Hanung Bramantyo Rilis Film Dukung Nikah Beda Agama

Setelah filmnya “Perempuan Berkalung Sorban” dan “Tanda Tanya” (?) yang banyak kecaman dari umat Islam, kini sutradara Hanung Bramantyo kembali merilis film kontroversial berjudul “Cinta Tapi Beda”.

Film “Cinta Tapi Beda” ini bercerita tentang dua insan yang jatuh cinta namun berbeda agama. Dua cinta antara seorang penganut agama katolik dan Islam berbenturan dalam nilai-nilai agama masing-masing.

“Jadi kalau sampai jadi isu dan bola salju, itu sudah bukan tanggung jawab saya, kadang juga saya dicaci maki. Saya cuman bisa berterima kasih saja sudah mau nonton film saya,” ujar Hanung seperti yang dikutip Kapanlagi.com (12/11/2012).
Read more of this post

Pluralisme Menggerogoti Akidah umat Islam Tanpa Sadar

Gerakan pemurtadan Islam saat ini berlangsung sangat kuat. Begitu kuatnya sampai-sampai banyak umat Islam telah murtad tanpa sadar. Salah satu alat pemurtadan umat tersebut menurut Dr. Adian Husaini MA adalah pluralisme. Pluralisme menurutnya adalah ide yang membuat orang menjadi ragu dengan agamanya sendiri. Bahkan secara mendalam pluralisme adalah pintu masuk dari pengimplementasian atheisme ke dalam masyarakat beragama. Secara khusu adalah umat Islam.

“Pluralisme ini adalah ajaran yang sangat-sangat menyesatkan,” jeas Adian dalam acara “Majelis Qiyamqu di Islamice Center AQL Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (29/30/2012) lalu.

Adian juga menjelaskan cara musuh Islam menggunakan pluralisme merusak umat adalah dengan menggunakan pola raya. Pluralisme menurutnya menggerogoti akidah umat Islam tanpa disadari oleh umat Islam sendiri. Ketika seorang Muslim sudah tidak yakin dengan mutlaknya kebenaran Islam, secara tidak sadar ia sendiri telah terjebak pada pemurtadan tanpa sadar.

“Ketika seorang beragama sudah tidak yakin pada agamanya sendiri, pada dasarnya dia mulai meninggalkan agama, dari sinilah atheisme telah tertanam pelan-pelan ke dalam hidupnya.

Dikutip dari hidayatullah.com pada / 1 Oktober 2012 Miladiyah.

Kelompok Liberal Cirebon Galang Kekuatan Lawan MUI

Cirebon – Kelompok Liberal di Cirebon tampaknya semakin kukuh dan berani. Hal itu tampak dalam sebuah pertemuan pada Rabu (29/8/2012) di Institut Studi Islam Fahmina, jalan Swasembada Majasem Kota Cirebon. Acara yang digelar untuk mengecam aksi kekerasan di Sampang, Madura, ternyata bernuansa pengecaman terhadap MUI dan ada upaya serius untuk melumpuhkan peran MUI.

Acara ini diikuti oleh Fahmina Institut Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, PCNU Kota Cirebon, Gereja Bethel Indonesia (GBI) Cirebon, Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Cirebon, GP Anshar Kota Cirebon, Gereja Katholik, Lesbumi Kota Cirebon, YTI Al Ghazali Kabupaten Cirebon, Lembaga Kebudayaan mahasiswa (LKM Rumba Grage. Lalu ada BEM ISIF Cirebon, CSPC IAIN Syekh Nur Jati Cirebon, Kelompok Muda Baytul Hikmah Cirebon.
Read more of this post

Memahami Filsafat Mulla Sadra dalam al-Hikma al-Muta’aliya

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Banyak kalangan yang menganggap bahwa filsafat Islam telah mati terkubur selama-lamanya setelah kritik mematikan yang dilancarkan oleh Al-Ghazali pada abad ke-12 Masehi melalui bukunya yang masyhur, yaitu Tahafut al-Falasifa. Pandangan semacam ini jelas tidak tepat. Di dunia Sunni di kawasan timur, filsafat mungkin memang telah mati. Tetapi di kawasan lain, seperti di Barat (ditandai dengan lahirnya tokoh seperti Ibn Rusyd atau Ibn Khaldun), dan di dunia Syiah, filsafat tetap hidup terus, antara lain ditandai dengan Mulla Sadra yang muncul dengan gagasan orisinal – ia melakukan sintesis antara berbagai sistem filsafat sebelumnya: filsafat rasional ala kaum peripatetik (al-masysya’un), kaum illuminasionis (ishraqiyyun) , dan tradisi dialektis (jadal) yang dikembangkan oleh para mutakallimun (teolog Muslim).

MASING-masing cabang ilmu dalam sejarah pengetahuan Islam klasik mempunyai ciri masing-masing. Secara umu, kita bisa membagi cabang ilmu dalam Islam ke dalam tiga bidang pokok. Pertama adalah ilmu-ilmu pembantu yang kerap disebut dengan ‘ilm al-alat atau ‘ilm al-adawat. Kedalam cabang ini, kita bisa memasukkan sejumlah cabang ilmu, misalnya ilmu yang terkait dengan ‘grammar’ atau tata-bahasa –nahwu, sharaf; atau ilmu yang berkenaan dengan bagaimana suatu ujaran diproduksi, yakni bayan dan badi’, atau ilmu mengenai bagaimana suatu makna diproduksi, yakni ma’ani. Kedalam bidang ini juga bisa dimasukkan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu persyairan (‘arudl) dan perkamusan (leksikografi, ‘ilm al-ma’ajim).
Read more of this post

Ulil analogikan dibantainya Muslimin Rohingya dengan kasus kafirin Ahmadiyah


Benar-benar menirukan qiyas ala Iblis.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ [الأعراف/12]

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS Al-A’raf: 12)

تفسير ابن كثير – (ج 3 / ص 393)

عن الحسن في قوله: { خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ } قال: قاس إبليس، وهو أول من قاس. إسناده صحيح.

وقال: حدثني عمرو بن مالك، حدثنى يحيى بن سليم الطائفي عن هشام، عن ابن سيرين قال: أول من قاس إبليس، وما عُبِدت الشمس والقمر إلا بالمقاييس إسناد صحيح أيضا. تفسير الطبري (12/328).

Dari Hasan al_Bashri mengenai firman-Nya: { خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ } Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah, dia berkata: Iblis berqiyas (beranalog), dan dia adalah orang pertama yang berqiyas. (riwayat ini sanadnya shahih).

Dari Ibnu Sirin, ia berkata: orang yang pertama berqiyas adalah Iblis. Dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali karena qiyas-qiyas (analog-analog/ perbandingan-perbandingan). (sanadnya shahih juga/ Tafsir At-Thabari 12/ 328 dikutip Ibnu Katsir dalam menafsiri Qs Al-A’raf ayat 12).

Atas komando Iblis itulah para wadyabala Iblis pun main qiyas sebatil-batilnya. Contohnya adalah lontaran dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal) Ulil Abshar Abdalla yang mengqiyaskan dibantainya Muslimin Rohingya dengan kasus orang kafir Ahmadiyah.

Dikutip dari nahimunkar.com pada 27 Romadhon 1433 H./ 16 Agustus 2012 Miladiyah.

Tokoh Muda Muhammadiyah Tanggapi Kicauan Ulil Soal Rohingya

Tokoh muda Muhammadiyah, Musthofa B Nahrawardaya ikut menanggapi pernyataan aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) tentang Rohingya yang ramai didiskusikan di Twitter. Sebelumnya, Ulil sempat menulis, bahwa kalau umat Islam masih menyetujui aniaya Ahmadiyah di Indonesia, maka umat Islam tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar.

Menurut Musthofa, permasalahan Rohingya dan permasalahan Ahmadiyah di Indonesia adalah dua hal yang berbeda. Ahmadiyah adalah kenyakinan bukan Islam yang mengaku bagian dari Islam. Sedangkan Muslim Rohingyah memang saudara seakidah umat Islam.

“Kan ada haditsnya yang diriwayatkan oleh Thabrani, siapa yang tidak perduli kepada permasalahan sesama Muslim, maka ia tidak termasuk golonganku kata Rasulullah,” jelas Musthofa kepada hidayatullah.com, Senin (30/07/2012)
Read more of this post

Inkonsistensi Kaum Liberal Menyikapi Muslim Rohingya

Oleh: Kholili Hasib

PADA 28 Juli 2012 dalam akun Twitter nya, Ulil Abshar Abdallah menulis bahwa kalau umat Islam masih menyetujui aniaya Ahmadiyah di Indonesia, maka umat Islam tak layak protes saat umat Muslim Rohingya dianiaya di Myanmar. Ia mengkritik umat Muslim Indonesia yang tidak sensitif terhadap kasus Ahmadiyah, mereka hanya sensitif terhadap umat Islam di Negara lain.

Inkonsisten

Ulil sendiri, bergeming soal tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam di Myanmar. Tidak selantang ketika membela agama Ahmadiyah. Artinya, kicauan di Twitter nya itu justruf tidak sesuai dengan idelisme yang ia lontarkan ketika mengkritik kelompok yang ia sebut ‘teman-teman Muslim’ Indonesia.
Read more of this post

Menjawab Tafsir Orientalis dan Liberalis

Salah satu rangkaian acara MABIT Nuzulul Quran dan Grand Launching IMANQu di AQL Islamic Center adalah diskusi tentang tafsir Orientalis dan Liberalis. Adapun pembicara yang hadir adalah Ust. Mukhlis dan Ust. Adnin Armas. Mereka adalah para inisiator Majelis Intelektal Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Menurut Ust. Mukhlis, masalah utama penafsiran Liberalis adalah “Al-ummiyyah Addiniyyah”, yaitu ketidakpahaman (buta) terhadap agama. Banyak orang yang menafsirkan ayat Al-Qur’an tidak diikuti dengan ilmu dan pengetahuan yang cukup, sehingga yang terjadi adalah menafsirkan Al-Qur’an untuk mencari pembenaran bukan mencari kebenaran.
Read more of this post

MENGAPA KITA MENOLAK HERMENEUTIKA?

-KRITIK TERHADAP STUDI AL-QUR’AN KAUM LIBERAL-

Oleh: Fahmi Salim, M.A.
(Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia/MIUMI
& Komisi Penelitian MUI Pusat)

RASULULLAH SAW BERSABDA:
ILMU ISLAM INI AKAN DIPIKUL OLEH ORANG-ORANG YANG ADIL (TENGAHAN) DARI SETIAP GENERASI, MEREKA LAH YANG MENAFIKAN PENAKWILAN ORANG-ORANG JAHIL, PEMALSUAN ORANG-ORANG BATIL, DAN PENYELEWENGAN ORANG-ORANG EKSTREM
(HR. AL-BAYHAQI, DALAM SUNAN KUBRA)

Pengantar
Judul diatas adalah judul yang sama untuk buku yang, pada awalnya, saya tulis untuk meraih gelar Magister dari Fakultas Ushuludin Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar Kairo pada Desember tahun 2007 silam. Syukur Alhamdulillah, buku tersebut menjadi salah satu nominator terbaik dalam IBF Award tahun 2011 lalu yang diberikan bersamaan dengan penyelenggaraan IBF ke-10 dengan tema besar, “Khazanah Islam untuk Peradaban Bangsa”.

Fokus utama buku itu adalah mengkritisi metode hermeneutika yang digadang-gadang kelompok liberal sebagai metode paling pas dalam memahami Al-Qur’an saat ini. Mengapa dan ada apa dengan ‘Hermeneutika’? Setelah ditelusuri, ternyata filsafat pemahaman teks ala Barat inilah yang menjadi “alat buldoser” paling efektif yang berada di belakang upaya sekularisasi dan liberalisasi pemahaman Al-Qur’an yang terjadi secara massif. Di tangan para pengasong sekularisme dan liberalisme, metode hermeneutika untuk mengkaji Al-Qur’an ini ingin menggusur dan mengkooptasi ajaran-ajaran Islam yang baku dan permanen (tsawabit), agar compatible dengan pandangan hidup (worldview) dan nilai-nilai modernitas Barat sekuler yang ingin disemaikan ke tengah-tengah umat Islam.
Read more of this post

Menjawab syubhat kaum liberal, Allah Menciptakan Keburukan?

Syubhat:

Banyak di antara orang-orang liberal dan musuh-musuh Islam berusaha untuk membingungkan akal orang-orang yang disekitar mereka dengan berbagai pertanyaan seputar kebaikan dan keburukan. Misalnya, mereka bertanya; Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan keburukan? Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu, maka pasti Dialah Pencipta keburukan?! Bagaimana Dia memerintahkan kepada kita untuk berbuat kebaikan sementara Dia menciptakan keburukan? Bukankah akan lebih utama jika manusia itu diciptakan hanya untuk berbuat kebaikan saja?

Bantahan:

Hendaknya setiap muslim menerima takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, beriman dengannya, kebaikan atau keburukannya, manis atau pahitnya. Ini adalah pokok yang agung dari pokok-pokok ahlussunnah wal jama’ah yaitu beriman dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan bukanlah sebuah adab, menisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa Dia menginginkan keburukan terhadap hamba-hamba-Nya sekalipun Dialah yang menciptakan dan mengadakannya. Sebagaimana perkataan Ibrahim ‘Alaihi Sallam :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠)

“Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku,“ (Asy-Syu’ara`: 80)

Juga seperti perkataan bangsa Jin pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا (١٠)

“Dan Sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.“ (QS. al-Jin: 10)

Nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallam tidak mengatakan: “Dan jika Dia menjadikanku sakit.” Juga bangsa jin saat mereka menyebutkan keburukan, mereka menyebutnya dengan bentuk fi`il mabni lil majhul (kata kerja bentuk pasif) sementara saat menyebut kebaikan, mereka menisbatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini adalah adab (tata krama) mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Read more of this post

Wanita Imami Shalat Jum’at?

Sensasi memang membuat orang terkenal dan hanya untuk itu banyak orang mengorbankan kehormatannya. Demikianlah jaringan iblis senantiasa berusaha menjerat anak manusia kepada kesesatan dan penyimpangan dengan melemparkan senjata pamungkasnya yaitu syubhat dan syahwat.

Dewasa ini ada sekelompok orang yang mengaku Islam bebas menggembar-gemborkan isu kesamaan gender dengan segala cara dan didukung dana besar dari orang kafir. Mereka sengaja ingin mengkaburkan dan meliberalisasikan Islam sehingga menjadi agama yang jauh dari tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan dekat dengan tuntunan musuh-musuh Islam.

Diantara program memuluskan konsep persamaan gender ini adalah upaya mensetarakan laki-laki dan perempuan dalam ibadah dan ketentuanIslam yang sudah jelas dibedakan, seperti hak waris, hak kebebasan berapresiasi dan bekerja dilapangan kerja laki-laki dan lainnya.

Beberapa tahun lalu juga ada upaya mereka memuluskan konsep ini dengan mengangkat berita wanita yang dipanggil dengan nama Amina Wadud yang mengimami shalat jum’at di sebuah gereja Anglikan the Synod House of Cathedral of St John thi devine di New York.[1] yang dipublikasikan di banyak media cetak dengan dibumbui komentar beberapa ‘inteluktual’ dan “kyai” yang dikesankan hal itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Untuk itulah tampaknya perlu kita komentari komentar mereka tersebut agar masyarakat islam tidak tertipu dan terpedaya syubhat mereka. Walaupun sebenarnya membutuhkan penjabaran yang panjang, namun dalam kesempatan ini kita coba menyampaikannya dengan ringkas saja.
Read more of this post