Mereka Cari Jalan, Bukan Cari Uang

renaldRhenald Kasali*

Duduk di depan saya dua perempuan muda. Mereka sarjana hukum lulusan UI. Wajah dan penampilannya dari kelas menengah, yang kalau dilihat dari luar punya kesempatan untuk “cepat kaya”, asal saja mereka mau bekerja di firma hukum papan atas yang sedang makmur, seperti impian sebagian kelas menengah yang memanjakan anak-anaknya.


Namun, keduanya memilih bergabung dalam satgas pemberantasan illegal fishing yang dipimpin aktivis senior Mas Achmad Santosa. Dari foto-foto yang ditayangkan presenter Najwa Shihab dalam program Mata Najwa, tampak mereka tengah menumpang sekoci kecil mendatangi kapal-kapal pencuri ikan. Dari Ambon, mereka menuju ke Tual, Benjina, dan pusat-pusat penangkapan ikan lainnya di Arafura.
Read more of this post

Sikap Bahtsul Masail NU terhadap ucapan Natal dan menjaga Gereja

1Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil-‘alamin, sebab istilah rahmatan lil-‘alamin telah dinyatakan oleh al-Qur’an. Istilah rahmatan lil-‘alamin dipetik dari salah satu ayat al-Qur’an;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS al-Anbiya’ : 107).

Dalam ayat itu, “rahmatan lil-‘alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad saw. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi saw sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi saw, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna.
Read more of this post

Setan menjerumuskan ahli ibadah itu melalui wanita

Wanita adalah perhiasan dunia yang sangat indah di mata laki-laki. Saking indahnya banyak laki-laki yang terpedaya, ketika wanita berhasil dijadikan anak panah oleh Setan untuk menargetkan sasarannya sekalipun ia seorang yang shalih. Bagaimana seorang yang shalih yang ahli ibadah bisa tertipu oleh tipu daya Setan hanya dengan wanita? Padahal ia orang yang sering berdzikir kepada Allah.

Sa’id bin Al-Musayyab radhiyallahu anhu pernah berkata, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan Iblis, yang merusaknya melalui perantara seorang wanita.”

Dan dari hasan bin Shalih, dia berkata, “Aku pernah mendengar setan berkata kepada wanita, “Engkau adalah separuh pasukanku, engkau adalah anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku membutuhkan.”

Kisah ini diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih radhiyallahu ‘anhu. Ada seorang ahli ibadah di kalangan bani israel. Dia adalah orang yang paling tekun beribadah pada zamannya. Pada saat itu ada tiga orang laki laki bersaudara yang memiliki satu saudari lagi, seorang gadis. Ketika mereka hendak pergi untuk ikut dalam perngiriman satuan pasukan, mereka tidak tahu siapa yang akan menjaga dan melindungi saudari mereka, dan kepada siapa dia akan dititipkan. Maka mereka sepakat untuk menitipkan saudari mereka kepada laki laki ahli ibadah di kalangan Bani Israel. Dengan penuh keyakinan mereka mendatangi ahli ibadah itu dan memintanya untuk sudi dititipi saudari mereka, yang berarti saudari mereka itu harus menetap di tempat ahli ibadah dan dalam lindungannya hingga mereka kembali dari peperangan. Namun ahli ibadah menolak permintaan mereka dan dia berlindung kepada Allah dari keberadaan saudari mereka. Mereka terus mendesak ahli ibadah itu hingga akhirnya dia berkenan. Ahli ibadah itu berkata, “Suruhlah dia menginap di sebuah bilik di lantai bawah biaraku.”
Read more of this post

Pemimpin-Pemimpin yang Berkata dan Beramal Tanpa Ilmu


:عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامْ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا، فَكَانَ مِنْ خُطْبَتِهِ أَنْ قَالَ

أَلَا إِنِّي أُوشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبَ فَيَلِيَكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِي، يَقُولُونَ بِمَا يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ بِمَا يَعْرِفُونَ، وَطَاعَةُ أُولَئِكَ طَاعَةٌ، فَيَلْبَثُونَ كَذَلِكَ دَهْرًا، ثُمَّ يَلِيَكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِهِمْ، يَقُولُونَ مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ مَا لَا يَعْرِفُونَ، فَمَنْ نَاصَحَهُمْ، وَوَازَرَهُمْ، وَشَدَّ عَلَى أَعْضَادِهِمْ فَأُولَئِكَ قَدْ هَلَكُوا، خَالِطُوهُمْ بِأَجْسَادِكُمْ، وَزَايِلُوهُمْ بِأَعْمَالِكُمْ، وَاشْهَدُوا عَلَى الْمُحْسِنِ بِأَنَّهُ مُحْسِنٌ، وَعَلَى الْمُسِيءِ بِأَنَّهُ مُسِيءٌ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam suatu ketika berdiri di tengah-tengah kami untuk berkhutbah. Diantara khutbah beliau ialah sabdanya:

“Ketahuilah, aku hampir dipanggil dan aku akan menjawabnya. Sehingga datang pemimpin-pemimpin setelah kalian yang berkata dan beramal dengan ilmu. Mentaati mereka merupakan ketaatan kepada Allah. Lalu waktu berselang. Hingga sepeninggal mereka, datanglah kepada kalian pemimpin-pemimpin yang mereka berkata dan beramal tanpa ilmu. Barangsiapa yang membantunya, menjadi pendampingnya, dan kuat membelanya, mereka akan binasa dan membuat kebinasaan. Maka pergauilah pemimpin yang demikian dengan raga kalian, namun selisihilah dalam amal-amal kalian. Dan bersaksilah bahwa yang baik itu baik, serta bersaksilah bahwa yang buruk itu buruk” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath 6984, Al Baihaqi dalam Az Zuhd Al Kabir 1/22)
Read more of this post

LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)

LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) yang berpusat di Jakarta adalah suatu Yayasan lembaga kegamaan yang berafiliasi dengan Dewan Dakwah Islam Indonesia; suatu lembaga keagamaan yang eksis dan berkomitmen meneliti dan mengkaji ajaran Islam yang murni untuk dijadikan sebagai tolak ukur atau refrensi dalam usaha meluruskan penyimpangan-penyimpangan agama yang terjadi dan berusaha menyadarkan masyarakat akan bahaya aliran yang menyimpang tersebut. LPPI berusaha menggalang komponen masyarakat, pemerintah dan swasta untuk turut bersama mengahadapi problem penyimpangan tersebut.

Dalam mengembangkan misi LPPI pusat, maka dengan izin Allah SWT dibentuklah LPPI perwakilan Makassar pada tgl 13 Rajab 1430 H (6 Juli 2009) dengan sekretariat di Masjid Sulthan Alauddin (aula lantai II), Jl. Racing Centre Makassar. Beberapa kegiatanpun, mulai terlaksana sepeti diskusi ilmiyah dan pengajian rutin dua kali setiap pekan. Setahun kemudian ada kebijakan dari LPPI pusat menjadikan LPPI perwakilan Makassar menjadi, LPPI perwakilan Indonesia Timur.

Surat Keputusan (SK) dari Pusat telah dikirimkan dan pada 30 Rabiul Awal 1431H/ 16 maret 2010 bertempat di masjid darul hikmah antang, Pengurus LPPI perwakilan Indonesia Timur resmi dilantik oleh ketua LPPI Pusat, M. Amin Djamaluddin. LPPI perwakilan Indonesia Timur disingkat LPPI IndTim kemudian mengubah format susunan pengurus menjadi lebih lengkap yang terdiri dari Dewan Penasehat/Pembina, Dewan Kehormatan, Dewan Pakar dan Pengurus Harian serta 4 divisi yang dibawahinya, yaitu Divisi Penelitian, Divisi Pengkajian, Divisi Pustaka, Dokumentasi & Publikasi serta Divisi Umum & Finansial. Maka dengan Motto “Memantapkan dan Meluruskan Aqidah Ummat” LPPI IndTim memulai kegiatannya.

Dikutip dari lppimakassar.com pada 7 Syawwal 1433 H./25 September 2012 Miladiyah.

Serba Serbi seputar “dasi”

Dasi Menurut Ibnu Utsaimin

Pertanyaan,
ما حكم لبس الكرفتة للنساء مع العلم بأنها مصنوعة من أقمشة خاصة بالنساء ؟
“Apa hukum memakai dasi bagi perempuan mengingat bahwa dasi tersebut terbuat dari kain khusus untuk perempuan?”
الجواب :
الحمد لله
لا أرى لبس النساء للكرفتة لأننا في شك من جواز لبسها للرجال فكيف بالنساء ؟
Jawaban, “Kami tidak membolehkan dasi bagi perempuan. Karena kami meragukan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki maka bagaimana lagi dengan perempuan.

أما الرجال ففي نفسي من جواز لبسها شيء لكن رأيت أكثر الناس الآن يلبسونها ولا سيما بعض الموظفين في جهة من الجهات ، فأرجو أن لا يكون في لباسها حرج بالنسبة للرجال أما المرأة فلا .

Sebenarnya kami tidak berani menegaskan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki namun mengingat sebagaimana kami lihat sendiri bahwa mayoritas manusia (baca: muslimin) sekarang memakai dasi terutama sebagian pegawai di sebagian instansi sehingga kami berkesimpulan semoga tidaklah berdosa laki-laki yang memakai dasi. Sedangkan perempuan tetap tidak boleh”.

من فتاوى الشيخ ابن عثيمين من مجلة الدعوة

Demikian fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin dalam majalah ad Dakwah.

Dikutip dari ustadzaris.com pada 29 Romadhon 1433 H./18 Agustus 2012 Miladiyah.

————————————————————————————————-
Mufti Afsel Jelaskan Hukum Mengenakan Dasi
Mufti Siraj Desai, seorang ulama yang sering dijadikan rujukan di Afrika Selatan membahas hukum memakai dasi bagi seorang Muslim. Walau dasi bukan simbol salib, namun seorang Muslim tidak boleh memakainya dalam beberapa kondisi, sebagaiman dilansir dalam situs resminya, askmufti.co.za (25/10).
Read more of this post

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Rilis Khutbah Idul Fitri 1433 H

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merilis khutbah Idul Fitri dari balik jeruji besi. Berdasarkan email yang diterima redaksi voa-islam.com, naskah khutbar setebal lebih dari 16 halaman tersebut menekankan pentingnya menegakkan syari’at Islam dalam lingkup negara atau biasa disebut daulah islamiyah. Sebab tauhid tak bisa diamalkan sepenuhnya dibawah negara kafir.

“Maka tauhid dan taqwa tidak mungkin bisa diamalkan sesuai dengan tuntunan alloh dan rosulnya di dalam negara kafir. maka orang islam yang rela jadi warga negara kafir dan tidak berusaha untuk meluruskannya menjadi daulah islamiyah tauhidnya rusak.”

Ustadz Abu juga menilai puasa Ramadhan tak bisa menghasilkan takwa jika tauhid dan imannya yang terancam batal lantaran berwala’ terhadap thaghut

“Maka berdasar keterangan-keterangan di atas, tidak diragukan sedikitpun bahwa N.K.R.I (Indonesia) sejak merdeka sampai hari ini adalah negara kafir karena dasar negaranya ideologi ciptaan akal manusia (pancasila danUUD45) dan hukumpositifnya (K.U.H.P) adalah hukum jahiliyah ciptaan akal manusia membuang hukum Alloh. Maka penguasanya adalah thaghut yang wajib kita ingkari dan kita jauhi meskipun mengaku sebagai muslim dan mengamalkan sholat, puasa, zakat, haji, dia bukan ulil amri dari kalangan orang beriman yang wajib kita taati dan kita bela. Maka kalau kita ummat Islam berwala’ kepada thaghut Indonesia pasti tauhid, iman dan taqwa kita terus di obok-obok sehingga terancam batal dan puasa romadhon yang kita amalkan tidak akan bisa mewujudkan taqwa,” seperti dikutip dalam teks khutbah tersebut. Berikut ini adalah naskah lengkap khutbah Idul Fitri 1433 H oleh ustadz Abu Bakar Ba’asyir.
Read more of this post

Mau Tahu Puisi Ariel untuk Abu Bakar Ba’asyir?

Sebelum menjalani masa hukuman di rutan Pondok Waru Bandung, Ariel juga lama menjalani masa tahanan di Rutan Baresekrim Mabes Polri. Di tempat ini, Ariel bertemu dengan banyak orang, mulai dari pembunuh, Misbakhum (mantan tersangka pemalsuan LC Bank Century, yang oleh Ariel hanya menulis pak Mis) hingga Abu Bakar Ba’asyir.

Ariel mengenal ustadz yang dituding sebagai gembong teroris itu lewat pak Mis. Abu Bakar hanya mengenal nama Ariel namun tidak pernah bertemu wajah.

“Oh ini toh Ariel? Saya hanya tahu namanya saja,” kata Abu Bakar Ba’asyir dalam buku “Kisah Lainnya” Catatan 2010-2012, Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David, seperti dikutip dari JPNN.
Read more of this post

Apakah Syariat Islam Membolehkan Berhubungan Intim dengan Budak Wanita?

Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI,Malang-Jawa Timur

{وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} [المؤمنون: 5 – 7]

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mukminun; 5-7)

Budak dalam ayat tersebut memang bermakna hamba sahaya, yakni orang yang belum merdeka. Budak wanita yang dimiliki dengan sah secara syar’i dalam hukum Islam boleh disetubuhi sebagaimana istri tanpa akad nikah.

Terjemahan “budak” sebenarnya diambil dari lafadz ” مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ” . Lafadz مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ secara harfiah sebenarnya bermakna “yang dimiliki oleh tangan kanan mereka” karena lafadz Aiman adalah bentuk jamak dari kata Yamin yang bermakna tangan kanan. Setelah itu, lafadz ini dipakai sebagai ungkapan yang memberi makna kepemilikan budak.
Read more of this post

Arti Salaf menurut bahasa dan Istilah

Arti Salaf Menurut Bahasa

Salafa Yaslufu Salfan artinya madla (telah berlalu). Dari arti tersebut kita dapati kalimat Al Qoum As Sallaaf yaitu orang – orang yang terdahulu. Salafur Rajuli artinya bapak moyangnya. Bentuk jamaknya Aslaaf dan Sullaaf.

Dari sini pula kalimat As Sulfah artinya makanan yang didahulukan oleh seorang sebelum ghadza’ (makan siang). As salaf juga, yang mendahuimu dari kalangan bapak moyangmu serta kerabatmu yang usia dan kedudukannya di atas kamu. Bentuk tunggalnya adalah Saalif. Firman allah Ta’ala

فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِّلْآخِرِينَ
“dan kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian” (Az Zukhruf :56)

Artinya, kami jadikan mereka sebagai orang – orang yang terdahulu agar orang – orang yang datang belakangan mengambil pelajaran dengan (keadaan) mereka. Sedangkan arti Ummamus Saalifah adalah ummat yang telah berlalu. Berdasarkan hal ini, maka kata salaf menunjukan kepada sesuatu yang mendahului kamu, sedangkan kamu juga berada di atas jalan yang di dahuluinya dalam keadaan jejaknya.
Read more of this post

Penjelasan Dari Nahdalatul Ulama (NU), Para Ulama Salafus salih, WaliSongo, 4 Mahzab Tentang Bid’ahnya Tahlilan

Segala puji bagi Allah, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana. Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran. Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits:

“Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514)
Read more of this post

Sejarah Kalender Masehi

Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tanggal dan bulan mereka mengambil kalender bangsa Romawi yang disebut kalender Julian (yang tidak akurat) yang telah dipakai sejak 45 SM, mereka hanya menetapkan tahun 1 untuk permulaan era ini. Perhitungan tanggal dan bulan pada Kalender Julian lalu disempurnakan lagi pada tahun pada tahun 1582 menjadi kalender Gregorian. Penanggalan ini kemudian digunakan secara luas di dunia untuk mempermudah komunikasi.

Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) berasal dari bahasa Arab (المسيح), yang berarti “yang membasuh,” “mengusap” atau “membelai.” .(Al-Masih dalam bahasa Arab berarti yang Pembaptis, mengusap atau membelai, berasal dari kata “masaha”. Dalam bahasa Ibrani dikenal dengan istilah Mesias/Mesiakh yang berarti yang diurapi atau juru selamat. Dalam kedatangannya ke-2 kali Isa dianggap sebagai hakim dunia di hari penghakiman.
Nabi Isa dalam al Quran adalah al-Masih.[1] Ada sebuah pemakaian lagi nama Al Masih dalam Islam yaitu Al Masih Dajjal yang kedatangannya menjadi pertanda datangnya hari kiamat).

Dalam bahasa Inggris penanggalan ini disebut “Anno Domini” / AD (dari bahasa Latin yang berarti “Tahun Tuhan kita”) atau Common Era / CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan “Before Christ” / BC (sebelum [kelahiran] Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum Era Umum).

Sejarah
Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih karena itu kalender ini dinamakan menurut Yesus atau Masihiyah. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8. Penghitungan kalender ini dimulai oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus (atau “Denis Pendek”) dan mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma.
[sunting]

Dikutip dari id.wikipedia.org pada 9 Romadhon 1433 H.
Read more of this post

Beginilah Pemikiran Liberal


“Dari sekian banyak daftar ketidakkreatifan generasi pasca-Muhammad, yang paling mencelakakan adalah pembukuan Qur’an dengan dialek Quraisy, oleh Khalifah Usman Ibn Affan yang diikuti dengan klaim otoritas mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbas dari sikap Usman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya militerisme nalar Islam untuk tunduk/mensakralkan Qu’an produk Quraisy. Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”
(Jurnal Justisia, Fakultas Syariah sebuah Institut Agama Islam, Edisi 23 Th XI, 2003).

”Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”
(Wawancara seorang guru besar agama Islam di Jakarta, dengan Jurnal Perempuan edisi Maret 2008, dengan judul ”Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia)

“Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda.”
(Tulisan seorang alumnus Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah, yang kini Kandidat Doktor di Boston University AS, dalam bukunya, Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif).

Penulis: Adian Husaini

Dikutip dari insistnet.com pada 5 Romadhon 1433 H.

Sejarah Dewan Masjid Indonesia (DMI)

SEJARAH BERDIRINYA DEWAN MASJID INDONESIA (DMI)
Dewan Masjid Indonesia (DMI) didirikan oleh 8 organisasi Kemasjidan, yaitu;

Ikatan Masjid dan Mushalla Indonesia (IMAMI)
Persatuan Masjid Indonesia (PERMI)
Ikatan Masjid Indonesia (IKMI)
Majelis Takmiril Masjid Muhammadiyah Hai ah Tak’miril Masjid Indonesia (HTMI)
Ikatan Masjid dan Mushalla Indonesia Muttahidah (IMMIM)
Majelis Kemasjidan Al-Washliyah Majelis Kemasjidan Majelis Dakwah Islamiyah (MDI).

Organisasi kemasjidan dirintis oleh para ulama, zuama antara lain :
1. KH.Taufiqrahman
2. May-Jend. H. Sudirman
3. Jend.Polisi (purn) H.Sutjipto Judodihardjo
4. Kol. H. Karim Rasyid
5. Brig.Jend.Raharjo dikromo
6. Kolonel.H.Soekarsono
7. H.Syarbaini Karim dan lain-lain

Dengan tekad dan harapan DMI menjadi organisasi kemasyarakatan dan wahana komunikasi pengelola masjid seluruh Indonesia yang melaksanakan gerakan dakwah, serta menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pembinaan aqidah, ibadah, akhlak, ukhuwah, keilmuan, ketrampilan dan kesejahteraan umat.

Pada tanggal 1O Jumadil Ula 1392 H. bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1972 akhirnya dibentuklah organisasi Dewan Masjid Indonesia dengan asas Islam dan bersifat sebagai organisasi independen yang mandiri dan tidak terkait secara struktural dengan organisasi sosial kemasyarakatan dan organisasi sosial politik manapun.

Disadur dari dmibdg.blogspot.com pada 5 Romadhon 1433 H.

HUKUM BERAMAL DENGAN HADITS DHOIF (LEMAH)

Hukum Beramal dengan Hadits Dhoif (Lemah)
Asy Syaikh DR. Abdul Karim Al Khudhair-hafizhahullahu-
(alih bahasa : Abu Shafwan Al Munawy)

Asy Syaikh Al Muhaddits Al Faqih Dr. AbdulKarim bin Abdullah Al Khudhair –hafidzahullahu ta’ala- (Anggota Haiah Kibar Ulama dan Komite Tetap untuk Fatwa KSA) ditanya :

“Apa hukum berdalil dan beramal dengan hadits dhoif?”

Beliau menjawab :

Segala puji hanya bagi Allah Azza wa Jalla, Adapun hukum beramal dengan hadits dhoif maka perlu perincian sebagai berikut :

1. Beramal dengan hadits dhoif dalam masalah aqidah hukumnya tidak boleh berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama Islam).
2. Beramal dengan hadits dhoif dalam masalah hukum-hukum fiqh; jumhur ulama berpendapat tidak membolehkannya.
3. Beramal dengannya dalam masalah fadhail (keutamaan amal), tafsir, dan sirah Nabi; jumhur ulama berpendapat bolehnya berdalil dengan hadits dhoif pada masalah-masalah ini dengan beberapa syarat dan batasan :
– Sisi dhoif (cacat), haditsnya tidak terlalu lemah.
– Hadits dhoif tersebut memiliki dasar hukum dalam syariat.
– Ketika beramal dengannya, tidak boleh meyakini bahwa hadits itu berasal dari Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam- akan tetapi ia hendaknya mengamalkannya hanya sebagai sikap kehati-hatian.

Imam Nawawi dan Mula ‘Aly Qory –rahimahumallah- telah menukilkan tentang ijma’nya para ulama atas bolehnya beramal dengan hadits dhoif dalam fadhoil ‘amal, akan tetapi ini tidak benar karena sebagian para ulama menyelisihi hal tersebut diantara mereka adalah Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnul ‘Araby, Asy-Syaukani, dan Al Albaniy –rahimahumullah- dan pendapat inilah (tidak bolehnya beramal dengan hadis dhoif dalam fadhoil ‘amal) yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim –rahomahumallah- serta pendapat ini juga telah diisyaratkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim –rahimahumallah-.

Oleh karena itu, berdasarkan pendapat ini maka tidak boleh beramal dengan hadits dhoif dalam semua permasalahan agama tanpa terkecuali, dan boleh disebutkan namun hanya sebagai pelajaran. Ibnul Qoyyim juga mengisyaratkan bahwa hadits dhoif mungkin bisa dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan salah satu dari dua pendapat yang sama-sama kuat. Namun pendapat yang benar adalah bahwa Hadis dhoif tidak boleh diamalkan/dijadikan dalil selama tidak adanya keyakinan akan adanya hadits lain yang menguatkannya sehingga dapat mencapai derajat hadits hasan lighoirihi. Wabillahi At Taufiq.

(sumber : http://www.almoslim.net/node/51854)

Disadur dari markazassunnah.com pada 24 Sya’ban 1433 H./15 Juli 2012 Milady.