan kulibas.
Read more of this post

Penjual gula-gula pun tak pelak kami tipu

Oleh: Uban Pamungkas al Muhlis

Tak habis memang kisah pandir menggelikan, nada-nada kebisingan bajingannya usia beranjak. Kisah ini hampir saja terlupa jika tak kuurut daftar pencurian yang telah kukoleksi sepanjang usia nakal. Mencuri pisang goreng, paling berkesan, karena tulisan tentang kisah tersebut telah terpilih sebagai tulisan terbaik oleh dosen pengampu Bahasa Indonesia dikelasku. Mencuri biji merica dipohon, juga masih segar rasanya saat melihat anak tetanggaku dikampung bermain senapan bambu beramunisi merica, persis tatkala kami dulu sedang doyan bedil-bedil purba itu, jika kehabisan peluru tak ada jalan kecuali menjadi maling, semakin segar dan tua biji itu semakin sempurna suaranya. Ada lagi jenis pencurian kocak masa lalu sekali yang rupa-rupa, namun tak segar lagi karena alur ceritanya yang sudah terlalu usang. Kisah terakhir yang tak kalah kacaunya adalah penipuan kami terhadap penjual gula-gula yang berakhir genting.

Sejak kami masih berseragam putih biru (SMP), kami punya kebiasaan menghabiskan waktu dipasar, entah dengan cara bolos atau memang jadwal pulang telah tiba. Sekolah kami tak dekat dengan pasar, bahkan untuk menjangkaunya butuh biaya tumpangan angkot dengan beberapa uang monyet (Rp.500) atau uang pedang (Rp.1000), tapi begitulah ketika nafsu dan emosi keremajaan kami sedang membuncah, tak peduli dengan membuang-buang materi dan menyia-nyiakan waktu asal detak-detak nadi darah muda kami dapat tersalurkan walaupun dengan cara nyasar.
Read more of this post

Aku pencuri pisang goreng

Oleh: Uban Pamungkas Al Muhlis

Hari itu adalah hari yang menjengkelkan lagi buat saya dan teman-temanku, yaitu hari dimana jadwal mata pelajaran eksak tiba, ada matematika, fisika, dan kawan-kawannya yang membuat kening berkerut dan keringat bercucuran, ditambah sorot mata dan muka bengis para pengajarnya yang menghancurkan selera intelektual.

Jika hari ini tiba, pagi-pagi buta aku bergegas, dibalut seragam sekolahku yang rapi. Sementara itu, teman-temanku telah menanti dibukit “kanrenni”, tempat strategis yang selalu kami jadikan persembunyian tatkala sedang membolos dari sekolah.

Pagi-pagi?. Iya, untuk mendahului jadwal berangkatnya para guru. Ini adalah strategi untuk melancarkan rencana pembakangan terhadap mata pelajaran yang super rumit itu.

Akupun berangkat dengan semangat yang sangat meyakinkan orang tuaku, keluarga, dan tetanggaku bahwa aku ini orang yang rajin dan disiplin ke sekolah. Dengan tergesa-gesa aku mempersingkat langkah menuju arah bukit “kanrenni”. Aku yakin teman-temanku yang lebih cermat telah mendahuluiku disana. Ternyata betul, hanya saja kali ini tidak seramai biasanya, hanya ada seorang yang kutemui. Ternyata yang lainnya tidak berangkat ke sekolah, dan yang lainnya lagi sedang menempati lokasi persembunyian yang berbeda. Meskipun demikian, tidak menyurutkan semangat kami untuk betah ditempat sepi ini.
Read more of this post

Pelajaran dari es krim di siang hari

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Hari itu terik sangat tajam menyengat, sekujur tubuh dapat bermandi peluh. Kami sedang bercengkerama melepas penat dengan keluarga, para sepupu yang sedang berbadan dua. Keintiman kami menggelitik kesibukan orang-orang untuk ikut bergabung, akhirnya keramaian berseloroh menambah gerahnya siang itu.

Tak lama kami menikmati nuansa kekerabatan, sejuk sedang mengundang telinga kami, saat mendengar suara penjual es krim. Tak perlu bersabar terlalu lama, rasa ingin mendinginkan tenggorokan segera saja terpenuhi. Iya, es krim dengan aneka rasa dapat kami pilih gratis, saat paman kami jadi berselera mentraktir melihat para ponakannya keriangan. Maklum, waktu yang panjang tak disadari telah merenggut kekariban kami , ini adalah momen yang sangat indah dinanti.
Menikmati es krim yang lezat adalah hal yang menyenangkan ditengah hari seperti ini, rasanya yang rupa-rupa telah kami seleksi sesuai selera.

Kami pun menikmati pilihan masing-masing sambil melanjutkan lelucon pengocok perut. Sela waktu yang tak lama, kami mengalihkan percakapan pada soal rasa es krim yang sedang kami cicipi itu, ada yang mengaku lebih nikmat pilihannya dengan rasa coklat, ada pula yang beraroma stroberi dan lainnya. Tiba-tiba seorang dari kerabat kami yang dari tadi menikmati pilihannya dengan lahap mencoba lebih serius, ia baru sadar bahwa pilihannya berbeda dari yang kami nikmati bersama. Ia tertarik pada jenis rasa yang baru saja kami bicarakan, rupanya jenis es krim yang dipilihnya tak termasuk dari segala rasa yang kami sebut. Aku pun menambah kacau nafsu makannya setelah membacakan komposisi pilihannya yang hanya terdiri dari pemanis, pewarna, dan air, berbeda dengan kami yang setidaknya mengandung susu.

Walaupun sudah lebih banyak yang dinikmatinya, seleranya menjadi hilang setelah menyadari jenis es krim kami lebih nikmat dan bergizi dari pilihannya. Padahal, ia telah menikmati dengan gairah dahaga yang hebat sejak dari tadi. Rupanya kesadaran yang lahir dari penginderaannya telah merampas kenikmatannya sendiri.

Dalam kehidupan ini, betapa banyak jenis kenikmatan yang kita berangus hanya gara-gara mengintip- ngintip kenikmatan level atas milik orang lain. Nampaknya rasa ‘nikmat ’ itu sangat ditentukan oleh sebuah pembandingan. Rasa ‘nikmat’ adalah sesuatu yang universal adanya,yang segala kenikmatan itu pada dasarnya nikmat, lalu kemudian menjadi tidak nikmat ketika dibandingkan dengan yang lebih nikmat darinya.

Kesimpulannya, perasaan nikmat terhadap segala sesuatu merupakan sebuah bentuk provokasi terhadap diri sendiri dalam merespon segala bentuk ‘nikmat’ orang lain.

Sinjai, Safar 1433 H./Januari 2012 Miladiyah

Akulah pemimpin paling gagal


Oleh: Muhlis H. Pasakai

Presiden Zine el-Abidine Ben Ali di Tunisia, Hosni Mubarak di Mesir, Muammar Khadafi di Libya, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Bashar al-Assad di Suriah, Perdana Menteri Yordania Marouf Bakhit, Presiden Aljazair Abdel aziz Bouteflika, Presiden Sudan Omar Al-Bashir dan sebagainya. Inilah sederet pemimpin Timur Tengah yang telah mengalami tuntutan massa dan gejolak politik untuk melengserkannya, setidaknya mencuat dalam kurun 2 tahun ini. Nama-nama ini hanyalah sebagian dari daftar sejarah penggulingan kekuasaan yang pernah ada. Di Republik ini sendiri telah mencatat sejarah reformasi 1998, walaupun buntutnya masih menimbulkan fatamorgana. Akhir-akhir ini kita juga kian mudah menjumpai luapan kekecewaan terhadap rezim kabinet IB jilid II.

Jika kita bertanya, mengapa orang-orang melakukan aksi protes terhadap pemimpinnya?, secara akumulatif dapat disimpulkan bahwa karena mereka menyebut pemimpinnya gagal.

Lalu, bagaimanakah pemimpin yang disebut gagal itu?. Banyak ciri pemimpin gagal yang di tuangkan dalam berbagai tulisan maupun pernyataan-pernyataan lisan, namun bukan ciri-ciri tersebut yang akan disadur dan diurai pada tulisan ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa kegagalan seorang pemimpin karena persoalan integritas, kebijakan yang tidak atau kurang presisi, rentannya terhadap kompromi-kompromi politik yang berakibat pada pengacuhan hak-hak warganya, dan berbagai alasan politik, sosial dan ekonomi.

***
Read more of this post

Intelektualitas Melembaga

Ulasan atas sebuah kebijakan mini berdampak besar

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Kancah era dinamis telah mempengaruhi seluruh aspek khidupan dibelahan dunia manapun untuk berpacu mengambil ruang dalam pusaran segmentasi arus globalisasi dunia. Mulai dari kehidupan individu, sosial politik, ekonomi, teknologi, olah raga, hingga ideologi harus serba ekstra dalam progresifitasnya jika ingin tampil menjadi bagian dari aktor dipanggung aktualisasi pergaulan masyarakat dunia.

Negara dengan pemerintahnya sebagai representasi entitas masyarakatnya hadir sebagai pemeran utama dalam laga kontestasi bergengsi yang menjadi patron ekspektasi seluruh mata di dunia.

Dalam skala yang lebih kecil, otonomi kelembagaan mendapat peran kebijakan yang signifikan dalam menentukan arah dan kualitas produksi sumber daya manusianya.

Mengikuti arus kompetisi yang ketat mengharuskan setiap lembaga mulai dari populasi yang kecil hingga tataran dunia bersikap ala kebutuhan global.

Tak ada yang membantah ketika intelektualitas disebutkan sebagai zat spektakuler yang dicita-citakan setiap sebuah perangkat kebijakan yang sasarannya sumber daya manusia.
Read more of this post

Selamat datang Jakarta, selamat datang UI.

Selamat Datang Jakarta, Selamat Datang UI…!

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Dahulu Jakarta bak sebuah lukisan kota terindah di masa kecilku, kira-kira semacam Paris zaman sekarang. Mendengarkan nama kota itu, segera membawa angan-angan untuk mengkhayalkan sebidang tanah bertahta dengan bangunan-bangunan tinggi dan keindahan kota metropolitan.

Itu halusinasi. Dan akan tetap terawat sebagai sebuah fantasi. Sebatas itu. Belum pernah sekalipun terbayangkan untuk menginjakkan kaki di ibu kota negara kala itu. Masyarakat agraris tradisional tempatku lahir dan tumbuh tidak terlalu dipacu untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahnya untuk melakukan rihlah ilmiah/ perjalanan menuntut ilmu. Selain faktor ekonomi, proporsionalitas kebutuhan dan skala berfikir masyarakat saat itu menjadi arus utama pembekuan itu.

Read more of this post

Si muka berang

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Tok tok tok,”obat nyamuknya bu..!”,orang tua yang semula membelakang itu berbalik lalu menyuguhiku raut mukanya yang kaku. Parasnya tampak muram, bibirnya ditekuk melonjong. Sangat jelas ia sedang gusar. Ia perlahan mendekatiku, “apa?, mau beli apa?, kemari uangmu..cepat, cepat..!”. “Obat nyamuk bakar bu.”, demikian jawabku. “Apa?, baygon..”, tanyanya lagi sambil dijawab sendiri. “Bukan bu, ada ngga vape?”. “Ah..baygon saja.!”, ibu tua itu berkeras yang terlanjur menjangkau merek baygon. “Iya bu, ngga apa-apa”, jawabku.

Aku sengaja mempersingkat proses jual beli itu. Aku tak kuat lagi melihat muka ibu tua yang payah itu. Ia pasti baru saja ada masalah. Tampak dimimiknya ia sedang dilanda stres tingkat tinggi.

Aku baru beberapa hari menginjak kota peraih anugerah adipura 7 kali berturut-turut ini. Dugaanku terhadap ibu tua itu bisa salah, lagipula baru kali ini aku bertransaksi disana. Mungkin ia memang ada masalah, atau wataknya yang pemarah.

Hari hari berikutnya aku terkadang punya niat untuk membeli sesuatu di toko itu, tapi aku trauma dengan kontur muka si ibu tua yang hipertentif itu.
Read more of this post

Mimpi di telaga kearifan


Oleh: Muhlis H. Pasakai

Aku pernah bertanya apakah optimis itu?. Apakah keraguan sedang menghantui harapan dan cita-citaku?. Setumpuk uraian terjemah kamus dan kalimat-kalimat bijak motivator hanya menggantungku ditengah iman dan keputusasaan, dibelantara kata-kata dunia. Akankah aku mengembara di padang halusinasi untuk menjawab tanya yang genting itu?, hingga berujung dibalik jeruji akal yang memenjaraku dari hirauan orang-orang?.

Aku kadang menghela nafas yang panjang, menanti lakon deret cerita yang kurangkai di khayalku. Aku harus sadar semuanya hanya nafsu dan angan-angan belaka. Tahun ini adalah puncaknya, tatkala lembaran cita yang kutumpuk lapuk bersama datangnya musim hujan. Semuanya terasa berakhir ketika harus mengakhiri perjalanan diujung seragam putih abu-abu. Tak banyak yang bisa kulakukan, orang tuaku tak berdaya melanjutkan sekolahku.
Read more of this post