Kemenangan Jokowi dan Babak Baru Politik Identitas

jkwOleh: Muhlis H. Pasakai

KPU secara resmi menetapkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang pilpres 2014 pada tanggal 22 Juli 2014. Berdasarkan Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor: 535/Kpts/KPU/Tahun 2014 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014, pasangan Jokowi-JK unggul dengan perolehan suara 53,15 % dari pasangan Prabowo-Hatta yang mengumpulkan suara 46,85% dari suara sah nasional. “Perang dingin” di media dan jejaring sosial yang selama ini menggelinding panas pun mencapai klimaksnya dengan kemenangan di gerbong Jokowi-JK.

Read more of this post

Mendamaikan Budaya dengan Syariat

DamaiOleh: Muhlis H. Pasakai

Dalam sebuah perbincangan singkat, kami menyinggung sekilas tentang tradisi dan kebudayaan rakyat. Hal itu karena bertepatan dengan kehadiran saya di salah satu lembaga pemerintahan tingkat Desa untuk sebuah urusan administrasi, juga diperbincangkan adanya surat masuk yang ditujukan kepada Kepala Desa, berisi permohonan izin untuk menggali informasi salah satu budaya setempat yang dianggap diambang kepunahan. Surat itu bersumber dari sebuah sekolah menengah atas yang meminta kepada salah seorang warga di desa tersebut yang dianggap kapabel sebagai narasumber untuk menjadi informan bagi siswa-siswinya seputar tradisi dan ritual budaya masyarakat yang dimaksud dalam surat tersebut.

***

Read more of this post

Kritik atas puisi dan sastra

Oleh: Muhlis H. Pasakai
puisi
Judul ini tentu saja tidak dapat disandingkan dengan buku “Kritik atas Puisi Puisi Indonesia” yang ditulis oleh seorang penyair dan juga novelis Sides Sudyarto DS dengan membedah 35 puisi karya-karya penyair Indonesia. Adapun tulisan ini hanya merupakan kekhawatiran penulis yang dapat terjadi pada karya sastra khususnya puisi. Sekaligus menjadi pertimbangan bagi para sastrawan pemula maupun yang kawakan, itupun jika merasa sepakat dengan ulasan singkat ini. Jika tidak, anggap saja tulisan ini adalah amatan orang awam yang tak paham sastra.
Read more of this post

Kucing Sakit dan Seuntai Belas Kasih

Oleh: Muhlis H. Pasakai kucing Kucing itu mewarnai keindahan tekstur kehidupan di tengah-tengah keluargaku, ia terkadang menggemaskan dengan segenap tingkah yang dimilikinya. Sayang ia menderita sakit sejak beberapa hari ini. Entah penyakit apa yang diderita kucing berbulu halus hitam putih itu, tapi yang pasti ia susah bernafas karena dahak memenuhi kerongkongannya, hidungnya pun berdarah akibat dahak yang mengering di ujung indera penciumnya itu. Ia kini kurus, bulunya yang dulu lembut dan cantik kini tak dapat lagi dibersihkannya, makanan yang disajikan pun tak lagi sanggup dicicipi akibat luka-luka di ujung moncongnya. Singkat kata, kucing itu sepertinya tinggal menanti waktu untuk meninggalkan kenangan lucu bersama kami. Read more of this post

Topi

topiOleh: Uban Pamungkas

Topi itu sudah kusam, disekitarnya ditutupi sejumlah kotoran dan sejenis sarang laba-laba. Ia sedang tergantung disalah satu sisi rumahku bersama barang-barang setengah rongsokan lainnya. Topi itu telah lama tak kulihat, ternyata ia sedang menyendiri menunggu kerusakan totalnya atau dibuang bersama sampah.

Melihat itu, aku menjadi iba, aku segera membersihkannya, lalu mencucinya untuk kuabadikan gambarnya di depan kamera. Topi itu mungkin kualitasnya sudah tidak tinggi lagi, tapi ia sangat berharga bagiku karena dapat bercerita tentang sebuah kisah. Kisah sekitar tujuh tahun yang lalu, saat aku memulai hidup di kota metropolitan guna menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Read more of this post

Bias-bias Gugur Bunga

bgOleh: Muhlis H. Pasakai

“Aku akan berhenti menulis, jika getar nadi di jariku berhenti berdetak. Jika tak sanggup kutinggalkan kemerdekaan, brigade huruf-huruf yang kurangkai akan menyerbu benteng-benteng penjajahan”: Uban Pamungkas

Belum tunai selangit cita mengobarkan teriakan takbir, namun jika langkah harus terhenti sampai disini, kalimat ini akan menjadi warisan terakhirku sebagai cendera mata pertarungan belum usai.

Kalimat ini bukan slogan propaganda zaman pergerakan 45. Ini adalah jiwa dari selongsong huruf-huruf yang telah kutumpahkan diatas permukaan putih. Beribu benteng didepan akan ditaklukkan, namun perjalanan tak kan pernah usai hingga kaki di peristirahatan abadi.

Read more of this post

Kentut Bombastis

kenOleh: Muhlis H. Pasakai

Bukan TI-A (1) jika tak ramai, kacau, ribut, hura-hura bawaannya. Aku banyak belajar tentang sebuah kehidupan darinya. Disinilah aku hidup dengan orang-orang yang berbeda karakter, berlainan keyakinan, dan kecenderungan serta identitas yang rupa-rupa.

Hidup di sebuah komunitas berwarna seperti ini sangat berharga mengajarkan kepada kita arti sebuah toleransi, namun sekaligus menguji keandalan konsistensi kita terhadap warna kita sendiri. Suasana pelangi seperti ini adalah hal baru dalam hidupku, sebab masa SMA belum seheterogen ini. Dibalik kemilau warna yang silau itu, kami dapat mewarnai satu permukaan yang dapat merangkul kami dalam kehangatan.

Read more of this post

Ponder dan Jargon-jargonnya

PONDEROleh: Uban Pamungkas

Jargon atau slogan merupakan sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sebuah kelompok organisme atau individu. Slogan-slogan itu merupakan bahasa yang dapat mencerminkan pemiliknya. Bahkan, dapat menjadi artileri dalam sebuah pergerakan. Semboyan-semboyan dapat menjadi rantai sejarah dalam sebuah fase kehidupan, entah itu namanya akronim, peribahasa, pepatah, adagium atau berbagai tirisan kosa kata yang mengandung makna, kendati sampai hari ini penulis belum pernah menemukan buku yang secara khusus menyajikan hal tersebut. Oleh karena itu, menarik sekiranya ada yang berminat melakukan studi sejarah tentang sebuah bangsa, organisasi, atau paguyuban bersama slogan-slogan trademarknya itu. Sebagai contoh: ing madya mangun karsa, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, ubi societas ibi justicia, mali siparappe rebba sipatokkong hingga istilah-istilah ofensif seperti Manikebu dan sebagainya. Adakah hasil studi yang mengurai asal muasal, maksud dan semangat yang dibawa rentetan kata-kata itu serta kaitannya dengan kondisi sosial dan geo-politik.?

Read more of this post

Umar

Oleh: Muhlis Pasakai

images5Bukan Umar bin Khattab, bukan pula Umar bin Abdul Aziz, dua tokoh monumental yang dikenang dalam sepanjang sejarah kaum Muslimin.

Buku itu berjudul “Himpunan Hadist Teladan Sohih Muslim”. Aku membuka lembaran-lembaran tua itu untuk memperkaya literaturku. Di halaman terakhir kutemukan sebaris tulisan pena, “Buku ini pemberian Ust. Umar”. Memoriku segera meluncur pada sosok Imam Masjid Al Munawwarah yang menghadiahkan buku itu padaku belasan tahun yang lalu, sang Umar yang kukenal dengan keteguhan dan kesabarannya. Kenangan lain juga segera menyusul, sebuah buku tebal terjemahan “Nailul Authar” yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan tahun 1979 dan beberapa lembar majalah, peninggalan buku-buku yang sempat kudapatkan di rumah beliau seizin istrinya, sayang aku terlambat, beberapa kitab-kitab kontemporer yang dimilikinya telah habis dibagi oleh anak cucu dan keluarganya.

Read more of this post

Seorang Bapak

kartun-marah-2Oleh: Muhlis H. Pasakai

Beberapa hari yang lalu, sebuah pesan singkat kukirim kepada salah seorang sahabat lama. Menanyakan kabar serta aktivitasnya. Dalam komunikasi yang singkat itu, saat kutanya soal aktivitas mengajarnya, ia menginformasikan sebuah kabar buruk. Salah seorang diantara siswanya meninggal dunia secara tragis setelah mengakhiri hidupnya dengan meminum pestisida. Innaa liLLahi wa innaa IlaiHi Raaji’uun.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, siswa tersebut bunuh diri disebabkan karena konflik yang terjadi antara dirinya dengan ayahnya.

Gejala sosio-psikologis yang timbul akibat hubungan antara seorang anak dengan bapaknya memang mungkin belum pernah mendapat perhatian khusus dalam tinjauan yang serius.

Read more of this post

Ayam Penguasa

gambar-kartun-lucu-ayam-jantanOleh: Muhlis H. Pasakai

Sebagaimana bunyi hukum rimba, yang kuat dialah yang berkuasa. Nampaknya itulah yang sedang berlaku pada masyarakat ayam di bawah kolong rumahku.

Disini, suasana seperti itu biasa. Sebuah pemandangan natural yang dapat menjadi terapi kesehatan, khusunya bagi yang nafsu makannya sedang menurun. Di teras rumahku, makan sambil menghirup udara segar, dikelilingi pepohonan hijau nan rindang, tiupan angin pegunungan yang menyapa ramah, dan pemandangan alam yang indah nun jauh disana. Ditambah lagi, setiap menyantap makanan, suasana pasti menjadi meriah dengan irama suara ayam yang memperebutkan makanan yang jatuh. Stress, beban pemikiran dan pening-pening segera terlupakan saat menikmati suasana kampung yang sejuk di teras gubuk reokku.

Ada yang menarik sejak lama mengundang perhatianku, yaitu ketika makanan yang jatuh diperebutkan oleh hiruk pikuk bangsa ayam. Dimanapun, sebuah komunitas ayam pasti memiliki seekor penguasa. Ayam jantan yang menjadi penguasa itulah yang akan bertindak seenaknya pada ayam-ayam lainnya.

Read more of this post

Sisi lain dari mesum, selingkuh atau skandal seks lainnya

Oleh: Muhlis H. Pasakaiimages (4)

Menjelang akhir tahun Miladiyah, sebentar lagi catatan sejarah akan diabadikan di sepanjang tahun 2013 ini. Mulai dari prestasi yang membanggakan hingga kasus-kasus memalukan yang membelit negeri ini.

Daftar pelanggaran hukum, kasus korupsi serta peristiwa-peristiwa ekonomi dan sosial politik lainnya boleh jadi mewarnai “catatan akhir tahun” itu. Jika perbuatan mesum dan kawan-kawannya masih dianggap sebagai perbuatan tercela, maka tidak boleh tidak ia juga harus turut ambil bagian sebagai peristiwa yang memalukan di negeri ini.

Sepanjang tahun 2013 ini, tidak sedikit kasus yang bernuansa skandal “cabul” yang dimuat di berbagai media. Mulai dari kabar yang menyeret figur hingga pelajar-pelajar lokal.

Gejala penyimpangan yang selalu menghantui ini tak pernah habisnya untuk dibicarakan. Mulai dari perjuangan konstitusional, sosialisasi hingga seminar-seminar dan demonstrasi telah tersentuh untuk membentuk ramuan penangkalnya.

Telah banyak terungkap latar belakang terjadinya peristiwa senonoh itu berikut solusinya, dari aspek sosiologis hingga psikologis. Tulisan ini akan bercerita sedikit dari bagian ini, yang mungkin tidak mendapat tempat yang banyak untuk dibicarakan. Apa itu?

Read more of this post

Cinta Pertama dan Misteri Kemah Berjalan

images (2)Oleh: Muhlis H. Pasakai

Dua belas digit angka itu telah kuhafal mati. Kuulang-ulang dengan cermat kukira salah tindis.

“The number you‘re calling is not active or out of coverage area, please try again in a few minutes”.

Akun jejaring sosialmu pun tak ada lagi yang dapat diakses. Kucari semua ejaan serupa, tak ada lagi namamu.

Gelap menyelimuti ruang-ruang dihatiku. Kucari titik cerah engkau masih setia. Aku berusaha tegar menanti kabarmu. Bayangmu kini lebih nyata, kerinduanku kutumpahkan pada sejumlah halaman album kecil, foto-foto yang kau hadiahkan sehari sebelum berangkat.

Aku serius dengan ikrar yang kau pecahkan dibibirmu. Kau setia dipenantian yang panjang.

  Read more of this post

MUTIARA HARGA CAKAR; Potret Murahnya Harga Sebuah Kecantikan

financial_stressOleh: Muhlis H. Pasakai

Cepetan…ikut gak.?

Iya entar, tunggu..tunggu..

Lama banget sih dandannya.!”

Iya dong, biar cowo-cowo pada naksir”

Hemm..jeans baru ya.?, singset banget”

Iya iyalah, hari gini pake rok, mau dilirik siapa?”

Inilah petikan percakapan fiksi yang merefleksikan gejala sosial keremajaan yang sedang meluncur menuju lembah kegelapan.

Gairah di usia remaja memang sedang mendidih untuk meluapkan perasaannya. Semua bentuk keindahannya akan dieksploitasi untuk memperkokoh identitas femininnya. Mereka yang enggan dibatasi oleh norma agama akan membengkak menumpahkan ekpresinya. Disambut oleh modernisasi yang melesat cepat mengendalikan corak aktualisasinya. Hak Asasi Manusia membentuk payung tempat mereka bernaung. Nilai-nilai sosial yang permisif meningkatkan imunitasnya dari sorotan spiritual. Nilai-nilai agama menjadi ompong tak bernyali, ditinggalkan dan dicampakkan bak rongsokan sampah.

Gayung bersambut. Langgam sosial yang alergi terhadap kaidah-kaidah agama akan menumbuh suburkan kebebasan. Otomatis, kehidupan yang serba bebas menjadi rentan terhadap penetrasi heterogenitas budaya asing. Nilai-nilai lokal yang kontra terhadap arus kebebasan ini terus ditekan untuk disingkirkan dari gelanggang interaksi sosial. Kebebasan serta-merta menjamur menjangkiti seluruh klaster kehidupan masyarakat. Dalih kebebasan semakin menguat seiring distorsi intelektual, seakan kebebasan berpikir menjadi ciri tradisi ‘ilmiah.

Read more of this post

Pesan Hati-hati Dibalik Sebuah NIP

syirikOleh: Muhlis H. Pasakai

Perjalanan hidup seorang anak manusia berawal dari sebuah cita-cita, angan-angan dan segenap impian dipeluknya erat-erat.

Fase kehidupan yang panjang melewati masa transisi yang beragam. Tak sedikit yang menggugurkan cita-cita masa kecilnya, karena melihat dunia luar yang keras.

Melompat jauh ke alam kekinian. Manusia tumbuh seiring perubahan sosial. Dari sebuah masa dapat berbeda dengan masa kini. Dari cara pandang hingga kebutuhan-kebutuhan praktis dapat mengalami pergeseran. Manusia dituntut lentur mengalir diatas kontur sosial yang dinamis.

Seiring dinamika kehidupan manusia, seluruh aspek kehidupan dipaksa terseret oleh arus perubahan. Namun tidak semua sisi kehidupan harus mengalir menuju hilir, sebab ada tonggak-tonggak asas yang tetap menancapkan kekuatannya.

Ada sebuah fenomena sosial yang menarik untuk diamati. Sebuah gelombang pemujaan terhadap profesi. Di seluruh lapisan masyarakat saat ini mendambakan profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Tak ada salahnya memang memilih karir sebagai abdi negara, namun kerangka mindset dan kultur pencapaiannya yang menurut penulis harus detelaah secara proporsional.

Read more of this post